Udara
malam hari yg dingin menerpa wajahku yg sedang asyik memandang pemandangan
kebun strawberry milik Bibi Ana,aku gatau pikiranku melayang kemana sekarang,
yang jelas pikiranku melayang tentang bagaimana akhirnya besok aku akan kembali
lagi kerumahku, tempat orang tuaku berada,tempat dimana aku bersekolah,dan
selalu diolok2 tentang latar belakang kakak tercintaku.Rasa enggan merasuki
jiwaku ingin meronta untuk memohon belas kasihan pada kedua orangtuaku agar
mereka membeli sebuah rumah disini,didaerah ini,bukan disana, aku tidak
menginginkannya,aku tidak ingin tinggal disana. Ingin sekali menangis dan
berteriak sekeras2nya,tapi aku nggak bisa melakukan itu,bener-bener nggak bisa.
“Gie,bangun
dong!!” Terdengar suara Zaky,kakak laki2 ku membangunkanku sambil
mengguncangkan tubuhku yg terkulai diatas kasur busa milik Anjel,ya semenjak
aku berlibur kesini aku memang numpang dikamar Anjel, dan Anjel memang udah gak
menempati kamar ini karena dia sekarang kerja diLondon sebaagai karyawan
pembuat jam tangan merek Rolek disebuah kota diLondon dan otomatis dia tinggal
disana. Mataku setengah terbuka namun masih tidak sadar sepenuhnya, aku
mngerjapkan mata beberapa kali lalu duduk disamping kak Zaky yg memandangku dan
mengelus rambutku tulus setulus kasih sayangnya sama aku adik kesayangannya
selama ini. Aku tersenyum,aku bingung,disaat yg bersamaan aku menganggap diriku
paling beruntung didunia mempunyai kakak seperti kak Zaky dan keluarga yg utuh,
tapi disaat ini juga aku merasa aku wanita paling sial didunia ini karena gagal
mempertahankan hubunganku dengan Kak Gilang alasan aku menyebutnya kak Gilang
karena aku berpacaran dengan senior yg 2th lebih tua dariku. “Dek,kok bengong?”
Aku kaget,lamunan sesaatku buyar,Kak Zaky tersenyum “Ayo,cepetan mandi nanti
kitakan shalat Subuh berjamaah dulu,gih.” Perintahnya lembut padaku,akupun
mengangguk dan beranjak dari kasur busa yg menarikku seperti magnet untuk tidur
dan terlelap dalam mimpi sekali lagi.Saat aku selesai mandi aku sedang
menggosok-gosok rambutku denga handuk supaya cepat kering,dan aku menoleh pada
kasur busa tadi dan kulihat Kak Zaky terlelap,aku tersenyum melihatnya tertidur
pulas, aku mengambil mukena dan bersiap kebawah untuk sholat berjamaah bersama
Ibu dan Bibi Ana juga Kak Zaky dan Paman Arso, aku disuruh Ibu membangunkan Kak
Zaky yg sedang terlelap dalam mimpi,aku beranjak keatas menuju kamar.Kulihat
kak Zaky tertidur pulas sekali,aku tau pasti dia sangat lelah harus melakukan
semuanya sendiri, mulai dari mengantar jemput aku kesekolah,ya semenjak Supir
kami membawa kabur mobil kami,jadilah Ibu dan Ayah belum ada keberanian menyewa
seseorang untuk jadi supir lagi, belum lagi jika aku ada acara dengan teman
teman pastilah yg mengantar,menjemput,memastikan bahwa aku baik baik saja
diacara tsb Kak Zaky, Trus kalo Ibu minta mudik kayak gini kerumah sanak
saudara yg jaraknya sangat jauh,ya Kak Zaky yg menangani semuanya, kata Kak Zaky
dia nggak bisa liat Ibu atau aku sedih dan selalu nurut perkataan Ayah dia
nggak mau juga ngecewain Ayah, dia rela kayak gini asal Kami bahagia, aku jadi
terharu sendiri mengingat semua perlakuan Kak Zaky sama aku,Ayah dan Ibu . Dia
paling berjasa,dia paling berperan,dia paling prhatian didalam keluarga kecilku
ini,namun diatas segala2nya ya tentu saja Tuhan yg Maha ESA yg paling
berjasa,berperan,perhatian dan segalanya dalam hidup kami.Masih banyak peran
Kak Zaky dalam keluarga kami, namun aku gak bisa menyebutkannya satu satu .Rasa
enggan membangunkan Kak Zaky meraupi diriku, akhirnya aku hanya mematung
didepannya sambil tersenyum melihatnya tertidur.Tiba2 terdengar suara Ibu
memanggil,dan reflek aku langsung menuju kak Zaky dan mengguncangkan bahu Kak
Zaky “Kak,bangun kak,katanya mau sholat berjamaah gimana sih?” Kataku dan
perlahan mata kak Zaky terbuka dia tersenyum dan langsung duduk, “Iya aku
bangun.” Aku terkekeh geli melihat rambutny acak2an tapi tetep ganteng, saat
aku hendak beranjak kebawah kak Zaky tiba2 memegang tanganku dan berkata “Kamu
tadi udah wudhu?” aku mengangguk, “Wudhu lagi ya,jangan lupa.” Katanya namun
aku diam dan bingung,aku kan satu darah kenapa harus wudu lagi saat aku hendak
menanyakannya seperti sudah tau pertanyaanku kak Zaky langsung berbicara
“Takutnya tadi kena iler aku,hahah..” Katanya tertawa sambil mencubit pipiku
aku tersenyum seadanya, “Jayus ah, “ Aku pergi meninggalkannya dan dia
berteriak “Dek,awas loh kalo enggak wudhu lagi,aku gamau nemenin kamu keacara2
temen2mu lagi.” Katanya mengancam sambil menunjukan jari telunjuknya menandakan
itu peringatan yg sangat harus dipatuhi aku terkekeh dan berlaga takut.”Kok
lama banget sih,Gie?” Tanya Ibu padaku saat aku mengenakan mukenaku,aku menoleh
dan hendak menjawab tiba2 Kak Zaky yg menjawab “Maaf,Bu tadi aku ketiduran jadi
Anggie lama banguninnya.” Katanya dan duduk disamping Paman Arso, Ibu tersenyum
“Yasudah yuk sekarang kita mulai sholatnya ” .Selesai sholat aku menuju kamar
untuk mempersiapkan semua barang2ku agar tidak ada yg ketinggalan nanti. Pintu
kamarku terbuka kulihat Kak Zaky sedang mengecek aku ngapain, dia tersenyum dan
menghampiriku. Aku jadi sedih jika harus kembali bersekolah, aku nggak mau
kembali menjalani hidupku dijakarta,aku mau disini selamanya kalo bisa
diperkampungan yg damai ini. Kak Zaky memegang daguku tetapi kulihat ada
sedikit keraguannya untuk melakukan hal itu,namun akhirnya dia memegang daguku
juga, “Kamu nggak mau pulang ya?” ngga kusadari buliran air mataku mengalir
dipipiku, aku menggeleng,tanda nggak mau pulang, Kak Zaky tersenyum dan
mengusap airmataku, “Jangan nangis adekku..” katanya seraya mendekapku dalam
pelukan hangatnya yg selalu menenangkanku dalam situasi apapun. Aku bingung
kenapa kak Zaky nggak nanya alesan aku nggak mau pulang. “Kok kakak nggak nanya
kenapa aku nggak mau pulang?” Kak Zaky diem aja,nggak ngerespon,aku masih dalam
dekapannya,aku nggak puas,”Kak? Tanya dong!” Kataku kesal, “Iya,kenapa kamu
nggak mau pulang?” Katanya yg membuat hatiku lega ,aku melepas dekapannya,aku
duduk bersila berhadapan dengan Kak Zaky, mungkin dia sedikit bingung apa yg
akan aku katakan hingga menjadi seserius ini. Aku menghela nafas panjang, dia
memperhatikan aku dengan serius, “Kak..” suaraku tercekat ditenggorokan,rasanya
aku ingin menangis sepuasnya dalam dekapannya, aku merasa tertekan dengan semua
ini, semua olokan teman2ku disekolah tentang dirinya, “Kenapa?” katanya santai,
“Kakak kenapa betah tinggal dijakarta? Kenapa kak? Kenapa juga kakak selalu
sabar dan sabar kalo diperolok sama teman2 satu kelasku/yg lainnya, aku gak
bisa terima kak, rasanya aku gakuat harus dengerin mereka setiap hari dengan
diam,aku nggak bisa liat kakak digituin,aku sayang kakak,aku cinta kakak,aku
gamau kakak sakit hati ,, hiks hiks hiks..” Kataku dengan menahan tangis,tapi
sia2 pertahananku runtuh untuk tidak nangis,aku menangis, terisak, sakit hati,
sakit banget rasanya ngejelasin ini semua, kak Zaky langsung memelukku dalam
dekapannya, “Kamu tau gak? Kenapa kakak nggak pernah ambil pusing semua ini?
Semua olokan temen kamu? Karena kakak sayang kamu, sayang banget,Gie.Kakak
gamau ngelukain temen kamu, kakak juga gak merasa sakit hati kok,tenang aja
Gie. Jangan nangis lagi ya,kakak sayang kamu kok,Kalo kamu beneran sayang sama
kakak kamu harus kuat jalanin semuanya, kamu harus jadi anak rajin yg taat pada
Tuhan,agama,orangtua.” Katanya menjelaskan dengan lembut sambil mengusap
punggungku, aku mengangguk, aku tersenyum karena semua ketulusan kejelasan kak
Zaky dan dekapannya membuat suasana hatiku teduh, saat aku menoleh aku seperti
melihat Ibu dibalik pintu, aku berlari kearah pintu untuk memastikan apakah itu
Ibu,tapi sudah nggak ada,aku menoleh keara kak Zaky “Iya tadi ada Ibu.” Lagi2
kak Zaky ngejelasin sebelum aku tanya. “Apa Ibu denger ya,yg tadi aku ngomong
sama Kakak?” aku bertanya lagi . “Ehmm.. nggak tau deh,udah ah,kakak mau
ngerapihin barang kakak juga dikamar,kamu jangan sedih lagi ya?” Aku tersenyum
dan mengangguk semangat. “Inget loh,kalo sedih berarti kamu benci dan gasayang
sama kakak.” Katanya dan berlalu pergi.
Jam
8 pagi aku udah siap dimeja makan untuk sarapan jam 9 kami (aku,Ibu,dan Kak
Zaky) akan pulang ke Jakarta.Aku makan dimasakin sama Ibu dan Bibi Ana opor
ayam tapi hanya ku aduk2 dan gak kumakan,aku gak nafsu makan, aku masih enggan meninggalkan
tempat ini, kak Zaky menyikut ku dengan siku nya,aku menoleh kesebelah kananku
ya kak Zaky duduk disebelah kananku, aku tersenyum dan menggeleng pertanda aku
nggak mau makan, kaka Zaky tersenyum dan menyuapi aku dengan nasi yg
dipiringnya, aku melihatnya sejenak dan memakannya, Ibu terlihat senang, dia
tersenyum dan mengacungkan jempolnya kearah aku dan kak Zaky, “Waduh,Anggie
kayak anak kecil aja disuapin sama Kak Zaky,” Komentar Bibi Ana keluar,disertai
tawa Paman Arso dan Ibu, aku tersipu malu, namun kak Zaky hanya
tersenyum.Selesai makan kami berbincang sebentar dan berterima kasih pada Bibi
Ana dan Paman Arso lalu kami pulang kejakarta.Diperjalanan nggak ada yg bicara
sedikitpun susasana jadi akwward, akhirnya aku merasa ngantuk dan tertidur.
“Bu,apa gak sebaiknya kita pindah aja seperti kemauan Anggie?” Kak Zaky memulai
pembicaraan ketika aku tertidur padahal aku masih bisa mendengar percakapan
mereka. “Ibu bingung,nggak tau juga ya,tapi ya Ayahkan kerjaannya ada disana
semua,kalo kita pindah ya gimana nanti kerjaan Ayah buat ngasih biaya keperluan
sehari2.” Kata Ibu,Kak Zaky terdiam lama sekali hingga akhirnya mengeluarkan
suaranya “Iya,aku tau Bu gimana keadaannya,aku ngerti,Cuma aku kasian aja sama
Anggie,Bu.” Kata Kak Zaky lembut. “Ibu juga kasian sama Adikmu.” Kata Ibu
singkat,dan dilanjutkan dengan cepat “Tapi,ya kamu hati2 kalo bersikap Zak,jgn
sampe adikmu tau yg sebenernya..” Katanya,Sepertinya kak Zaky Cuma mengangguk,
aku bingung apa yg dirahasian Ibu dan kak Zaky dari aku? Aku harus tau.Sore
hari aku terbangun, saat aku membuka mataku kulihat kak Zaky sedang makan roti
dan Ibu sedang membaca majalah, seperti ada perasaan kak Zaky menoleh kearahku
sepertinya dia punya perasaan yg peka terhadapku karena biasa bersikap
protektif sama aku. “Kamu mau makan dek?” Katanya sambil mengulurkan sekotak
roti dari holand bakery, aku menggeleng, “Loh,kenapa? Apa mau makan nasi aja?”
