‘Kringggg kriinnggg..’ “Sabar
dong,ikh!” Gerutu seorang gadis berambut pendek seperti layaknya rambut
laki-laki,sambil berlari kecil menuruni anak tangga,dan ‘Gubrak’ dia tersandung,“Sial,aduh.. kaki gue ya
Tuhan..” Keluhnya dan lagi-lagi ‘Kriiinngg,kriingg’ “Ya ampun SABAR DONG!!” Teriaknya pada benda
mati yg berbunyi sedaritadi yg mengganggu aktivitasnya pagi ini. Bergegas
berdiri dan menuju telpon rumahnya yg sedaritadi membuatnya kesal, “Halo..
siapa ni?” Katanya tegas. “Ni, gue Dandy,Dhin” Begitulah jawaban anak laki-laki
yg menelpon diseberang sana,seketika mata gadis bernama Dhini itu berbinar dan
mengubah nada bicaranya, “Oh,ehm ada apa,Dan?” kata gadis itu lembut sambil
senyum-senyum.”Hari ini ada pertemuan climber , lu bisa gak dateng nemenin gue?”
Hah? Serius nih Dandy ngajak gue ke pertemuan anak climbing? Pikir Dhini dalam
hati, “Ehm,tapikan gue bukan anak climbing,gue anak shuffle..” kata Dhini.”Gak
apa-apa lagi,udah mau aja ya.?” Tanya laki-laki itu, “Tunggu,kenapa lo nggak
ngajak Chika aja,diakan suka sama lo lagi dan..” Katanya mengelak namun
sebenarnya Dhini mau,hanya berbasa-basi aja sama Dandi, “Ehm,enggak akh,menurut
gue ,lebih enak jalan sama lo,Dhin.” Kata Dandi, dengan kalimat itu sukses
tambah membuat wanita yg sedang menerima telpon darinya berdebar-debar dan
rasanya mungkin semacam
ngefly.
^SKIP^
Di suatu pertemuan climber, “Wey,siapa nih? Pacar lo ya? Mana pajak jadiannya bro!” kalimat itu terlontar dari seorang laki-laki yg sebaya dengan Dandi namanya Beni,kata itu membuat wajah Dhini yg sedaritadi senyum dan tertawa akibat lawakan Dandi yg lucu,akhirnya berubah menjadi BT dan gak mood lagi buat bercanda,dia melirik Beni sekilas dan pergi meninggalkan Beni dan Dandi disitu.”Mau kemana,Dhin?” tanya Dandi menarik tangan Dhini,dia menoleh dan “Gue mau pulang!” Kata Dhini kasar dan pergi menyetop taksi.Saat dia memandang keluar jendela taksi,dia melihat mungkin ada sedikit rasa kekecewaan pada hati Dandi,tersirat jelas diwajahnya yg menatap kosong laju taksi yg Dhini naiki mulai cepat dan berlalu. Saat Dhini bersantai didalam taksi yg sedang melaju menuju kediamannya,tiba-tiba terdengar alunan lagu ‘Same Mistakes-nya One Direction’ ya itu nada dering yg menandakan bahwa Iphone Dhini ada panggilan masuk,dirogohnya saku jaketnya,dan dia mendapati nama ‘Arin’ menelpon. “Hem,” Katanya bermalas-malasan menjawab telpon dari Arin, “Dhin,lo dimana sekarang? Kerumah Tyas dong sekarang kita lagi pada ngumpul nih.” Serentetan kata itu keluar dari mulut mungilnya,ternyata bukan Arin tetapi Tyas,Dhini menghela napas panjang ‘baru aja jalan mau pulang,udah ada undangan lagi,hhh’ gumam Dhini sendiri yg sebenarnya tidak ia tujukan pada sahabatnya Tyas,tapi sepertinya Tyas mendengarnya, ”Lo baru pulang dari mana,Dhin? Wah,lo jalan sama cowok ya,Dhin?” 2 kalimat pertanyaan itu sukses membuat Dhini teringat Dandi,wajahnya, tawanya, senyumnya, lawakan, dan lainnya,dan pada saat yg bersamaan juga Dhini teringat perkataan teman Dandi yg menurut Dhini perkataan itu menjijikan, ‘Pacar’ dia sekarang sensitif pada kata itu entah sejak kapan,dia menjauhi cinta, membiarkan perasaannya terluka karena menyimpan rasa cinta yg kian lama kian berkembang seiring kedekatannya dengan Dandi, tanpa Dandi mengetahuinya,bahwa dia telah lama memendam rasa ini untuk Dandi,hanya Dandi! “Iya,gue abis jalan tadi sama Dandi dipertemuan climber,sebenernya gue nggak mau,eh dipaksa yaudah gue ikut,trus tapi Cuma bentaran doang.” Tanpa disadari kata2 itu keluar dengan mulus dari mulut Dhini sendiri,spontan dia menutup mulutnya karena kelepasan ngomong, lalu Dhini dengan cepat melanjutkan perkataannya pada Tyas sebelum Tyas ngoceh kayak burung kakatua “Yaudah ya,jangan bilang sama Chika ya pliss,lo gamaukan kita kayak dulu?& gue kesana sekarang” Kata Dhini hati-hati. Dan menututup teleponnya. “Aduh apaan lagi sih ni,kenapa gue bisa salah ngomong gini,!!” Gerutunya setelah keluar dari taksi dan menendang kaleng root beer-nya dijalanan,Dhini memang berniat kerumah Tyas tapi Dhini memutuskan kerumah Tyas setelah dia makan dirumah dia akan naik motor Satria-nya untuk kerumah Tyas sekitar 1jam lagi.-SKIP- “Welcome to my house!” Seru Tyas bahagia karena akhirnya Dhini datang ketika Tyas,Arin& Chika mengundang untuk berkumpul walaupun terlambat 1jam.Tapi bagi Dhini telat atau enggak itu gampang yg penting judulnya ‘datang’, “Hem,perasaan kata sambutan yg terdenger stiap gue dateng kerumah lo belum ada perubahan ya?” Kata Dhini dengan tatapan meledek bercanda dan seraya masuk duduk disofa yg empuk diruang tengah dan meletakan tasnya bersamaan dengan badan ringannya yg bisa dibilang ramping tapi sehat sispack-lah kalo dibilang anak muda sekarang.Tedengar tawa dari Tyas diikuti Arin,tapi tidak dengan Chika,Dhini merasa aneh, dan dia cepat sekali menemukan jawaban dalam pikirannya bahwa Chika sedang sensitif gara-gara tadi pagi Dia jalan dengan Dandi,Ya Tuhan, apakah mereka memberi tau kpd Chika tentang hal tadi pagi? Itulah pertanyaan dalam hati Dhini sekarang yg dia tujukan pada mereka namun dalam hati hanya dapat berbisik tidak dapat berterus terang karena percuma saja masalahnya akan rumit jika dibahas sekrang.”Jadi,apa yg kita bahas kali ini?” Kat Dhini seraya membuka topik baru agar tidak canggung, “Gak ada sih,kita Cuma mau ngumpul2 aja,” Jawab Arin sambil terus memainkan rambut kitingnya, Chika masih saja terdiam,dia seperti melamun memandang luar jendela,hem.. sejenak ada perasaan tak Dhini pada sahabatnya Chika, dia seperti tak tega jika setiap kali jalan dengan Dandi harus melukai sahabatnya sendiri,padahal sebisa mungkin Dhiini mencoba menjauhkan perasaan dan mengubur dalam2 mimpinya untuk mendapaatkan Dandi demi Chika,tapi sia-sia dia selalu terhasut karena rayuan Dandi. Tapi apa boleh buat semua sudah terjadi pikirnya. “Gue mau pipis,Tyas anterin yuk.” Kata Arin yg mulai memegangi baju Tyas dengan penuh harap ditemani kekamar mandi, lalu mereka berdua berlalu,dan tinggalah Dhini dan Chika disana hanya saling diam tidak menatap satu sama lain, “Spertinya gara-gara cowok lagi,” Sindir Dhini sambil menatap luar Jendela. “Ketidak setiakawanan!”Katanya dengan lembut tapi menusuk hati,Dhini berbalik dan menatap tajam kearah Chika dan mengepal kedua tangannya sendiri,itu pertanda bahwa Dhini akan siap bertengkar dengan Chika, “Maksud lo apaan??” Bentak Dhini dengan amarah yg meluap-luap,Chika balas manatap tajam kepada Dhini, “Ya,lo itu PENGKHIANAT!!” Katanya lantang yg membuat Dhini sedikit kaget, lalu Dhini tiba-tiba tersenyum seperti senyuman mengejek “Hah? Gasalah denger tuh? Gue pengkhianat? Ya,ampun,pasti Cuma gara2 gue jalan sama Dandi? Iya? Kasian banget ya nasib lo,Dandi lebih milih gue daripada LO!!” Ucapannya membuat Tyas dan Arin yg mengumpat dibelakang buffet,tercengang tak luput pula Chika yg mulai tak percaya perkataan Dhini yg ditujukan padanya, “Elo..” Chika tak percaya Dhini mengatakan itu,setaunya setiap Chika marah pada Dhini, Dhini selalu berkata maaf,karena jika pada sahabat2nya ini Dhini berusaha menahan amarahnya, walaupun tomboi dia tetap berhati lembut paada orang yg dia sayanginya,siapa lagi kalo bukan sahabat2nya,juga Dandi mungkin? “Sorry ya,gue gaktahan harus selalu ngalah dan ngalah,semua orang termasuk gue gabisa diatur seenak jidat lo!” Ucap dhini lembut tapi menusuk, Chika terkaget dan menunduk dengan segera Dhini melesat keluar dan pergi tanpa pamit pada tuan rumah.
-SKIP-
@Rumah-
Ditendangnya pintu kamar hingga membuat suara yg lumayan keras, ya Dhini telah mengepal tangannya kuat kuat dan seperti sudah siap untuk melayangkan tinjunya pada orang yg mengganggu ketenangannya hari ini untuk menyendiri, saat dia melihat map biru diatas meja belajarnya dia teringat suatu hal, “Sial,gue lupa minggu depan pemilihan Ketua OSIS gue belom nyiapin apa2 buat program yg mau gue jalanin, ya ampun!” Umpatnya sambil segera merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk dan menyalakan TV. –SKIP- *Pemilihan ketua OSIS* Program Dhini cukup memikat siswa2 disekolah itu,dan mulai tertarik untuk memilih Dhini sebagai Ketua OSIS,akhirnya Dhini terpilih sebagai Ketua OSIS sedangkan wakilnya Adyn alfira, ya dia sebagian dari geng musuhnya Dhini yg diketuai Renata si anak sombong dan tajir itu,dia sllu cari masalah pada Dhini, entah mengapa setiap Dhini mengeluarkan usul ditolak mentah2 ya, memang Renata hanya sekertaris OSIS tapi dia sudah berlaku sprti pengganti Dhini,padahal Dhini tidak mengundurkan diri. Sampai suatu hari Dhini datang dirapat OSIS yg bersifat penting Kepsek juga hadir dan rekan2 lainnya, Dhini sedikit bergetar mengenai apa yg dia pikirkan,dia sedang mencerna semua kata2 Renata tempo hari, “Kalo gue jadi lo,mendingan sih gue gausah aktif apa2 disuatu aktivitas,jabatan,bahkan bergaul sekalipun, ya gue sih mikir aja,kayaknya selalu aja salah ya,jadi lo!!” Dhini kembali mengepal tangannya dan siap meninju loker yg ada didepannya sekarang, karena kata2 Renata selalu terngiang didalam pikirannya,tiba2 seseorang menepuk pundaknya, dia menoleh dan memberi senyum seadanya, “Ketua OSIS udah siap rapat? Saya selalu ada disamping anda kapanpun dibuthkan!” Kata seseorang laki2 itu sambil tertawa geli dengan perkataannya sendiri pada Dhini, dan Dhini terkekeh melihat sikap anak laki2 itu padanya, “Dan, berangkat sekarang yuk.”,ajaknya pada laki2 tadi,ya anak laki2 itu Dandi, -SKIP- Beberapa bulan telah berlalu, Dhini sekarang bukan lagi ketua OSIS ya,posisinya telah digantikan oleh Adyn, dia telah mengundurkan diri, sekarang Dhini hanya memandang lurus kertas2 soal TO hari ini, ya hari ini dia menjalan Try Out unutk memeprsiapkan diri menghadapi UN nanti, dia memainkan rambutnya yg sudah panjang melebihi bahunya,rambutnya cepat tumbuh, dia sudah merapikan semua peralatannya, dia memang sangat pandai B.inggris karena Ayahnya memiliki aksen inggris yg kental dan menurun pada Dhini,mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dia memang terlihat seperti orang inggris asli tanpa mix budaya, yg membuatnya berbeda dengan orang inggris asli adalah kulitnya yg tidak berminyak dan rambutnya yg halus karena dia terbebas dari daging babi ya dia memang muslim. Dhini kembali memainkan rambtnya sampai tak sadar bahwa Dandi sedaritadi mencuri pandang sambil tersenyum terpesona melihat wanita pujaannya sedang melamun amatlah indah.
-SKIP-
ngefly.
^SKIP^
Di suatu pertemuan climber, “Wey,siapa nih? Pacar lo ya? Mana pajak jadiannya bro!” kalimat itu terlontar dari seorang laki-laki yg sebaya dengan Dandi namanya Beni,kata itu membuat wajah Dhini yg sedaritadi senyum dan tertawa akibat lawakan Dandi yg lucu,akhirnya berubah menjadi BT dan gak mood lagi buat bercanda,dia melirik Beni sekilas dan pergi meninggalkan Beni dan Dandi disitu.”Mau kemana,Dhin?” tanya Dandi menarik tangan Dhini,dia menoleh dan “Gue mau pulang!” Kata Dhini kasar dan pergi menyetop taksi.Saat dia memandang keluar jendela taksi,dia melihat mungkin ada sedikit rasa kekecewaan pada hati Dandi,tersirat jelas diwajahnya yg menatap kosong laju taksi yg Dhini naiki mulai cepat dan berlalu. Saat Dhini bersantai didalam taksi yg sedang melaju menuju kediamannya,tiba-tiba terdengar alunan lagu ‘Same Mistakes-nya One Direction’ ya itu nada dering yg menandakan bahwa Iphone Dhini ada panggilan masuk,dirogohnya saku jaketnya,dan dia mendapati nama ‘Arin’ menelpon. “Hem,” Katanya bermalas-malasan menjawab telpon dari Arin, “Dhin,lo dimana sekarang? Kerumah Tyas dong sekarang kita lagi pada ngumpul nih.” Serentetan kata itu keluar dari mulut mungilnya,ternyata bukan Arin tetapi Tyas,Dhini menghela napas panjang ‘baru aja jalan mau pulang,udah ada undangan lagi,hhh’ gumam Dhini sendiri yg sebenarnya tidak ia tujukan pada sahabatnya Tyas,tapi sepertinya Tyas mendengarnya, ”Lo baru pulang dari mana,Dhin? Wah,lo jalan sama cowok ya,Dhin?” 2 kalimat pertanyaan itu sukses membuat Dhini teringat Dandi,wajahnya, tawanya, senyumnya, lawakan, dan lainnya,dan pada saat yg bersamaan juga Dhini teringat perkataan teman Dandi yg menurut Dhini perkataan itu menjijikan, ‘Pacar’ dia sekarang sensitif pada kata itu entah sejak kapan,dia menjauhi cinta, membiarkan perasaannya terluka karena menyimpan rasa cinta yg kian lama kian berkembang seiring kedekatannya dengan Dandi, tanpa Dandi mengetahuinya,bahwa dia telah lama memendam rasa ini untuk Dandi,hanya Dandi! “Iya,gue abis jalan tadi sama Dandi dipertemuan climber,sebenernya gue nggak mau,eh dipaksa yaudah gue ikut,trus tapi Cuma bentaran doang.” Tanpa disadari kata2 itu keluar dengan mulus dari mulut Dhini sendiri,spontan dia menutup mulutnya karena kelepasan ngomong, lalu Dhini dengan cepat melanjutkan perkataannya pada Tyas sebelum Tyas ngoceh kayak burung kakatua “Yaudah ya,jangan bilang sama Chika ya pliss,lo gamaukan kita kayak dulu?& gue kesana sekarang” Kata Dhini hati-hati. Dan menututup teleponnya. “Aduh apaan lagi sih ni,kenapa gue bisa salah ngomong gini,!!” Gerutunya setelah keluar dari taksi dan menendang kaleng root beer-nya dijalanan,Dhini memang berniat kerumah Tyas tapi Dhini memutuskan kerumah Tyas setelah dia makan dirumah dia akan naik motor Satria-nya untuk kerumah Tyas sekitar 1jam lagi.-SKIP- “Welcome to my house!” Seru Tyas bahagia karena akhirnya Dhini datang ketika Tyas,Arin& Chika mengundang untuk berkumpul walaupun terlambat 1jam.Tapi bagi Dhini telat atau enggak itu gampang yg penting judulnya ‘datang’, “Hem,perasaan kata sambutan yg terdenger stiap gue dateng kerumah lo belum ada perubahan ya?” Kata Dhini dengan tatapan meledek bercanda dan seraya masuk duduk disofa yg empuk diruang tengah dan meletakan tasnya bersamaan dengan badan ringannya yg bisa dibilang ramping tapi sehat sispack-lah kalo dibilang anak muda sekarang.Tedengar tawa dari Tyas diikuti Arin,tapi tidak dengan Chika,Dhini merasa aneh, dan dia cepat sekali menemukan jawaban dalam pikirannya bahwa Chika sedang sensitif gara-gara tadi pagi Dia jalan dengan Dandi,Ya Tuhan, apakah mereka memberi tau kpd Chika tentang hal tadi pagi? Itulah pertanyaan dalam hati Dhini sekarang yg dia tujukan pada mereka namun dalam hati hanya dapat berbisik tidak dapat berterus terang karena percuma saja masalahnya akan rumit jika dibahas sekrang.”Jadi,apa yg kita bahas kali ini?” Kat Dhini seraya membuka topik baru agar tidak canggung, “Gak ada sih,kita Cuma mau ngumpul2 aja,” Jawab Arin sambil terus memainkan rambut kitingnya, Chika masih saja terdiam,dia seperti melamun memandang luar jendela,hem.. sejenak ada perasaan tak Dhini pada sahabatnya Chika, dia seperti tak tega jika setiap kali jalan dengan Dandi harus melukai sahabatnya sendiri,padahal sebisa mungkin Dhiini mencoba menjauhkan perasaan dan mengubur dalam2 mimpinya untuk mendapaatkan Dandi demi Chika,tapi sia-sia dia selalu terhasut karena rayuan Dandi. Tapi apa boleh buat semua sudah terjadi pikirnya. “Gue mau pipis,Tyas anterin yuk.” Kata Arin yg mulai memegangi baju Tyas dengan penuh harap ditemani kekamar mandi, lalu mereka berdua berlalu,dan tinggalah Dhini dan Chika disana hanya saling diam tidak menatap satu sama lain, “Spertinya gara-gara cowok lagi,” Sindir Dhini sambil menatap luar Jendela. “Ketidak setiakawanan!”Katanya dengan lembut tapi menusuk hati,Dhini berbalik dan menatap tajam kearah Chika dan mengepal kedua tangannya sendiri,itu pertanda bahwa Dhini akan siap bertengkar dengan Chika, “Maksud lo apaan??” Bentak Dhini dengan amarah yg meluap-luap,Chika balas manatap tajam kepada Dhini, “Ya,lo itu PENGKHIANAT!!” Katanya lantang yg membuat Dhini sedikit kaget, lalu Dhini tiba-tiba tersenyum seperti senyuman mengejek “Hah? Gasalah denger tuh? Gue pengkhianat? Ya,ampun,pasti Cuma gara2 gue jalan sama Dandi? Iya? Kasian banget ya nasib lo,Dandi lebih milih gue daripada LO!!” Ucapannya membuat Tyas dan Arin yg mengumpat dibelakang buffet,tercengang tak luput pula Chika yg mulai tak percaya perkataan Dhini yg ditujukan padanya, “Elo..” Chika tak percaya Dhini mengatakan itu,setaunya setiap Chika marah pada Dhini, Dhini selalu berkata maaf,karena jika pada sahabat2nya ini Dhini berusaha menahan amarahnya, walaupun tomboi dia tetap berhati lembut paada orang yg dia sayanginya,siapa lagi kalo bukan sahabat2nya,juga Dandi mungkin? “Sorry ya,gue gaktahan harus selalu ngalah dan ngalah,semua orang termasuk gue gabisa diatur seenak jidat lo!” Ucap dhini lembut tapi menusuk, Chika terkaget dan menunduk dengan segera Dhini melesat keluar dan pergi tanpa pamit pada tuan rumah.
-SKIP-
@Rumah-
Ditendangnya pintu kamar hingga membuat suara yg lumayan keras, ya Dhini telah mengepal tangannya kuat kuat dan seperti sudah siap untuk melayangkan tinjunya pada orang yg mengganggu ketenangannya hari ini untuk menyendiri, saat dia melihat map biru diatas meja belajarnya dia teringat suatu hal, “Sial,gue lupa minggu depan pemilihan Ketua OSIS gue belom nyiapin apa2 buat program yg mau gue jalanin, ya ampun!” Umpatnya sambil segera merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk dan menyalakan TV. –SKIP- *Pemilihan ketua OSIS* Program Dhini cukup memikat siswa2 disekolah itu,dan mulai tertarik untuk memilih Dhini sebagai Ketua OSIS,akhirnya Dhini terpilih sebagai Ketua OSIS sedangkan wakilnya Adyn alfira, ya dia sebagian dari geng musuhnya Dhini yg diketuai Renata si anak sombong dan tajir itu,dia sllu cari masalah pada Dhini, entah mengapa setiap Dhini mengeluarkan usul ditolak mentah2 ya, memang Renata hanya sekertaris OSIS tapi dia sudah berlaku sprti pengganti Dhini,padahal Dhini tidak mengundurkan diri. Sampai suatu hari Dhini datang dirapat OSIS yg bersifat penting Kepsek juga hadir dan rekan2 lainnya, Dhini sedikit bergetar mengenai apa yg dia pikirkan,dia sedang mencerna semua kata2 Renata tempo hari, “Kalo gue jadi lo,mendingan sih gue gausah aktif apa2 disuatu aktivitas,jabatan,bahkan bergaul sekalipun, ya gue sih mikir aja,kayaknya selalu aja salah ya,jadi lo!!” Dhini kembali mengepal tangannya dan siap meninju loker yg ada didepannya sekarang, karena kata2 Renata selalu terngiang didalam pikirannya,tiba2 seseorang menepuk pundaknya, dia menoleh dan memberi senyum seadanya, “Ketua OSIS udah siap rapat? Saya selalu ada disamping anda kapanpun dibuthkan!” Kata seseorang laki2 itu sambil tertawa geli dengan perkataannya sendiri pada Dhini, dan Dhini terkekeh melihat sikap anak laki2 itu padanya, “Dan, berangkat sekarang yuk.”,ajaknya pada laki2 tadi,ya anak laki2 itu Dandi, -SKIP- Beberapa bulan telah berlalu, Dhini sekarang bukan lagi ketua OSIS ya,posisinya telah digantikan oleh Adyn, dia telah mengundurkan diri, sekarang Dhini hanya memandang lurus kertas2 soal TO hari ini, ya hari ini dia menjalan Try Out unutk memeprsiapkan diri menghadapi UN nanti, dia memainkan rambutnya yg sudah panjang melebihi bahunya,rambutnya cepat tumbuh, dia sudah merapikan semua peralatannya, dia memang sangat pandai B.inggris karena Ayahnya memiliki aksen inggris yg kental dan menurun pada Dhini,mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dia memang terlihat seperti orang inggris asli tanpa mix budaya, yg membuatnya berbeda dengan orang inggris asli adalah kulitnya yg tidak berminyak dan rambutnya yg halus karena dia terbebas dari daging babi ya dia memang muslim. Dhini kembali memainkan rambtnya sampai tak sadar bahwa Dandi sedaritadi mencuri pandang sambil tersenyum terpesona melihat wanita pujaannya sedang melamun amatlah indah.
-SKIP-
Dhini selalu mendapat peringkat pertama dari setiap hasil TO ,Tak jarang banyak yg iri dengannya,apalagi Renata dan gengnya, sampai hari ini pula ia tidak berhubungan dengan para sahabatnya, Arin,Tyas,dan Chika karena insiden yg penyebabnya tak salah lagi Renata & her geng, akibat Dhini yg beberapa hari lalu saat liburan untuk menghadapi TO pertama dia jalan dengan Dandi ke gramed utk membeli keperluan TO dan buku yg berisi soal2 UN tahun lalu,/prediksinya, saat siang Dhini tidak lapar tapi Dandi merayunya agar bisa mampir ke sebuah restaurant atau semacamnya, akhirnya mereka hanya makan eskrim di cafe magnum, tiba2 mata Dhini seperti terkena debu dia tidak meminta Dandi utk meniup matanya tapi Dandi melakukannya sendiri,tanpa sepengetahuan mereka ber2 si Renata &her geng Renata mengmbil gambar mereka berdua,dan mengeposnya dan Renata juga mengada2 cerita singkatnya berbohong setiap hari utk memanas- manasi shbt Dhini, ya begitulah akhirnya mereka menjauhi Dhini, Dhini juga tidak ambil pusing, sebab setelah lulus Dhini akan diambil Ayahnya utk mengurus perusahaan lampu mereka di cabang ke14 tepatnya di Italia,
-SKIP
UN Dimulai hari ini Siswa2 mengerjakan soal dengan tenang ..
–SKIP-
*sampai akhir UN* Dhini pulang dengan jalan gontai menuju parkiran mobilnya dihalaman gerbang sekolah , dia hari ini tidak dijemput dan diijinkan membawa mobil sendiri, dan dia melihat Dandi menghampirinya “Dhin,hari ini kan udah selesai semua beban kita& tinggal nunggu hasil, bisa nggak lo temuin gue nanti malem di Cafe kemang?” Dhini sepontan menoleh dan menatap penuh tanya, Dandi tersenyum “Ada One thing yg sangat penting Dhin” Dhini mengangguk. –SKIP-- Dhini gak percaya Dandi menyatakan perasaannya ke Dhini namun dia bingung apakah Chika akan menghancurkan hub. Dia & Dandi jika mereka pacaran? Dhini belum ngasih jawabannya, Dandi ngasih wkt 1 minggu utk berpikir.. hingga Dhini udah mantap ingin mnrima Dandi dan bekerja bersama diItalia nanti, dia akan ketemuan dgn Dandi diCafe yg sama.SKIP—Dhini resah sudah 2jam menunggu tapi Dandi tak kunjung datang –SKIP- tak percaya dengan semua yg terjadi Bahwa Dandi kecelakaan dijalan Tol tadi dan dibawa ke R.S *sensor* -SKIP—Di R.S ada teman2 yg se-kubu dengan Dandi yg mulai sedih dan ada... Arin,Tyas,Chika dan Renata &her geng, kedua gerombolan cewek itu menghampiri Dhini, dan Chika melempar sekotak berbentuk love dan dilapis berwarna keemasan, dan menatap bertanya. “Tuh,makan tuh! Gara2 lo Dandi sekarang disini,yakan? Lo yg nyuruh dia buru2 ke Cafe itu!” kata2 itu mncul pertama dari bibir Chika dengan taatapan tajam, diikuti yg lain, pertengkaran itu menyayat hati Dhini,terasa perih dan Tyas sahabatnya sempat menamparnya karena Dandi adalah saudara Tyas, Dhini nggak tau kalo akan jadi begini, Dia selalu salah dan disalahkan..
Dhini
menatap nanar batu nisan didepannya,dan berlutut memeluk batu nisan itu “Dan,gue
juga sayang sama elo,maafin gue Dan gabisa jaga elo, ini semua salah gue, semuanya salah gue!” Kata Dhini yg
sedaritadi terisak, “Gue gaakan lupain lo meski ntar gue jauh diseberang benua
sana.Gue harus berangkat Dan, maafin gue, Love u dan” Katanya dan mulai
berjalan kemobil ayahnya,
-SKIP-
Dhini tau,kalau semuanya emang udah terlambat Renata sekarang sudah satu geng dengan mantan sahabatnya, gak ada gunanya meminta maaf, tapi ia berjanji akan jadi lebih baik setelah menjalani kehidupan barunya di ITALIA, dia menerawang jendela Pesawat yg belom lepas landas, dia tersenyum dan berkata “Goodbye,Indonesia,Love you, bekas sahabatku aku janji akan mmemperbaiki kesalahanku setelah ini, dan aku gak akan menjadi ‘salah’ dan selalu ‘salah’ didepan kalian lagi,lihat saja nanti ketika kita bertemu kembali.”
-SKIP-
Dhini tau,kalau semuanya emang udah terlambat Renata sekarang sudah satu geng dengan mantan sahabatnya, gak ada gunanya meminta maaf, tapi ia berjanji akan jadi lebih baik setelah menjalani kehidupan barunya di ITALIA, dia menerawang jendela Pesawat yg belom lepas landas, dia tersenyum dan berkata “Goodbye,Indonesia,Love you, bekas sahabatku aku janji akan mmemperbaiki kesalahanku setelah ini, dan aku gak akan menjadi ‘salah’ dan selalu ‘salah’ didepan kalian lagi,lihat saja nanti ketika kita bertemu kembali.”
----END----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar