I'm Taken with Zayn
WRITER WANNABE HERE :)


Selasa, 14 Agustus 2012

Cerpen "Aku Sayang Kakak Seperti Apapun" by @RealNabilla_

                Udara malam hari yg dingin menerpa wajahku yg sedang asyik memandang pemandangan kebun strawberry milik Bibi Ana,aku gatau pikiranku melayang kemana sekarang, yang jelas pikiranku melayang tentang bagaimana akhirnya besok aku akan kembali lagi kerumahku, tempat orang tuaku berada,tempat dimana aku bersekolah,dan selalu diolok2 tentang latar belakang kakak tercintaku.Rasa enggan merasuki jiwaku ingin meronta untuk memohon belas kasihan pada kedua orangtuaku agar mereka membeli sebuah rumah disini,didaerah ini,bukan disana, aku tidak menginginkannya,aku tidak ingin tinggal disana. Ingin sekali menangis dan berteriak sekeras2nya,tapi aku nggak bisa melakukan itu,bener-bener nggak bisa.
                “Gie,bangun dong!!” Terdengar suara Zaky,kakak laki2 ku membangunkanku sambil mengguncangkan tubuhku yg terkulai diatas kasur busa milik Anjel,ya semenjak aku berlibur kesini aku memang numpang dikamar Anjel, dan Anjel memang udah gak menempati kamar ini karena dia sekarang kerja diLondon sebaagai karyawan pembuat jam tangan merek Rolek disebuah kota diLondon dan otomatis dia tinggal disana. Mataku setengah terbuka namun masih tidak sadar sepenuhnya, aku mngerjapkan mata beberapa kali lalu duduk disamping kak Zaky yg memandangku dan mengelus rambutku tulus setulus kasih sayangnya sama aku adik kesayangannya selama ini. Aku tersenyum,aku bingung,disaat yg bersamaan aku menganggap diriku paling beruntung didunia mempunyai kakak seperti kak Zaky dan keluarga yg utuh, tapi disaat ini juga aku merasa aku wanita paling sial didunia ini karena gagal mempertahankan hubunganku dengan Kak Gilang alasan aku menyebutnya kak Gilang karena aku berpacaran dengan senior yg 2th lebih tua dariku. “Dek,kok bengong?” Aku kaget,lamunan sesaatku buyar,Kak Zaky tersenyum “Ayo,cepetan mandi nanti kitakan shalat Subuh berjamaah dulu,gih.” Perintahnya lembut padaku,akupun mengangguk dan beranjak dari kasur busa yg menarikku seperti magnet untuk tidur dan terlelap dalam mimpi sekali lagi.Saat aku selesai mandi aku sedang menggosok-gosok rambutku denga handuk supaya cepat kering,dan aku menoleh pada kasur busa tadi dan kulihat Kak Zaky terlelap,aku tersenyum melihatnya tertidur pulas, aku mengambil mukena dan bersiap kebawah untuk sholat berjamaah bersama Ibu dan Bibi Ana juga Kak Zaky dan Paman Arso, aku disuruh Ibu membangunkan Kak Zaky yg sedang terlelap dalam mimpi,aku beranjak keatas menuju kamar.Kulihat kak Zaky tertidur pulas sekali,aku tau pasti dia sangat lelah harus melakukan semuanya sendiri, mulai dari mengantar jemput aku kesekolah,ya semenjak Supir kami membawa kabur mobil kami,jadilah Ibu dan Ayah belum ada keberanian menyewa seseorang untuk jadi supir lagi, belum lagi jika aku ada acara dengan teman teman pastilah yg mengantar,menjemput,memastikan bahwa aku baik baik saja diacara tsb Kak Zaky, Trus kalo Ibu minta mudik kayak gini kerumah sanak saudara yg jaraknya sangat jauh,ya Kak Zaky yg menangani semuanya, kata Kak Zaky dia nggak bisa liat Ibu atau aku sedih dan selalu nurut perkataan Ayah dia nggak mau juga ngecewain Ayah, dia rela kayak gini asal Kami bahagia, aku jadi terharu sendiri mengingat semua perlakuan Kak Zaky sama aku,Ayah dan Ibu . Dia paling berjasa,dia paling berperan,dia paling prhatian didalam keluarga kecilku ini,namun diatas segala2nya ya tentu saja Tuhan yg Maha ESA yg paling berjasa,berperan,perhatian dan segalanya dalam hidup kami.Masih banyak peran Kak Zaky dalam keluarga kami, namun aku gak bisa menyebutkannya satu satu .Rasa enggan membangunkan Kak Zaky meraupi diriku, akhirnya aku hanya mematung didepannya sambil tersenyum melihatnya tertidur.Tiba2 terdengar suara Ibu memanggil,dan reflek aku langsung menuju kak Zaky dan mengguncangkan bahu Kak Zaky “Kak,bangun kak,katanya mau sholat berjamaah gimana sih?” Kataku dan perlahan mata kak Zaky terbuka dia tersenyum dan langsung duduk, “Iya aku bangun.” Aku terkekeh geli melihat rambutny acak2an tapi tetep ganteng, saat aku hendak beranjak kebawah kak Zaky tiba2 memegang tanganku dan berkata “Kamu tadi udah wudhu?” aku mengangguk, “Wudhu lagi ya,jangan lupa.” Katanya namun aku diam dan bingung,aku kan satu darah kenapa harus wudu lagi saat aku hendak menanyakannya seperti sudah tau pertanyaanku kak Zaky langsung berbicara “Takutnya tadi kena iler aku,hahah..” Katanya tertawa sambil mencubit pipiku aku tersenyum seadanya, “Jayus ah, “ Aku pergi meninggalkannya dan dia berteriak “Dek,awas loh kalo enggak wudhu lagi,aku gamau nemenin kamu keacara2 temen2mu lagi.” Katanya mengancam sambil menunjukan jari telunjuknya menandakan itu peringatan yg sangat harus dipatuhi aku terkekeh dan berlaga takut.”Kok lama banget sih,Gie?” Tanya Ibu padaku saat aku mengenakan mukenaku,aku menoleh dan hendak menjawab tiba2 Kak Zaky yg menjawab “Maaf,Bu tadi aku ketiduran jadi Anggie lama banguninnya.” Katanya dan duduk disamping Paman Arso, Ibu tersenyum “Yasudah yuk sekarang kita mulai sholatnya ” .Selesai sholat aku menuju kamar untuk mempersiapkan semua barang2ku agar tidak ada yg ketinggalan nanti. Pintu kamarku terbuka kulihat Kak Zaky sedang mengecek aku ngapain, dia tersenyum dan menghampiriku. Aku jadi sedih jika harus kembali bersekolah, aku nggak mau kembali menjalani hidupku dijakarta,aku mau disini selamanya kalo bisa diperkampungan yg damai ini. Kak Zaky memegang daguku tetapi kulihat ada sedikit keraguannya untuk melakukan hal itu,namun akhirnya dia memegang daguku juga, “Kamu nggak mau pulang ya?” ngga kusadari buliran air mataku mengalir dipipiku, aku menggeleng,tanda nggak mau pulang, Kak Zaky tersenyum dan mengusap airmataku, “Jangan nangis adekku..” katanya seraya mendekapku dalam pelukan hangatnya yg selalu menenangkanku dalam situasi apapun. Aku bingung kenapa kak Zaky nggak nanya alesan aku nggak mau pulang. “Kok kakak nggak nanya kenapa aku nggak mau pulang?” Kak Zaky diem aja,nggak ngerespon,aku masih dalam dekapannya,aku nggak puas,”Kak? Tanya dong!” Kataku kesal, “Iya,kenapa kamu nggak mau pulang?” Katanya yg membuat hatiku lega ,aku melepas dekapannya,aku duduk bersila berhadapan dengan Kak Zaky, mungkin dia sedikit bingung apa yg akan aku katakan hingga menjadi seserius ini. Aku menghela nafas panjang, dia memperhatikan aku dengan serius, “Kak..” suaraku tercekat ditenggorokan,rasanya aku ingin menangis sepuasnya dalam dekapannya, aku merasa tertekan dengan semua ini, semua olokan teman2ku disekolah tentang dirinya, “Kenapa?” katanya santai, “Kakak kenapa betah tinggal dijakarta? Kenapa kak? Kenapa juga kakak selalu sabar dan sabar kalo diperolok sama teman2 satu kelasku/yg lainnya, aku gak bisa terima kak, rasanya aku gakuat harus dengerin mereka setiap hari dengan diam,aku nggak bisa liat kakak digituin,aku sayang kakak,aku cinta kakak,aku gamau kakak sakit hati ,, hiks hiks hiks..” Kataku dengan menahan tangis,tapi sia2 pertahananku runtuh untuk tidak nangis,aku menangis, terisak, sakit hati, sakit banget rasanya ngejelasin ini semua, kak Zaky langsung memelukku dalam dekapannya, “Kamu tau gak? Kenapa kakak nggak pernah ambil pusing semua ini? Semua olokan temen kamu? Karena kakak sayang kamu, sayang banget,Gie.Kakak gamau ngelukain temen kamu, kakak juga gak merasa sakit hati kok,tenang aja Gie. Jangan nangis lagi ya,kakak sayang kamu kok,Kalo kamu beneran sayang sama kakak kamu harus kuat jalanin semuanya, kamu harus jadi anak rajin yg taat pada Tuhan,agama,orangtua.” Katanya menjelaskan dengan lembut sambil mengusap punggungku, aku mengangguk, aku tersenyum karena semua ketulusan kejelasan kak Zaky dan dekapannya membuat suasana hatiku teduh, saat aku menoleh aku seperti melihat Ibu dibalik pintu, aku berlari kearah pintu untuk memastikan apakah itu Ibu,tapi sudah nggak ada,aku menoleh keara kak Zaky “Iya tadi ada Ibu.” Lagi2 kak Zaky ngejelasin sebelum aku tanya. “Apa Ibu denger ya,yg tadi aku ngomong sama Kakak?” aku bertanya lagi . “Ehmm.. nggak tau deh,udah ah,kakak mau ngerapihin barang kakak juga dikamar,kamu jangan sedih lagi ya?” Aku tersenyum dan mengangguk semangat. “Inget loh,kalo sedih berarti kamu benci dan gasayang sama kakak.” Katanya dan berlalu pergi.
                Jam 8 pagi aku udah siap dimeja makan untuk sarapan jam 9 kami (aku,Ibu,dan Kak Zaky) akan pulang ke Jakarta.Aku makan dimasakin sama Ibu dan Bibi Ana opor ayam tapi hanya ku aduk2 dan gak kumakan,aku gak nafsu makan, aku masih enggan meninggalkan tempat ini, kak Zaky menyikut ku dengan siku nya,aku menoleh kesebelah kananku ya kak Zaky duduk disebelah kananku, aku tersenyum dan menggeleng pertanda aku nggak mau makan, kaka Zaky tersenyum dan menyuapi aku dengan nasi yg dipiringnya, aku melihatnya sejenak dan memakannya, Ibu terlihat senang, dia tersenyum dan mengacungkan jempolnya kearah aku dan kak Zaky, “Waduh,Anggie kayak anak kecil aja disuapin sama Kak Zaky,” Komentar Bibi Ana keluar,disertai tawa Paman Arso dan Ibu, aku tersipu malu, namun kak Zaky hanya tersenyum.Selesai makan kami berbincang sebentar dan berterima kasih pada Bibi Ana dan Paman Arso lalu kami pulang kejakarta.Diperjalanan nggak ada yg bicara sedikitpun susasana jadi akwward, akhirnya aku merasa ngantuk dan tertidur. “Bu,apa gak sebaiknya kita pindah aja seperti kemauan Anggie?” Kak Zaky memulai pembicaraan ketika aku tertidur padahal aku masih bisa mendengar percakapan mereka. “Ibu bingung,nggak tau juga ya,tapi ya Ayahkan kerjaannya ada disana semua,kalo kita pindah ya gimana nanti kerjaan Ayah buat ngasih biaya keperluan sehari2.” Kata Ibu,Kak Zaky terdiam lama sekali hingga akhirnya mengeluarkan suaranya “Iya,aku tau Bu gimana keadaannya,aku ngerti,Cuma aku kasian aja sama Anggie,Bu.” Kata Kak Zaky lembut. “Ibu juga kasian sama Adikmu.” Kata Ibu singkat,dan dilanjutkan dengan cepat “Tapi,ya kamu hati2 kalo bersikap Zak,jgn sampe adikmu tau yg sebenernya..” Katanya,Sepertinya kak Zaky Cuma mengangguk, aku bingung apa yg dirahasian Ibu dan kak Zaky dari aku? Aku harus tau.Sore hari aku terbangun, saat aku membuka mataku kulihat kak Zaky sedang makan roti dan Ibu sedang membaca majalah, seperti ada perasaan kak Zaky menoleh kearahku sepertinya dia punya perasaan yg peka terhadapku karena biasa bersikap protektif sama aku. “Kamu mau makan dek?” Katanya sambil mengulurkan sekotak roti dari holand bakery, aku menggeleng, “Loh,kenapa? Apa mau makan nasi aja?” Katanya masih membujukku untuk makan, aku menggeleng lagi, dan sekarang Ibu yg menoleh kearahku, “Sayang,ayo dong tadi Kak Zaky udah bela2in balik lagi kesebuah toko buat beliin kamu makanan dan roti ini looh.” Kata Ibu menjelaskan, aku diem aja “Yaudah kalo gamau gak apa2,Bu jangan dipaksa.” Kata Kak Zaky lembut sambil ngusap kepalaku, aku senang kak Zaky selalu mengerti apa mauku,mungkin dia pernah mengalami masa sepertiku, mungkin sih aku gak tau pasti, kak Zaky jarang banget yg namanya nyeritain masa kecilnya, kadang2 Ibu pengen nyeritain masa kecil kak Zaky tapi pasti kak Zaky nggak ngebolehin,jadi Ibu juga gapernah cerita masa kecil Kak Zaky deh. Aku yg semula tiduran dibelakang mobil langsung duduk dan mengambil HP ku untuk menghubungi temanku Susi bahwa aku sebentar lagi sampai Jakarta, kalo dihitung2 aku sudah hampir seminggu lebih gak mainin HP ku, selesai kukirim pesanku kepada Susi aku tiduran lagi sekitar 45 menit berselang kami sampai di Jakarta tepat sore hari sekitar ba’da ashar, aku masih terlelap, aku merasa nggak ada yg bangunin aku, aku kira aku bakalan ditinggal didalam mobil, ternyata kak Zaky gak tega membangunkanku dia menggendongku sampai kelantai 2 kamarku. Dia meletakanku diKasur springbed ku, dia tidak mengecup keningku seperti layaknya kakak kepada adik kesayangannya, padahal akulah satu2nya adik kesayangannya tapi dia tetap duduk disamping kasurku dia mengelus kepalaku,dia tersenyum dan sepertinya dia juga bergumam ‘Dek,andai aja kamu tau.’ Dan dia mematikan lampu kamarku dan berlalu. Aku masih nggak bisa membuka mataku aku masih terlalu lelah mungkin besok pagi aku akan bangun dengan mata segar karena enggak terjaga saat tengah malam,seperti malam2 dulu,tapi perkiraanku salah aku memimpikan mimpi buruk lagi rutinitas ku saat tengah malam diJakarta,dirumahku,  dikamar ini, aku mimpi buruk lagi,aku menjerit sekeras2nya ‘Jangannn Kaaakkk jangan pergiiii!!!!!!!!!!’ Lalu terdengar derap langkah kaki yg terburu2 dan ‘cklek’ itu bunyi pintu kamarku dan lampu nyala benderang, hujan deras dengan halilintar yg menyambar, bunyinya nyaring semakin lengkap ketakutanku malam ini pada mimpi itu. “Anggie,bangun,Gie? Kamu kenapa? Gie bangun!” Kak Zaky mengguncang tubuhku,ya dialah yg selama ini membangunkan ku dari mimpi burukku setiap tengah malam berlangsung. Aku terlonjak bangun dan memeluk Kak Zaky,aku menangis sejadi-jadinya, aku mencengkram erat piama nya, tanpa menanya apa yg aku mimpikan malam ini pasti kak Zaky udah tau, “Kamu mimpi itu lagi,Gie?” Tanyanya mengusap rambutku dan mencium ubunku, aku mengangguk, “Kak,jangan pernah tinggalin aku yaa..” Kataku dengan suara bergetar,Kak Zaky melepas pelukanku dan menghadapkan ku berhadapan dengannya,dia memandangku dengan penuh khawatir, “Iya,kakak ga akan ninggalin kamu,Gie.” Kata kak Zaky dengan mata berkaca2 aku tau kak Zaky nggak mungkin nangis didepan aku,aku tau kak Zaky lebih tegar daripada aku, aku tau segalanya tentang kak Zaky aku tau sebab dialah Kakak ku,orang yg selalu perhatian, sayang,peduli segalanya tentang ku. “Kakak harus janji sama aku.” Pintaku pada kak Zaky, dia terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu,lalu dia mengangguk dan berkata “Aku janji,Gie.” Satu hal yg selalu aku inginkan keluar dari mulut kak Zaky untuk aku,satu kata unuk aku, yaitu memanggilku dengan sebutan ‘sayang’ bukan ‘Gie’ “Kok ngelamun,Gie? Tidur ya? Udah malem.” Perintah kak Zaky lembut dan menidurkanku kembali kekasurku, saat ia mengelus keningku dan hendak beranjak aku segera menarik tangannya, “Katanya,kakak janji gak akan ninggalin aku?” aku menagih janjinya,dia sedikit tertawa kecil dan mengangguk serta beranjak untuk menarik kursi dan duduk disebelah aku tidur.aku terlelap,kuarasakan dia terus memegang tanganku,terus mengusap punggung tanganku dan membelai rambutku.
                Pagi terasa sejuk,kelopak mataku terbuka sedikit demi sedikit, rasa kantuk masih ada dalam diriku,kurasakan ada sesuatu yg menimpa tangan kananku saat kulihat ternyata itu tangan kak Zaky dan dia menepati janji untuk tidak meninggalkanku semalaman, aku merasa lega kak Zaky masih ada disampingku walaupun ia tidur dibangku disampingku, kepalanya terkulai diatas gulingku,ekspresinya tenang,tersirat senyum yg indah diwajahnya. Hari ini aku memang nggak sekolah,karena Ibu udah menelpon guruku untuk izin beberapa hari kedepan, ya aku kelelahan setelah melewati liburan dan berbagai macam perjalanan jauh. “Dek,udah bangun ya?” Suara kak Zaky mengagetkan ku,aku mengangguk, “Gimana tidurnya?” Tanyanya sambil duduk tegak, aku mengangguk untuk kedua kalinya,dia tersenyum dan mengacak2 rambutku, aku pura2 cemberut karena rambutku berantakan, “Pagi-pagi gaboleh ngambek,nanti jadi jelek loh.” Katanya meledekku,aku tertawa dan menjulurkan lidahku, Kak Zaky beranjak dari kursi  “Yaudah,kamu jangan lupa makan ya,mandi juga jangan lupa.” Katanya dan jalan untuk keluar kamarku. “Memang kakak mau kemana?” dia menengok dan tersenyum, “Mau kehatimu..” Katanya ngegombal lalu tertawa dan pergi. Aku mandi dan segera turun kebawah untuk sarapan,kulihat diruang makan sudah ada Ayah,Ibu, dan Kak Zaky. “Waah,, pasti pada nungguin aku ya? Adduh jadi gak enak nih.” Candaku yg bikin semuanya nengok sambil tertawa geli, “Ih,kamu keGRan deh, dek.” Kata Kak Zaky dan aku langsung menyenggol sikunya, Ibu dan Ayah tertawa.Akhirnya kami makan tanpa ada pembicaraan,selesai makan Ayah langsung berangkat kerja,Ibu mengantarnya sampai depan teras rumah,aku menuju keruang TV bersama kak Zaky menonton naruto kali ini, tepat naruto selesai,pintu rumahku diketuk oleh seseorang diluar aku hendak beranjak membuka tapi sudah keburu kak Zaky yg membuka,ternyata ada Susi, “Dek,ada Susi nih,aku tinggal ya.” Setelah berkata begitu kak Zaky langsung naik keatas menuju kamarnya,akupun mengajak Susi untuk mengobrol dikamar saja.”Jadi gimana liuran kamu disana,Gie?” Kata Susi ketika memasuki kamarku dan kupersilakan duduk didepanku dikasur springbed ku,dia duduk,aku mengehela napas, “Kamu beneran pengen tau?” ,dia melirik ku sebentar lalu mengangguk semangat, “Baiklah..” Aku bercerita mulai dari pertama sampai akhir aku sampai diJakarta lagi. Selesai aku bercerita, Susi mengubah posisi duduknya,mungkin karena tulangnya pegel duduk dengan posisi seperti itu selama aku bercerita. “Aku gak bisa bilang apa2 sih,Gie. Tapi yg jelas kamu harus cari tau,harus banget,diwajibiin!” Katanya sambil memegang pundakku. “Tapi aku nggak tau mesti ngapain.” Kataku dan mulai menangis, “Aku terlalu sayang sama Kak Zaky..” Suaraku bergetar,Susi menenangkan ku dalam pelukan hangatnya, sehangat persahabatan kita yg terjalin hampir 8th ini. Aku berhenti menangis,aku berusaha tegar,dan aku rasa aku siap untuk menjalani sekolah untuk minggu depan,itu semua berkat support dari kak Zaky dan Susi merekalah sumber energiku yg membuatku bertahan hingga sekarang,ehm,maksudku bertahan disekolahku,kalau bertahan hidup yg jelas karena Tuhan. Setelah beberapa jam kami bermain ,Susi berpamitan pulang karena udah hampir sore, akupun mandi setelah itu aku berniat kekamar Kak Zaky untuk melihatnya sekedar menyapa,tiba2 aja aku kangen,padahal aku kan setiap hari bertemu. Saat aku selesai mandi,aku menuju kamar Kak Zaky yg terletak didepan kamarku, saat berjalan tiba-tiba aku merasakan denyutan dikepalaku,aku merasa mual,aku pusing,lalu tiba-tiba semuanya gelap dan gelap. Aku masih merasakan denyutan dalam kepalaku aku merasa sangat psuing, mungkin penyakitku kambuh lagi, ya aku menderita kurang darah, aku akan pusing dan pingsan, jika hal itu terjadi berarti aku kekurangan darah. “Anggie,dek bangun dong.. aduhh kamu sakit ya dek?” Suara itu terdengar disampingku,aku merasakan ada yg menggenggam jemariku erat,dan mengusap rambutku, “Kak Zaky, itu kakak?” Tanyaku pada suara itu. “Ini aku Gie,kak Zaky, kakak kamu.” Katanya sepertinya dia menangis, “Kak Zaky ,jangan sedih ya aku Cuma kurang darahkan? Aku kan udah biasa..” Kataku namun airmata ku mengalir,kak Zaky mengusap airmataku dengan tangannya yg lembut.Beberapa jam kedepanpun aku terlelap dalam kamar kak Zaky,tadi aku memang sempat sadarkan diri namun aku ketiduran karena belum bisa berdiri masih membayang jika aku melihat.Kak Zaky enggak tidur,dia terjaga tengah malam ini untuk memastikan aku baik2 saja,ya dan anehnya ku tidak bermimpi buruk lagi,tentang kak Zaky,tentang kak Zaky berpisah denganku,tentang Ibu yg mengusir dan Ayah yg memaki kak Zaky dimimpi ku yg setiap tengah malam membuatku ketakutan. Nggak terasa banget matahari telah muncul memancarkan sinar hangatnya yg masuk kedalam kamar kak Zaky,aku bangun dan melihat 2 helai roti tawar dengan selai strawberry, dan segelas susu coklat hangat, aku tau pasti kak Zaky yg menyiapkannya, tapi hari ini aku sendirian dirumah,karena kak Zaky sekolah,sebenarnya sekolahku dengan kak Zaky satu gedung karena digabung .Tapi aku masih Izin apalagi setelah aku sakit Ibu menelpon sekolahku dan meminta tambahan hari untuk aku karena sakit. Ibu hari ini juga kerja pasti,akhirnya aku tidur2an dikamar saja sampai beberapa jam,hingga akhirnya telepon rumahku berdering.  Taganku bergetar saat ingin mengangkat telpon,entah mengapa aku jadi takut, “Ha..ha lo “ kataku terbata, “Benar ini rumah keluarga Bpk Hary?” “Ya benar.Ada apa ya?” Tanyaku pada sang penelpon, “Tolong beritahu keluarganya/Ibu Bpk.Hary kecelakaan dan kekurangan darah,segera ke R.S sekarang,terima kasih.” Seketika gagang telpon terlepas dari tanganku,aku terduduk lemas didepan meja telpon,Ya Tuhan apalagi ini?cobaan apalagi ini yg kau berikan untukku. Aku menangis dan menjerit sekeras2nya,tiba2 pintu rumahku terbuka,kulihat Kak Zaky dengan mata berkaca2 menghampiriku, “Kakak udah tau tentang Ayah?” Tanyaku sambil memeluknya,dia mengangguk dan menarikku untuk segera ke R.S dengan motor ninjanya.Aku nggak menyangka semua ini terjadi,aku sedih aku nggak bisa ngeliat ini semua terjadi
.
                Sampai di RS aku berlari bersama Kak Zaky, terus,terus,dan terus berlari hingga sampai didepan UGD kulihat Ibu dengan mata yg dibanjiri airmata,dia memeluk aku dan Kak Zaky, lalu dokter keluar dari ruang UGD “Gimana keadaan Ayah saya ,Dok?” Tanya kak Zaky menghampiri dokter itu. “Ayahmu sangat membutuhkan darah,dia sangat banyak mengeluarkan darah,namun di PMI semua darah O sudah habis untuk korban kecelakaan tenpo hari, jika dalam waktu ½ jam tidak ada pendonor darah maka dia tak bisa tertolong,kamu bisakan menyumbangkan darahmu utk ayahmu?” Tanya dokter itu dan membuat Ibu terduduk lemas dilantai kak Zaky hanya memandang aku, Dokter itu memberi isyarat jika mau harus menemuinya. Aku memandang kak Zaky penuh tanya,kenapa kak Zaky nggak langsung bilang iya,kenapa kak? Dalam hatiku bertanya, kak Zaky memeluk Ibu, dan Ibu balas memeluknya, aku masih termangu melihat Ibu dan kak Zaky berpelukan, Aku hendak bertanya tapi mulutkku seperti terkunci, Kak Zaky memelukku akupun balas memeluknya, “Dek,aku bukan kakak kandung kamu..”  Suara kak Zaky bergetar, aku nggak percaya dan melepas pelukan kak Zaky, “Nggak!! Kak Zaky bohong!! Aku nggak percaya,kakak pasti bohong!! Yakan Bu?? Ibu,kak Zaky bohongkan? Dia kakak kandungku kan Bu?” Ibu mendekatiku,dia memelukku erat, dia menggeleng, “Itu bener sayang.” Katanya lembut, aku menggeleng ngga percaya, kakakku yg slalu aku rindu, kakak kesayanganku, kakak yg slalu protektif ke aku, kakak yg care sama aku, kakak yg slalu ADA buat aku, kakak yg bagaikan orangtua,sahabat,sekaligus seperti pacar, ternyata dia bukanlah darah daging Ibu, aku sungguh nggak percaya,SUNGGUH!! .. Akhirnya Ayah nggak tertolong Ayahku, pergi meninggalkan kami semua, meninggalkan dunia ini untuk selamanya, Ayahku,aku akan selalu mengingat Ayah, aku akan menjaga Ibu dan bersikap baik pada kak Zaky walaupun nyatanya dia bukan kakak kandungku, sulit dipercaya..
Aku memandang batu nisan didepanku,aku masih terisak mengingat kenyataan ini, mengingat kak Zaky yg bukan kakak kandungku, tapi kasih sayangnya padaku melebihi kakak kandung yg sebenarnya, kasih sayangnya terus mengalir,seperti Ibu,walau aku tau kasih sayang Ibu,lebih besar dari apapun,.. “Dek,yuk pulang tadi Ibu udah pulang duluan loh..” Kata kak Zaky,dan memegang bahuku lembut, “Jangan sedih lagi,kita ikhlasin apa yg terjadi,biar Ayah tenang,Gie.” Katanya lembut aku terisak dalam pelukan hangatnya,aku mengangguk dan pulang. “Kak..” aku memanggilnya, “Ya, ada apa?’ Katanya lembut saat sedang jalan kaki menuju mobil, “Aku boleh nggak tetep sayang sama kakak?” Kak Zaky tersenyum mendengar aku bicara hitu, “Boleh dong,kakak juga tetep sayang banget deh sama kamu..” Katanya mengecup keningku untuk pertama kalinya, aku memeluknya, “Aku sayang kakak seperti apapun itu.. “ Kataku dan seraya masuk mobil untuk pulang, Ayah lihat,kak Zaky masih tetep sayang sama aku walaupun aku udah tau dia bukan kakak kandungku, aku jga tetep sayang banget sama kak Zaky yah, Ayah harus tenang ya,karena kita disini juga kan baik2 aja karena ada Tuhan yg mengirim seseorang seperti kak Zaky yg ngelindungin aku dan Ibu .
----THE END---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

I'm Taken with Zayn