Katanya masih membujukku untuk makan, aku menggeleng lagi, dan sekarang Ibu yg
menoleh kearahku, “Sayang,ayo dong tadi Kak Zaky udah bela2in balik lagi kesebuah
toko buat beliin kamu makanan dan roti ini looh.” Kata Ibu menjelaskan, aku
diem aja “Yaudah kalo gamau gak apa2,Bu jangan dipaksa.” Kata Kak Zaky lembut
sambil ngusap kepalaku, aku senang kak Zaky selalu mengerti apa mauku,mungkin
dia pernah mengalami masa sepertiku, mungkin sih aku gak tau pasti, kak Zaky
jarang banget yg namanya nyeritain masa kecilnya, kadang2 Ibu pengen nyeritain
masa kecil kak Zaky tapi pasti kak Zaky nggak ngebolehin,jadi Ibu juga gapernah
cerita masa kecil Kak Zaky deh. Aku yg semula tiduran dibelakang mobil langsung
duduk dan mengambil HP ku untuk menghubungi temanku Susi bahwa aku sebentar
lagi sampai Jakarta, kalo dihitung2 aku sudah hampir seminggu lebih gak mainin
HP ku, selesai kukirim pesanku kepada Susi aku tiduran lagi sekitar 45 menit
berselang kami sampai di Jakarta tepat sore hari sekitar ba’da ashar, aku masih
terlelap, aku merasa nggak ada yg bangunin aku, aku kira aku bakalan ditinggal
didalam mobil, ternyata kak Zaky gak tega membangunkanku dia menggendongku
sampai kelantai 2 kamarku. Dia meletakanku diKasur springbed ku, dia tidak
mengecup keningku seperti layaknya kakak kepada adik kesayangannya, padahal
akulah satu2nya adik kesayangannya tapi dia tetap duduk disamping kasurku dia
mengelus kepalaku,dia tersenyum dan sepertinya dia juga bergumam ‘Dek,andai aja
kamu tau.’ Dan dia mematikan lampu kamarku dan berlalu. Aku masih nggak bisa
membuka mataku aku masih terlalu lelah mungkin besok pagi aku akan bangun
dengan mata segar karena enggak terjaga saat tengah malam,seperti malam2
dulu,tapi perkiraanku salah aku memimpikan mimpi buruk lagi rutinitas ku saat
tengah malam diJakarta,dirumahku,
dikamar ini, aku mimpi buruk lagi,aku menjerit sekeras2nya ‘Jangannn
Kaaakkk jangan pergiiii!!!!!!!!!!’ Lalu terdengar derap langkah kaki yg
terburu2 dan ‘cklek’ itu bunyi pintu kamarku dan lampu nyala benderang, hujan
deras dengan halilintar yg menyambar, bunyinya nyaring semakin lengkap
ketakutanku malam ini pada mimpi itu. “Anggie,bangun,Gie? Kamu kenapa? Gie
bangun!” Kak Zaky mengguncang tubuhku,ya dialah yg selama ini membangunkan ku
dari mimpi burukku setiap tengah malam berlangsung. Aku terlonjak bangun dan
memeluk Kak Zaky,aku menangis sejadi-jadinya, aku mencengkram erat piama nya,
tanpa menanya apa yg aku mimpikan malam ini pasti kak Zaky udah tau, “Kamu
mimpi itu lagi,Gie?” Tanyanya mengusap rambutku dan mencium ubunku, aku
mengangguk, “Kak,jangan pernah tinggalin aku yaa..” Kataku dengan suara
bergetar,Kak Zaky melepas pelukanku dan menghadapkan ku berhadapan
dengannya,dia memandangku dengan penuh khawatir, “Iya,kakak ga akan ninggalin
kamu,Gie.” Kata kak Zaky dengan mata berkaca2 aku tau kak Zaky nggak mungkin
nangis didepan aku,aku tau kak Zaky lebih tegar daripada aku, aku tau segalanya
tentang kak Zaky aku tau sebab dialah Kakak ku,orang yg selalu perhatian, sayang,peduli
segalanya tentang ku. “Kakak harus janji sama aku.” Pintaku pada kak Zaky, dia
terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu,lalu dia mengangguk dan
berkata “Aku janji,Gie.” Satu hal yg selalu aku inginkan keluar dari mulut kak
Zaky untuk aku,satu kata unuk aku, yaitu memanggilku dengan sebutan ‘sayang’
bukan ‘Gie’ “Kok ngelamun,Gie? Tidur ya? Udah malem.” Perintah kak Zaky lembut
dan menidurkanku kembali kekasurku, saat ia mengelus keningku dan hendak beranjak
aku segera menarik tangannya, “Katanya,kakak janji gak akan ninggalin aku?” aku
menagih janjinya,dia sedikit tertawa kecil dan mengangguk serta beranjak untuk
menarik kursi dan duduk disebelah aku tidur.aku terlelap,kuarasakan dia terus
memegang tanganku,terus mengusap punggung tanganku dan membelai rambutku.
Pagi
terasa sejuk,kelopak mataku terbuka sedikit demi sedikit, rasa kantuk masih ada
dalam diriku,kurasakan ada sesuatu yg menimpa tangan kananku saat kulihat
ternyata itu tangan kak Zaky dan dia menepati janji untuk tidak meninggalkanku
semalaman, aku merasa lega kak Zaky masih ada disampingku walaupun ia tidur
dibangku disampingku, kepalanya terkulai diatas gulingku,ekspresinya
tenang,tersirat senyum yg indah diwajahnya. Hari ini aku memang nggak
sekolah,karena Ibu udah menelpon guruku untuk izin beberapa hari kedepan, ya
aku kelelahan setelah melewati liburan dan berbagai macam perjalanan jauh.
“Dek,udah bangun ya?” Suara kak Zaky mengagetkan ku,aku mengangguk, “Gimana
tidurnya?” Tanyanya sambil duduk tegak, aku mengangguk untuk kedua kalinya,dia
tersenyum dan mengacak2 rambutku, aku pura2 cemberut karena rambutku
berantakan, “Pagi-pagi gaboleh ngambek,nanti jadi jelek loh.” Katanya
meledekku,aku tertawa dan menjulurkan lidahku, Kak Zaky beranjak dari
kursi “Yaudah,kamu jangan lupa makan
ya,mandi juga jangan lupa.” Katanya dan jalan untuk keluar kamarku. “Memang
kakak mau kemana?” dia menengok dan tersenyum, “Mau kehatimu..” Katanya
ngegombal lalu tertawa dan pergi. Aku mandi dan segera turun kebawah untuk
sarapan,kulihat diruang makan sudah ada Ayah,Ibu, dan Kak Zaky. “Waah,, pasti
pada nungguin aku ya? Adduh jadi gak enak nih.” Candaku yg bikin semuanya
nengok sambil tertawa geli, “Ih,kamu keGRan deh, dek.” Kata Kak Zaky dan aku
langsung menyenggol sikunya, Ibu dan Ayah tertawa.Akhirnya kami makan tanpa ada
pembicaraan,selesai makan Ayah langsung berangkat kerja,Ibu mengantarnya sampai
depan teras rumah,aku menuju keruang TV bersama kak Zaky menonton naruto kali
ini, tepat naruto selesai,pintu rumahku diketuk oleh seseorang diluar aku
hendak beranjak membuka tapi sudah keburu kak Zaky yg membuka,ternyata ada Susi,
“Dek,ada Susi nih,aku tinggal ya.” Setelah berkata begitu kak Zaky langsung
naik keatas menuju kamarnya,akupun mengajak Susi untuk mengobrol dikamar saja.”Jadi
gimana liuran kamu disana,Gie?” Kata Susi ketika memasuki kamarku dan
kupersilakan duduk didepanku dikasur springbed ku,dia duduk,aku mengehela
napas, “Kamu beneran pengen tau?” ,dia melirik ku sebentar lalu mengangguk
semangat, “Baiklah..” Aku bercerita mulai dari pertama sampai akhir aku sampai
diJakarta lagi. Selesai aku bercerita, Susi mengubah posisi duduknya,mungkin
karena tulangnya pegel duduk dengan posisi seperti itu selama aku bercerita. “Aku
gak bisa bilang apa2 sih,Gie. Tapi yg jelas kamu harus cari tau,harus
banget,diwajibiin!” Katanya sambil memegang pundakku. “Tapi aku nggak tau mesti
ngapain.” Kataku dan mulai menangis, “Aku terlalu sayang sama Kak Zaky..”
Suaraku bergetar,Susi menenangkan ku dalam pelukan hangatnya, sehangat
persahabatan kita yg terjalin hampir 8th ini. Aku berhenti menangis,aku
berusaha tegar,dan aku rasa aku siap untuk menjalani sekolah untuk minggu
depan,itu semua berkat support dari kak Zaky dan Susi merekalah sumber energiku
yg membuatku bertahan hingga sekarang,ehm,maksudku bertahan disekolahku,kalau
bertahan hidup yg jelas karena Tuhan. Setelah beberapa jam kami bermain ,Susi
berpamitan pulang karena udah hampir sore, akupun mandi setelah itu aku berniat
kekamar Kak Zaky untuk melihatnya sekedar menyapa,tiba2 aja aku kangen,padahal
aku kan setiap hari bertemu. Saat aku selesai mandi,aku menuju kamar Kak Zaky
yg terletak didepan kamarku, saat berjalan tiba-tiba aku merasakan denyutan
dikepalaku,aku merasa mual,aku pusing,lalu tiba-tiba semuanya gelap dan gelap.
Aku masih merasakan denyutan dalam kepalaku aku merasa sangat psuing, mungkin
penyakitku kambuh lagi, ya aku menderita kurang darah, aku akan pusing dan
pingsan, jika hal itu terjadi berarti aku kekurangan darah. “Anggie,dek bangun
dong.. aduhh kamu sakit ya dek?” Suara itu terdengar disampingku,aku merasakan
ada yg menggenggam jemariku erat,dan mengusap rambutku, “Kak Zaky, itu kakak?”
Tanyaku pada suara itu. “Ini aku Gie,kak Zaky, kakak kamu.” Katanya sepertinya
dia menangis, “Kak Zaky ,jangan sedih ya aku Cuma kurang darahkan? Aku kan udah
biasa..” Kataku namun airmata ku mengalir,kak Zaky mengusap airmataku dengan
tangannya yg lembut.Beberapa jam kedepanpun aku terlelap dalam kamar kak
Zaky,tadi aku memang sempat sadarkan diri namun aku ketiduran karena belum bisa
berdiri masih membayang jika aku melihat.Kak Zaky enggak tidur,dia terjaga
tengah malam ini untuk memastikan aku baik2 saja,ya dan anehnya ku tidak
bermimpi buruk lagi,tentang kak Zaky,tentang kak Zaky berpisah denganku,tentang
Ibu yg mengusir dan Ayah yg memaki kak Zaky dimimpi ku yg setiap tengah malam
membuatku ketakutan. Nggak terasa banget matahari telah muncul memancarkan
sinar hangatnya yg masuk kedalam kamar kak Zaky,aku bangun dan melihat 2 helai
roti tawar dengan selai strawberry, dan segelas susu coklat hangat, aku tau
pasti kak Zaky yg menyiapkannya, tapi hari ini aku sendirian dirumah,karena kak
Zaky sekolah,sebenarnya sekolahku dengan kak Zaky satu gedung karena digabung
.Tapi aku masih Izin apalagi setelah aku sakit Ibu menelpon sekolahku dan
meminta tambahan hari untuk aku karena sakit. Ibu hari ini juga kerja
pasti,akhirnya aku tidur2an dikamar saja sampai beberapa jam,hingga akhirnya
telepon rumahku berdering. Taganku
bergetar saat ingin mengangkat telpon,entah mengapa aku jadi takut, “Ha..ha lo “
kataku terbata, “Benar ini rumah keluarga Bpk Hary?” “Ya benar.Ada apa ya?”
Tanyaku pada sang penelpon, “Tolong beritahu keluarganya/Ibu Bpk.Hary
kecelakaan dan kekurangan darah,segera ke R.S sekarang,terima kasih.” Seketika
gagang telpon terlepas dari tanganku,aku terduduk lemas didepan meja telpon,Ya
Tuhan apalagi ini?cobaan apalagi ini yg kau berikan untukku. Aku menangis dan
menjerit sekeras2nya,tiba2 pintu rumahku terbuka,kulihat Kak Zaky dengan mata
berkaca2 menghampiriku, “Kakak udah tau tentang Ayah?” Tanyaku sambil
memeluknya,dia mengangguk dan menarikku untuk segera ke R.S dengan motor
ninjanya.Aku nggak menyangka semua ini terjadi,aku sedih aku nggak bisa ngeliat
ini semua terjadi
.
.
Sampai
di RS aku berlari bersama Kak Zaky, terus,terus,dan terus berlari hingga sampai
didepan UGD kulihat Ibu dengan mata yg dibanjiri airmata,dia memeluk aku dan
Kak Zaky, lalu dokter keluar dari ruang UGD “Gimana keadaan Ayah saya ,Dok?”
Tanya kak Zaky menghampiri dokter itu. “Ayahmu sangat membutuhkan darah,dia
sangat banyak mengeluarkan darah,namun di PMI semua darah O sudah habis untuk
korban kecelakaan tenpo hari, jika dalam waktu ½ jam tidak ada pendonor darah
maka dia tak bisa tertolong,kamu bisakan menyumbangkan darahmu utk ayahmu?”
Tanya dokter itu dan membuat Ibu terduduk lemas dilantai kak Zaky hanya
memandang aku, Dokter itu memberi isyarat jika mau harus menemuinya. Aku
memandang kak Zaky penuh tanya,kenapa kak Zaky nggak langsung bilang iya,kenapa
kak? Dalam hatiku bertanya, kak Zaky memeluk Ibu, dan Ibu balas memeluknya, aku
masih termangu melihat Ibu dan kak Zaky berpelukan, Aku hendak bertanya tapi
mulutkku seperti terkunci, Kak Zaky memelukku akupun balas memeluknya, “Dek,aku
bukan kakak kandung kamu..” Suara kak
Zaky bergetar, aku nggak percaya dan melepas pelukan kak Zaky, “Nggak!! Kak Zaky
bohong!! Aku nggak percaya,kakak pasti bohong!! Yakan Bu?? Ibu,kak Zaky
bohongkan? Dia kakak kandungku kan Bu?” Ibu mendekatiku,dia memelukku erat, dia
menggeleng, “Itu bener sayang.” Katanya lembut, aku menggeleng ngga percaya,
kakakku yg slalu aku rindu, kakak kesayanganku, kakak yg slalu protektif ke
aku, kakak yg care sama aku, kakak yg slalu ADA buat aku, kakak yg bagaikan
orangtua,sahabat,sekaligus seperti pacar, ternyata dia bukanlah darah daging
Ibu, aku sungguh nggak percaya,SUNGGUH!! .. Akhirnya Ayah nggak tertolong
Ayahku, pergi meninggalkan kami semua, meninggalkan dunia ini untuk selamanya,
Ayahku,aku akan selalu mengingat Ayah, aku akan menjaga Ibu dan bersikap baik
pada kak Zaky walaupun nyatanya dia bukan kakak kandungku, sulit dipercaya..
Aku memandang batu nisan didepanku,aku
masih terisak mengingat kenyataan ini, mengingat kak Zaky yg bukan kakak
kandungku, tapi kasih sayangnya padaku melebihi kakak kandung yg sebenarnya,
kasih sayangnya terus mengalir,seperti Ibu,walau aku tau kasih sayang Ibu,lebih
besar dari apapun,.. “Dek,yuk pulang tadi Ibu udah pulang duluan loh..” Kata
kak Zaky,dan memegang bahuku lembut, “Jangan sedih lagi,kita ikhlasin apa yg
terjadi,biar Ayah tenang,Gie.” Katanya lembut aku terisak dalam pelukan
hangatnya,aku mengangguk dan pulang. “Kak..” aku memanggilnya, “Ya, ada apa?’
Katanya lembut saat sedang jalan kaki menuju mobil, “Aku boleh nggak tetep
sayang sama kakak?” Kak Zaky tersenyum mendengar aku bicara hitu, “Boleh
dong,kakak juga tetep sayang banget deh sama kamu..” Katanya mengecup keningku
untuk pertama kalinya, aku memeluknya, “Aku sayang kakak seperti apapun itu.. “
Kataku dan seraya masuk mobil untuk pulang, Ayah lihat,kak Zaky masih tetep
sayang sama aku walaupun aku udah tau dia bukan kakak kandungku, aku jga tetep
sayang banget sama kak Zaky yah, Ayah harus tenang ya,karena kita disini juga
kan baik2 aja karena ada Tuhan yg mengirim seseorang seperti kak Zaky yg
ngelindungin aku dan Ibu .
----THE END---
----THE END---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar