![]() |
| This is cover for my ZLS ;) |
ENJOY READING!! ;)
Leona POV
Leona POV
-INDONESIA-
Pelajaran
seni rupa hanya bikin ngantuk merayapi diriku. Memang, Mr.Brown menguasai benar
semua standar kompetensi yg dianjurkan sesuai standar kurikulum, tapi cara
mengajarnya yang membosankan membuat 90% isi kelasku menguap lebar-lebar, well,
aku juga termasuk dalam 90% itu.
“Jadi.. Musik klasik yang dialami negara Indonesia-”
-Treeetttt its time to begin the next lesson- Ucapan Mr.Brown terpotong ketika bel
pergantian pelajaran berbunyi.
“Horeee!” Seru murid-murid di kelasku, menurutku itu gak
sopan, well, tapi aku juga berucap seperti itu.
Mr.Brown keluar dari kelas, pelajaran Biologi akan segera
dimulai, ah, kenapa hari kamis selalu membosankan!
“Leona, panggil Mrs.Angie sana, ntar dia lupa lagi kalo
harus ngajar di kelas kita!” Ucap salah satu temanku, Rika, dia sekertaris di
kelas. Sedangkan aku menjabat sebagai ketua kelas, makanya aku yg harus
memanggil guru sekarang.
“Ya..” Jawabku sambil lalu. Di sepanjang koridor sekolah
sepi sekali, tumben. Biasanya banyak anak murid yg bolos jam pelajaran,
terutama laki-laki. Di ruang gurupun tidak ada guru sama sekali. Aku memutuskan
untuk menuju ruang piket.
“Selamat siang, bu. Saya nyari Mrs.Angie, tapi gak ada di
kantor, bu. Padahal Mrs.Angie harus mengajar pelajaran biologi di kelas 9-6,
bu.”
“Ohh, Mrs.Angie baru aja keluar sekitar 10 menit yg lalu,
ada urusan pribadi yg penting katanya..”
“Kalo begitu, ada tugas yg bisa dikerjakan untuk 9-6, bu?”
“Mrs.Angie gak menitipkan tugas sama sekali, begini saja, kalian
kelas 9-6 baca dulu materi yg akan dipelajari nanti, sambil menunggu Mrs.Angie
kembali.”
“Baik, terima kasih, bu. Siang.”
‘Yes’ jeritku dalam hati, saking girangnya karena akhirnya
hari kamis ada jam kosong juga. Aku
berlari cepat menuju kelas.
“Gimana?”
“Apanya?”
“Mrs.Angie mana?”
“Mau tau banget..”
“Buruan..”
“Mrs.Angie gak masuk.. Hebatkan? Haahaha..”
“Serius?”
“Iya,”
Setelah mereka benar-benar yakin Mrs.Angie gak masuk, mereka
bersorak-sorai kegirangan, aku juga. Akhirnya aku duduk dibangku dan membuka
blackberry-ku. Twitteran;)
Leona Lewis
@Leo_Lws
Mrs.Angie- biologi, FREE!! SO HAPPY!!\m/
@Leo_Lws
Mrs.Angie- biologi, FREE!! SO HAPPY!!\m/
Tweet posted!
Selang beberapa menit kemudian, ada yg mention aku,
blackberryku bergetar-getar.
Vikvik
@Avi_avikkkaay
@Leo_Lws Yawn! \m/
@Avi_avikkkaay
@Leo_Lws Yawn! \m/
-_- Cuma gitu mentionnya, aku RT aja, daripada dikira
kacang.
-BreakTime-
“Selesai sekolah, kamu mau lanjut di mana? Atau kerja
langsung?” Tanya Rika, teman sekelasku yg sedang makan siang di kantin bareng
aku.
“Kalo tabunganku udah cukup, kayaknya aku mau nerusin ambil
sastra di luar negeri,-” Jawabku, tiba-tiba saja Rika tersedak.
“Eh, Rik, kamu kenapa? Aku salah ngomong ya?”
“Enggak, enggak.. Kamu serius? Di mana?”
“Mungkin, UK.. Itu permintaan Bundaku,, dulu..”
“Alm.Bundamu?”
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan, aku memang tinggal
bersama tante ku, bundaku meninggal saat aku kelas 5sd. Ayahku udah cerai sama
bunda sejak umurku 4th, tapi kata bunda, ayah masih sering main
waktu umurku 8th, aku tidak benar-benar dapat mengingat wajah ayah
sekarang, mungkin sudah lupa.
Pelajaran selanjutnya saat bel masuk berbunyi pun jam
kosong, entah kemana guru-guru yg biasanya selalu rajin masuk untuk mengajar
tiba-tiba saja menghilang. Tapi itu memberikan aku kerelaks-an pada hari kamis,
biasanya hari kamis sangat melelahkan. Sampai bel pulang sekolah, gak ada satu
gurupun yg mengajar di kelasku, padahal besok udah libur untuk menghadapi ujian
nasional pada hari senin.
-Home-
Aku hanya membaca ulang soal-soal try-out bulan lalu, dan
soal-soal yg dibagikan oleh guru PM ku. Selesai membaca, aku langsung menuju
kasur dan bersandar sembari menghitung tabunganku seluruhnya, tabunganku untuk
sekolah di luar negeri, harta bunda memang banyak, karena dulu bunda seorang
wakil direktur di perusahaan ayah, tapi ketika bunda jatuh sakit, bunda sudah
tidak bekerja lagi. Aku sering mendapat cerita tentang bunda dari tante Kiky.
“Ternyata banyak sekali, dengan ini aku bisa meraih
cita-cita..” Ucapku lega.
Adira POV
-UK-
“Zayn!!
Kembalikan tasku!!” Teriakku sambil berlari mengejar Zayn.
“Tangkap aku dulu kalo bisa, wee..” Jawab Zayn sambil
meledekku, Zayn adalah sahabatku.
“Yaudah, aku pulang, bye!” Aku meninggalkan Zayn dan
pura-pura marah sama dia.
“Eh, Adirraaa!! Tunggu dong!” Ha! Sudah kuduga Zayn pasti
akan mengejarku.
“Lagian, mana sini tas aku, mau pulang nih!”
“Iya-iya, nih.”
“Aku pulang duluan ya, Zayn..”
“Gak mau dianter nih?”
“Enggak usah, kayaknya aku mau sendiri aja hari ini..”
“Eh, kamu sakit ya? Kok pucet gitu?”
“Enggak, udah deh, Zayn.. Kamu selalu gitu..” Ucapku sebel sama Zayn.
“Selalu???”
“Iya, selalu gitu, kamu selalu ngawatirin aku, aku memang
bisa mati kapan aja dan di mana aja, tapi kamu gak harus selalu khawatir
seakan-akan aku mau mati pada jam ini!”
“Adira-” Zayn tampak ngerasa bersalah.
“Udah, stop, Zayn! Aku mau pulang sendiri!!” Ucapku dan
pergi meninggalkan Zayn.
Aku berjalan ninggalin Zayn tanpa menoleh ke belakang,
sepertinya Zayn udah gak ngikutin aku lagi. Aku gak tau, kenapa Zayn selalu
gitu! Entah karena dia care sama aku, atau dia takut penyakitku kambuh di jalanan
dan nafasku berhenti tiba-tiba.
Zayn POV
Adira kenapa ya? Padahal aku gak bermaksud kayak gitu,
maksudku, aku memang care, terlebih aku juga takut dia kenapa-napa karena
penyakitnya, tapi di benakku gak pernah terlintas pikiran seperti ‘itu’! Maksudku,
aku gak pernah berpikir bahwa Adira bisa aja meninggal tiba-tiba di jalanan
saat gak ada aku, aku gak pernah berpikir begitu, malah aku gak pernah mau
sekalipun berpikir begitu meskipun di benakku akan terlintas seperti itu!
Yaudahlah, mungkin dia benar-benar lagi ingin sendirian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar