Liam Long Story – She’s Not Afraid Anything by @Nabilla_Cullens
Enjoy reading and i hope you like it!^^
Pagi yang cerah, sinar matahari telah muncul di depan jendela dengan bingkai jendela berwarna coklat tua dari kayu jati yang terbilang kokoh. Pagi ini cerah, secerah wajah laki-laki yang terlihat senang setiap hari, tapi mungkin,tidak untuk pagi ini._. ya dialah Liam Payne, dia seorang Petinju, ehm.. bukan petinju yang terkenal melainkan dia seorang pemain olahraga tinju yang bermain di salah satu cabang olahraga tinju disekolahnya, tepatnya, kita biasa menyebut kegiatan disekolah dengan sebutan ekskul, ya Liam ikut ekskul tinju sejak duduk di kelas 1 SMA. Sebenarnya, mamanya Liam sama sekali tidak menunjukan dukungannya akan kegiatan yang Liam ikuti disekolah selama 2th ini, namun ayahnya Liam sangatlah mendukung apa yang Liam hobi kan, seperti Bertinju, dan Bernyanyi. Dan dukungan ayahnya lah yang membuat Liam tetap pada ekskul tersebut, sebenarnya mamanya Liam mau saja mendukung Liam untuk hal itu, namun mamanya Liam hanya tidak ingin melihat Liam, anak kesayangannya (alesan mamanya Liam nyebut kesayangannya ya, karena dia anak satu-satunya. ) babak belur karena, pernah sekitar 1thn yang lalu, saat Liam mengikuti lomba Tinju untuk pertama kalinya, dia kalah dan wajahnya ancur, eh gak ancur-ancur banget sih, Cuma ya, ada bekas tonjokan gitu didaerah wajahnya, terus Liam juga ngalamin patah di jari kelingking yang kiri, saat itu juga mama Liam mulai ngelarang Liam untuk ngikutin ekskul itu lebih lanjut. Tapi ternyata Liam secara diam-diam terus ngikutin ekskul itu tanpa sepengetahuan mamanya. Kalo-kalo pas dia butuh dana untuk bayaran yang cukup mahal, maka dia bakalan minta bantuan sama Ayahnya, oiya jadi Ayahnya Liam itu tetep ngedukung Liam dengan aksi tinjunya^^ makanya Liam berani ikut ekskul itu lebih lanjut, selain dia hobi tinju, dia juga dapet dukungan dari Ayahnya, walaupun Mamanya bersikeras ngelarang.
Liam POV
Hari sudah pagi, matahari telah memunculkan sinarnya dan menembus jendela kamar ku. Pagi ini, rasanya aku terlalu lelah, gara-gara semalam sampai larut malam aku mengerjakan tugas presentasi, rasanya mataku tak bisa diajak kompromi, begitu juga dengan tubuhku yang masih terkulai lemas diatas kasur, aku rasa aku tidak dapat mengikuti pelajaran hari ini di sekolah, aku harus ijin sama Mom dulu, tapi tubuhku kembali lemas dan aku masih saja terkapar diatas springbed hitam dengan motif bola juventus, badanku enggan beranjak dari kasur, yasudah mau tak mau,aku harus sabar menunggu my Mom mengahmpiriku dan melihat kondisiku dikamar. *sabar ya bebep Liam* *ditimpuk sendok*.
“Where liam? why he had not yet ready to go to school? whether he was sick?” Tanya Ayah kepada Mom yang sedang membawakan nampan yang berisi roti panggang dengan paduan selai mocca dan kacang, serta 3 cangkir kopi susu.
“I don t know, maybe he was sick, i will look it up in the room.” Jawab Mom, dan dia menaruh nampan lalu bergegas menaiki tangga ke lantai 2,untuk melihat keadaan ku. Dady hanya mengangguk memberi tanda setuju sambil menyeruput kopi susu yang masih panas._. akan apa yang ingin dilakukan mom.*awas daddy nya Liam ntar mulutnya monyong minum kopi panas-_-V* . Terdengar suara derap kaki diatas lantai kayu-kayu rumah ku,ya, rumah ku memang di desain dengan tema serba kayu jati, diantara tetangga2 ku rumah ku lah yang paling mencolok karena model bangunannya. Lalu, makin lama derap kaki tersebut makin mendekat, aku berpikir bahwa itu kucingku, tapi aku merasa itu bukan kucing, dan aku berpikir lagi bahwa itu dad, “Dad, is that you?” lalu, derap kaki itu tidak terdengar lagi, perasaanku semakin aneh, dan tiba-tiba seperti ada suara derap kaki yang terburu-buru atau bisa dibilang berlari dan ‘CKLEK!’ Sukses suara pintu kamarku terbuka dan membuat jantungku melompat! Aku kaget setengah mati._. ternyata itu Mom.
“Oh my god i think you kidnappers, mom. I’m sorry.” Kataku meminta maaf sama mom, karena aku pikir dia seorang penculik yang akan menyakiti ku ._. tapi mom malah menghela nafas, seperti nafas kelegaan.
“Noproblem,honey, I just saw your condition, are you alright?” Tanya mom, seraya menghampiriku dan memegang dahi ku, dia mengelus rambutku lembut, dan memegang tanganku sambil tersenyum.
“Don’t worry about me, mom, i just tired, i need more sleep.” Kataku, sambil memegang tangan mom, dan tersenyum. Mom hanya mengangguk dan menyelimutiku, dia mengecup keningku sambil berkata.
“Make yourself comfortable, beb.” Dan dia pergi keluar kamarku, dan menutup pintu.
“Yeah,mom.” Jawabku dan langsung membenamkan kepalaku kedalam selimut begitu juga seluruh tubuhku, dan dalam sekejap, aku terlelap.
“Whether liam all right?” tanya dad ketika mom turun dari kamarku dan duduk didepan dad yang sedang membaca koran. Mom menyeruput kopi susu yang tadi dia buat, yang sudah tidak panas lagi.
“Yeah, Liam just tired and need more sleep. He said don’t worry about him.” Kata mom dan mulai memakan roti panggang yang sudah mulai dingin, karena gak dimakan beberapa menit yang lalu. –“-
Aku terbangun dan kubuka selimut yang menyelimuti tubuhku lembut dan hangat, aku lirik jam di meja belajarku, jam menunjukan sekitar pukul 2 siang, aku sudah merasa lebih baik dan aku putuskan untuk kebawah, menemui mom, untuk memberi tahunya bahwa aku baik-baik saja, aku tak mau membuat dia khawatir.
“Mom, i wake up, look at me, i’m fine.” Kataku seraya memeluk mom dari belakang, dia berbalik dan tersenyum menatapku.
“Good, sounds great,Liam.” Mom merapikan rambutku dan mengelap wajahku dengan tisu lembut, lalu menarik tanganku, dia mengajakku ke ruang tamu aku tidak tau ada apa sebenarnya, aku hanya diam. Sampai diruang tamu, ternyata ada 2 orang wanita, yang 1 sebaya dengan mom, dan yang 1 lagi, sepertinya sebaya denganku, rambut wanita yang sebaya denganku berwarna hitam pekat, dan kulitnya pucat, tapi dia terlihat manis, dia juga tersenyum kearahku, dan senyumnya disertai lesung pipi, yang membuat senyumannya terlihat ‘perfect’ aku tersenyum juga kearah nya.
“Ini dia, anakku, namanya Liam, gimana? Ganteng kan Vanya?” kata mom mengenalkan ku ke wanita yg punya senyum perfect itu, aku hanya bergumam ‘’mooommm!!’’ wanita itu ternyata namanya Vanya, dan aku bersalaman dengan Tante rini
“Eh,Liam udah besar ya, masih ikut tinju? Kalo masih si Vanya juga mau tuh, katanya dia mau ngerasain tinju itu kayak apa.” Kata mamanya Vanya, aku hanya tersenyum, lalu giliran Vanya menjabat tanganku, aduh degdeg an nih._.
“Liam..” Kataku dan dia balas “Vanya.” Lalu Vanya duduk manis,aku pun juga duduk manis._. kami ngobrol-ngbrol sampe akhirnya mom dan tante rini, ninggalin aku sama Vanya berdua doang, alesannya mereka mau masak kue. Aku mencoba membuka topik pembicaraan, tapi aku putusin untuk ngajak dia kekolam renang dibelakang rumahku.
“Vanya..”
“Iya?”
“Ke kolam renang yuk dibelakang,mau?”
“Oke,”
Aku menggandeng tangannya, beberapa menit, sekitar 30 menit, aku sudah akrab dengan Vanya, dia ternyata wanita yang asik dan gampang bergaul, katanya, dia mau pindah ke sini dan jadi tetangga ku, dia juga daftar disekolah yang sama denganku, aku senang mendengarnya, terlebih dia mau ikut ekskul tinju dan dia minta aku yang ngajarin dia, karena aku kan udah jadi senior disana. Dan kabar terbaiknya, mom udah ngijinin aku untuk lanjut ekskul tinju
Enjoy reading and i hope you like it!^^
Pagi yang cerah, sinar matahari telah muncul di depan jendela dengan bingkai jendela berwarna coklat tua dari kayu jati yang terbilang kokoh. Pagi ini cerah, secerah wajah laki-laki yang terlihat senang setiap hari, tapi mungkin,tidak untuk pagi ini._. ya dialah Liam Payne, dia seorang Petinju, ehm.. bukan petinju yang terkenal melainkan dia seorang pemain olahraga tinju yang bermain di salah satu cabang olahraga tinju disekolahnya, tepatnya, kita biasa menyebut kegiatan disekolah dengan sebutan ekskul, ya Liam ikut ekskul tinju sejak duduk di kelas 1 SMA. Sebenarnya, mamanya Liam sama sekali tidak menunjukan dukungannya akan kegiatan yang Liam ikuti disekolah selama 2th ini, namun ayahnya Liam sangatlah mendukung apa yang Liam hobi kan, seperti Bertinju, dan Bernyanyi. Dan dukungan ayahnya lah yang membuat Liam tetap pada ekskul tersebut, sebenarnya mamanya Liam mau saja mendukung Liam untuk hal itu, namun mamanya Liam hanya tidak ingin melihat Liam, anak kesayangannya (alesan mamanya Liam nyebut kesayangannya ya, karena dia anak satu-satunya. ) babak belur karena, pernah sekitar 1thn yang lalu, saat Liam mengikuti lomba Tinju untuk pertama kalinya, dia kalah dan wajahnya ancur, eh gak ancur-ancur banget sih, Cuma ya, ada bekas tonjokan gitu didaerah wajahnya, terus Liam juga ngalamin patah di jari kelingking yang kiri, saat itu juga mama Liam mulai ngelarang Liam untuk ngikutin ekskul itu lebih lanjut. Tapi ternyata Liam secara diam-diam terus ngikutin ekskul itu tanpa sepengetahuan mamanya. Kalo-kalo pas dia butuh dana untuk bayaran yang cukup mahal, maka dia bakalan minta bantuan sama Ayahnya, oiya jadi Ayahnya Liam itu tetep ngedukung Liam dengan aksi tinjunya^^ makanya Liam berani ikut ekskul itu lebih lanjut, selain dia hobi tinju, dia juga dapet dukungan dari Ayahnya, walaupun Mamanya bersikeras ngelarang.
Liam POV
Hari sudah pagi, matahari telah memunculkan sinarnya dan menembus jendela kamar ku. Pagi ini, rasanya aku terlalu lelah, gara-gara semalam sampai larut malam aku mengerjakan tugas presentasi, rasanya mataku tak bisa diajak kompromi, begitu juga dengan tubuhku yang masih terkulai lemas diatas kasur, aku rasa aku tidak dapat mengikuti pelajaran hari ini di sekolah, aku harus ijin sama Mom dulu, tapi tubuhku kembali lemas dan aku masih saja terkapar diatas springbed hitam dengan motif bola juventus, badanku enggan beranjak dari kasur, yasudah mau tak mau,aku harus sabar menunggu my Mom mengahmpiriku dan melihat kondisiku dikamar. *sabar ya bebep Liam* *ditimpuk sendok*.
“Where liam? why he had not yet ready to go to school? whether he was sick?” Tanya Ayah kepada Mom yang sedang membawakan nampan yang berisi roti panggang dengan paduan selai mocca dan kacang, serta 3 cangkir kopi susu.
“I don t know, maybe he was sick, i will look it up in the room.” Jawab Mom, dan dia menaruh nampan lalu bergegas menaiki tangga ke lantai 2,untuk melihat keadaan ku. Dady hanya mengangguk memberi tanda setuju sambil menyeruput kopi susu yang masih panas._. akan apa yang ingin dilakukan mom.*awas daddy nya Liam ntar mulutnya monyong minum kopi panas-_-V* . Terdengar suara derap kaki diatas lantai kayu-kayu rumah ku,ya, rumah ku memang di desain dengan tema serba kayu jati, diantara tetangga2 ku rumah ku lah yang paling mencolok karena model bangunannya. Lalu, makin lama derap kaki tersebut makin mendekat, aku berpikir bahwa itu kucingku, tapi aku merasa itu bukan kucing, dan aku berpikir lagi bahwa itu dad, “Dad, is that you?” lalu, derap kaki itu tidak terdengar lagi, perasaanku semakin aneh, dan tiba-tiba seperti ada suara derap kaki yang terburu-buru atau bisa dibilang berlari dan ‘CKLEK!’ Sukses suara pintu kamarku terbuka dan membuat jantungku melompat! Aku kaget setengah mati._. ternyata itu Mom.
“Oh my god i think you kidnappers, mom. I’m sorry.” Kataku meminta maaf sama mom, karena aku pikir dia seorang penculik yang akan menyakiti ku ._. tapi mom malah menghela nafas, seperti nafas kelegaan.
“Noproblem,honey, I just saw your condition, are you alright?” Tanya mom, seraya menghampiriku dan memegang dahi ku, dia mengelus rambutku lembut, dan memegang tanganku sambil tersenyum.
“Don’t worry about me, mom, i just tired, i need more sleep.” Kataku, sambil memegang tangan mom, dan tersenyum. Mom hanya mengangguk dan menyelimutiku, dia mengecup keningku sambil berkata.
“Make yourself comfortable, beb.” Dan dia pergi keluar kamarku, dan menutup pintu.
“Yeah,mom.” Jawabku dan langsung membenamkan kepalaku kedalam selimut begitu juga seluruh tubuhku, dan dalam sekejap, aku terlelap.
“Whether liam all right?” tanya dad ketika mom turun dari kamarku dan duduk didepan dad yang sedang membaca koran. Mom menyeruput kopi susu yang tadi dia buat, yang sudah tidak panas lagi.
“Yeah, Liam just tired and need more sleep. He said don’t worry about him.” Kata mom dan mulai memakan roti panggang yang sudah mulai dingin, karena gak dimakan beberapa menit yang lalu. –“-
Aku terbangun dan kubuka selimut yang menyelimuti tubuhku lembut dan hangat, aku lirik jam di meja belajarku, jam menunjukan sekitar pukul 2 siang, aku sudah merasa lebih baik dan aku putuskan untuk kebawah, menemui mom, untuk memberi tahunya bahwa aku baik-baik saja, aku tak mau membuat dia khawatir.
“Mom, i wake up, look at me, i’m fine.” Kataku seraya memeluk mom dari belakang, dia berbalik dan tersenyum menatapku.
“Good, sounds great,Liam.” Mom merapikan rambutku dan mengelap wajahku dengan tisu lembut, lalu menarik tanganku, dia mengajakku ke ruang tamu aku tidak tau ada apa sebenarnya, aku hanya diam. Sampai diruang tamu, ternyata ada 2 orang wanita, yang 1 sebaya dengan mom, dan yang 1 lagi, sepertinya sebaya denganku, rambut wanita yang sebaya denganku berwarna hitam pekat, dan kulitnya pucat, tapi dia terlihat manis, dia juga tersenyum kearahku, dan senyumnya disertai lesung pipi, yang membuat senyumannya terlihat ‘perfect’ aku tersenyum juga kearah nya.
“Ini dia, anakku, namanya Liam, gimana? Ganteng kan Vanya?” kata mom mengenalkan ku ke wanita yg punya senyum perfect itu, aku hanya bergumam ‘’mooommm!!’’ wanita itu ternyata namanya Vanya, dan aku bersalaman dengan Tante rini
“Eh,Liam udah besar ya, masih ikut tinju? Kalo masih si Vanya juga mau tuh, katanya dia mau ngerasain tinju itu kayak apa.” Kata mamanya Vanya, aku hanya tersenyum, lalu giliran Vanya menjabat tanganku, aduh degdeg an nih._.
“Liam..” Kataku dan dia balas “Vanya.” Lalu Vanya duduk manis,aku pun juga duduk manis._. kami ngobrol-ngbrol sampe akhirnya mom dan tante rini, ninggalin aku sama Vanya berdua doang, alesannya mereka mau masak kue. Aku mencoba membuka topik pembicaraan, tapi aku putusin untuk ngajak dia kekolam renang dibelakang rumahku.
“Vanya..”
“Iya?”
“Ke kolam renang yuk dibelakang,mau?”
“Oke,”
Aku menggandeng tangannya, beberapa menit, sekitar 30 menit, aku sudah akrab dengan Vanya, dia ternyata wanita yang asik dan gampang bergaul, katanya, dia mau pindah ke sini dan jadi tetangga ku, dia juga daftar disekolah yang sama denganku, aku senang mendengarnya, terlebih dia mau ikut ekskul tinju dan dia minta aku yang ngajarin dia, karena aku kan udah jadi senior disana. Dan kabar terbaiknya, mom udah ngijinin aku untuk lanjut ekskul tinju
######
Liam POV
“Permisi…” Kataku sambil menekan bel yg ada di rumah Vanya. Aku pengen jemput Vanya pergi ke sekolah.
1 menit, 2 menit, 3 menit…… 10 menit! Aku tungguin Vanya, tapi gak ada respon apapun dari keluarganya. Aku mau berangkat sekolah sendiri aja deh, pas aku berbalik badan,..
“Liammm!! Aduh maaf ya, kamu udah lama nunggu ya?” Kata Vanya ngagetin aku ._.
“I.. Iya, Vanya.. Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya ku bingung.
Vanya Cuma senyum denger pertanyaanku dan langsung gandeng aku keluar dari pekarangan rumahnya.
Vanya POV
“Mommmm!!!!” Teriakku histeris, gara-gara liat jam udah jam 6.30 , padahal jam 6.50 Liam bakalan jemput aku.
“Ada apa sih Vanya? Pagi-pagi kok teriak-teriak?” Kata Mom, sambil terheran-heran ngeliat aku buru-buru pake baju rapi dan sepatu.
“Mom lupa? Ini udah jam berapa? Sebentar lagi liam pasti bakalan ke rumah dan jemput aku!!” kata ku dan mulai merapikan semua buku-buku ke dalam tas. Mom tersenyum dan mulai melangkah mendekatiku, dia merangkul ku.
“sayang, kamu lupa? Kamu masih belom boleh pulang, kan nanti siang pulangnya. Lagian Cuma 5 hari sekali kok.” Bisik mom menasihatiku.
“Gak bisa, mom. Gak bisa gini caranya, aku harus sekolah, biar Liam gak curiga, biar Liam gak nanya-nanya kenapa aku jarang sekolah..” Jelasku sama Mom.
“Yaudah, mom siapin mobil. Kamu minum dulu sana.. “ aku gak nurutin perintah mom, tapi, aku langsung buntutin mom menuju mobil. Mom Cuma geleng kepala liat sikap aku.
Arrived at my home
MATII AJA DEH AKUU!!! LIAM UDAH ADA DI DEPAN RUMAH!! Daannn… Dia,,, mau pergi.. Apa mungkin dia nungguinnya udah kelamaan ya? Aduh aku harus gimana ya? ._.
“Mom.. aku minta, mom matiin mobil sekarang.” Kataku pelan. Mom matiin mobil.
“sekarang, aku minta mom jangan keluar dari mobil ya, aku mau berangkat sama Liam.. dan terakhir mom jangan pernah bilang sama Liam kenapa aku tadi dari luar rumah, dan gak ada dirumah..” Aku ngecup kening mom dan berjalan keluar mobil dengan langkah setenang mungkin. Aku atur ritme nafasku biar gak keliatan nervous.
“Liammm!! Aduh maaf ya, kamu udah lama nunggu ya?” Kata ku, kayaknya Liam kaget deh._.
“I.. Iya, Vanya.. Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya Liam yg jelas banget dari raut mukanya keliatan bingung.
Ha? Aduh gimana nihh.. hem.. tenang Vanya, kamu bisa.. akhirnya aku senyum aja deh, biar gak keliatan nervous aku gandeng tangan liam yg masih bingung keluar dari pekarangan rumah ke sekolah. ;)
Otw school
“Liam.. kok kamu diem aja sih?” Tanyaku yg gak enak hati liat Liam diem terus.
“Eh.. Ya? Ada apa?” Jawab Liam, kayaknya dia lagi ngelamun.
“Kamu ngelamun ya?” selidik ku.
“Enggak kok, btw, udah siap ulangan matematika?” Tanya Liam membuka topik pembicaraan baru. Eh? Ulangan matematika? Hari ini? Ha? Mati aku! Aku belum belajar sama sekali._.
“Hem.. Siap dong!! Kan semalem aku belajar sama tante ku.. sampe larut malem malahan..” Dusta ku.
“Ohya? Wah, berarti tadi malem kamu nginep di rumah tante ya? Makanya kamu tadi tiba-tiba ngagetin aku dari luar..” Tebak Liam.
Wah, pas banget nih!! Dalem hatiku._.
“I.. Iya.. Hehe..” Kataku meringis.
######
Liam POV
Gak kerasa banget udah 4 bulan aku sahabatan sama Vanya, mom sama tante rini juga tambah akrab karena satu kantor. Dan hari-hari ku selama sama Vanya selalu buat aku bahagia, tapi ada perasaan gelisah yg selalu menggelayuti ku, perasaan itu muncul sejak kejadian aku pingsan saat upacara sekolah, aku gak tau perasaan apa itu, tapi perasaan itu aku yakini adanya, perasaan itu amatlah abstrak, gak bisa di lihat, tapi aku dapat merasakannya. Setiap detik yg ku lalui tanpa Vanya, perasaan itu datang, setiap waktu Vanya gak masuk sekolah, perasaan itu mulai berkembang, seiring berjalannya waktu ku bersama Vanya, perasaan itu mulai tumbuh, memuncak dan semakin meluap. Aku hampir gak bisa menahan rasa itu untuk keluar, tapi akhirnya aku bisa menyembunyikannya dan perlahan mengeluarkannya dengan cara ku sendiri.
Hari ini aku ada latihan Tinju, Vanya hari ini ikut dan dia bakalan jadi anak baru, karena kemarin-marin latihan tinju diliburin untuk sementara dan sekarang udah dimulai lagi.
“Vanya..” Panggil ku.
“Iya? Ada apa?” Tanya Vanya sama aku, masih dengan gandengan tangan.
“aku boleh Tanya sesuatu?” kataku masih ragu dengan apa yg mau aku tanyain.
“Iya boleh..” Kata Vanya dengan sedikit berpikir, tapi entah apa yg dipikirkannya, aku gak tau.
“Hem… kenapa kamu jarang masuk sekolah akhir-akhir ini?” Tanyaku dengan hati-hati, aku takut menyinggung perasaannya.
“Hahahaa…” Aku bingung si Vanya di Tanya malah ketawa ._.
“Vanya..?” Tanya ku lagi.
“Eh.. Iya, enggak aku tuh sering banget kesiangan.. soalnya..”
“Soalnya kamu belajar di rumah tante mu terus?” Sela ku, tapi sungguh aku gak bermaksud nyela penjelasan Vanya, tapi aku bener-bener pengen ngungkapin apa yg ada dipikiranku sekarang. Vanya keliatan kaget denger aku ngomong gitu.
“Maaf.. aku gak maksud gitu..” Kataku nyesel.
Vanya POV
HOREEE!! Hari ini aku latihan! Walaupun agak nervous, aku harus bisa! Hari ini, liam jemput aku, kami jalan kaki ke tempat ekskul tinju itu. Di perjalanan aku diem, liam juga. Kami gandengan tangan. :3 Aku lagi mikirin mau buka topik pembicaraan apa biar gak ada suasana kayak baru kenal gini.
“Vanya..” Tiba-tiba liam manggil aku. Wah, aku gak harus mikirin mau bicarain apa lagi karena liam udah manggil aku duluan. ;)
“Iya? Ada apa?” Tanya ku sama Liam, oiya kami masih gandengan tangan. ;)
“Aku boleh Tanya sesuatu?” Kata Liam yg keliatan ragu. Liam mau nanya? Aduhh nanya apa ya? Mudah-mudahan gak mengenai ‘kenapa aku jarang masuk sekolah?’
“Iya boleh..” Kataku sambil harap harap cemas.
“Hem… kenapa kamu jarang masuk sekolah akhir-akhir ini?” Tanya Liam dengan hati-hati. DUG!! Benerkan pemirsahh!! Liam nanya gitu.
“Hahahaa…” Oke, sekarang aku jadi orang gak jelas, ditanya malah ketawa._.
“Vanya..?” Panggil Liam, yg memberi kode agar aku menjawab pertanyaannya.
“Eh.. Iya, enggak aku tuh sering banget kesiangan.. soalnya..” Jelasku lagi nyari-nyari alesan yg masuk akal. Tapi..
“Soalnya kamu belajar di rumah tante mu terus?” Sela Liam, pas aku mau ngejelasin, aku kaget jawaban liam kayak gitu.
“Maaf.. aku gak maksud gitu..” Lanjutnya minta maaf
sama aku.
“Iya, gpp kali. Iya, aku jarang sekolah gara-gara nginep di rumah tante terus..” Kataku berusaha untuk se relax mungkin.
“Kenapa belajarnya harus sama tante kamu? Kan ada aku di deket kamu, kenapa gak sama aku aja?” Tanya liam, menuntut minta penjelasan sama aku. Aduh aku harus jawab apa ya.
“Kalo kamu gak mau jujur sekarang gpp, aku masih nanti jawaban kamu kok,” Kata Liam sambil senyum dan genggam tanganku lebih erat lagi :3
“Makasi..” Kataku lembut.
Liam POV
Vanya daritadi aku Tanya jawabannya aneh terus. Bikin kepo ._.
“Liam,kira-kira aku bisa gak ya?” tiba-tiba vanya nanya gitu ke aku, aku bingung._.
“Bisa apa Vanya?”
“Ya, itu latihan, aku takut seniornya kan temen kamu, jangan-jangan galak nantinya,” Kata Vanya khawatir,
Aku tersenyum dan ngerangkul vanya,
“Take it easy baby..”
“Kamu manggil aku beb?” Tanya vanya, sambil menghentikan langkahnya dan menatap aku lekat. :3
“Iya.. sayang..” eh aku kelepasan..
Author POV
Biar aku jelasin ya ;) jadi selama beberapa bulan bersahabat dekat dengan Vanya, si Liam mulai menyukai Vanya, karena suatu kejadian yg mereka alamin, yaitu pas liam lagi upacara disekolah, liam gak sarapan dan gak makan dari semalem, eh liam pingsan, pas itu Vanya bawa Liam ke UKS dan nemenin liam disana. Ternyata Liam gak sadarkan diri sampe bel pulang sekolah berbunyi. Vanya panik dan menelpon mamanya, dan liam pun dibawa kerumah sakit. Kata dokter ginjal liam yang satu gak berfungsi, gara-gara liam sering kecapean ._. jadi ginjalnya harus dipotong agar gak mempengaruhi kondisinya, tapi liam harus dijaga penuh tentang kondisinya setelah pemotongan ginjal. Vanya hanya bisa menangis. Setelah liam dioperasi, Vanya menunggui liam dirumah sakit seminggu lebih, dia rela ketinggalan pelajaran demi Liam. Mamanya Vanya juga ngijinin vanya untuk nemenin liam. Liam kagum banget sama vanya, padahal liam berusaha bikin vanya marah kayak misalnya, liam gak mau makan, liam mecahin gelas, liam ngeberantakin barang-barang di kamar rumah sakit itu, supaya Vanya kesel dan pulang, karena liam gak mau ngerepotin vanya. Tapi vanya tau maksud liam dan dia berusaha untuk sabar dan gak nyerah sampe liam sembuh vanya tetep stay beside liam ;). Disitulah perasaan liam mulai berkembang, perasaan cintanya sama Vanya mulai tumbuh, rasa sayangnya sama Vanya semakin lebih.. lebih.. Sepertinya vanya juga punya rasa yang sama. Tapi mereka belm pernah saling mengucap cinta. Mereka hanya menjalani persahabatan.
Liam POV
Aduh.. kelepasan aku bilang sayang, kataku dalam hati sambil membekap mulutku. Vanya menatapku heran dan langsung berjalan meninggalkan ku, aku bingung. Apa dia marah aku panggil sayang? Lalu aku buru-buru menyusulnya. Aku menarik tangannya dan dia menoleh.
“Kamu marah?”
“....”
“Jawab dong Vanya??” Kataku semakin tak sabaran..
“Aku...”
“Aku? Apa vanya? Apa maksud kamu?” Tanyaku yg udah muali kepo banget, takut-takut Vanya marah juga sih.
“Aku seneng malahan kamu panggil sayang..” Kata vanya dengan polosnya, ya ampun.. Aku kira dia marah._.
“Hahahaha..” tawaku meledak.
“Kok malah ketawa Liam._.?” Tanya Vanya sambil cemberut, lucu banget deh :3
“Gak, udah yuk ke tempat latihan ntar kita terlambat lagi ;)” Elak ku, aku gak mau Vanya nanya lebih lanjut tentang percakapan kita tadi.
“Oke, lets go ”
Kami latihan bareng temen-temen ku, Harry, Zayn, Louis, Niall dll.. gak nyangka si Vanya cepet banget akrab sama senior disini ^^ aku seneng kalo dia seneng. Aku ngajarin semua gerakan yang aku tau ke Vanya dan dia cepet tanggap, dia bilang aku baik hati :D .
*Saat sedang break time_*
Tiba-tiba Zayn menghampiriku..
“Liam, Vanya pacar kamu?”
Aku berpikir sebentar dan geleng, zayn nampak bingung, mungkin karena dia liat keakraban aku sama
vanya kayak pacaran kali ya ._.
“Dia sahabatku....” Jawabku datar
“Tapi.. Aku mencintainya, zayn..” Lirihku
“Kenapa gak nyatain perasaan kamu aja, Tanya deh dia punya perasaan yg sama gak sama kamu?” Nasehat Zayn pada ku.
“Aku gak tau.. harus gimana?” Jawabku pasrah, karena aku tau Vanya gak bakalan punya rasa lebih buat aku. Lebih dari seorang sahabat? Mana mungkin!
“Vanya juga cinta sama kamu..” Kata Zayn sambil natap aku.
“Kata siapa?” Tanyaku terkejut!
“Liat aja nih!” Kata zayn mengulurkan sebuah buku berwarna putih dan sampulnya ditempel foto aku dan vanya yg lagi di menara eiffel liburan kemarin. Setelah memberikan itu, Zayn bilang dia mau pulang, karena latihan telah usai. Lalu, Aku buka buku itu dan ternyata itu berisi tentang kisah Vanya, benar saja dia mencintaiku. Aku bisa menebak dia mencintaiku lewat sebuah puisi yg ada di belakang buku, yg ditempel beserta amplop bergambar teddy bear.
Tuhan…
Boleh gak aku mencintai sahabatku sendiri?
Boleh ya?
Tuhan…
Aku pengen hidupku lebih indah dengan adanya seorang kekasih..
Tapi..
Umurku udah gak lama lagi..
Apa mungkin, dia mencintaiku juga?
Tuhan..
Aku takut dia bikin aku patah hati..
Tuhan..
Jangan biarin air mata ini buat kesedihan ya?
Vanya gak mau Liam tau yg sebenernya..
Tentang perasaan Vanya sama Liam,
Juga penyakit Vanya :’)
Vanya gak mau Liam khawatir..
Tuhan..
Jaga rahasia hati ku ya..
Aku tau, Tuhan sayang sama aku…
Makanya aku dikasih penyakit ini,
Aku tau,
Semua yg Tuhan rencanain itu, baik buat aku,
Tuhan..
Biarin aja, Vanya sakit..
Tapi, aku bersyukur..
Hampir di setiap hariku,
Tuhan berikan aku kebahagiaan..
Hanya dengan bersamanya..
Biarpun aku gak bisa memiliki dia seutuhnya,
Aku udah seneng, bisa di dekatnya..
Diperhatiin..
Pokoknya Liam itu baik hati banget, Tuhan.
Tuhan..
Makasi buat segalanya..
Vanya Andlerson
Gak kerasa, aku mulai menitikkan air mata. Ternyata aku salah besar tentang menebak perasaan seseorang kepadaku. Aku jadi membenci diriku sendiri karena telah menggantungkan perasaan ku, padahal Vanya juga menggantungkan perasaannya padaku, aku tau, pasti Vanya sakit hati banget gara-gara dia kira, aku hanya nganggep dia sebagai sahabat, padahal nggak!
Aku membolak balik halamannya, aku menemukan sebuah rahasia!! Ini tentang diri Vanya yg sebenarnya, ASTAGA!!!
Tuhan..
Hari ini, aku mau curahin semuanya sama Tuhan lagi,
Hari ini, aku ngejalanin tranfusi darah lagi,..
Tuhan.. Badan ku semakin kurus, aku harap liam gak pernah nyadari itu..
Pembengkakan limpa dalam tubuhku juga mulai bertambah,
Wajahku semakin pucat,
Tapi aku sungguh mensyukuri, bahwa Tuhan, gak ngebiarin liam tau soal ini..
Tuhan.. aku capek harus tranfusi darah selama 10 jam, walau untuk 5 hari sekali..
Tapi, apa yg bisa ku perbuat?
Hanya berdo’a dan berusaha bertahan, dan mensyukuri nikmat yg Tuhan berikan buat aku..
Tuhan.. Kenapa penyakit ini muncul di hidupku?
Di saat aku mulai menyukai kehidupan ku?
Di saat aku merasakan bunga cinta di hatiku berkembang?
Di saat orang sebaik Liam hadir di kehidupanku?
Kenapa Tuhan??
Tuhan..
Aku mencintai Liam..
Tapi aku tau, aku gak pantas buat dia..
Aku tau itu, Tuhan..
Tuhan, kenapa aku gak punya kakak / adik?
Kalo aku punya slaah satu,
Mungkin mereka bisa menyumbangkan sumsum tulang belakangnya untukku..
Tapi kenapa aku harus jadi anak satu-satunya??
Kenapa??
Aku, minta maaf ..
Karena aku sering mengeluh tuhan..
Maafin aku..
Tuhan..
Aku udah pernah janji sama Mom..
Bahwa aku gak akan nyerah..
Aku gak takut apapun itu..
Terutama penyakitku yg mematikan ini..
Semua yg Tuhan berikan buat aku,..
Semua cobaan yg mengerikan,
Aku gak takut itu..
Sama sekali gak takut..
Aku Vanya, Tuhan..
Aku kuat dan gak takut oleh apapun..
Seperti yg di bilang mom sewaktu aku di vonis mengidap penyakit Thalassaemia ;)
Vanya Andlerson
ASTAGA!!! OH MY GOD!! Seburuk itukah aku? Sebodoh itukah aku? Sehingga tidak mengetahui sahabatku sendiri yg sedang sakit?? Seburuk itukah keadaannya?? Tuhannn…. Maafkan aku.. ._.
Vanya kenapa kamu gak pernah bilang ini semua sama aku?? Kenapa kamu anggep ini semua cukup kamu yg rasakan? Vanya aku sahabat mu!! Hargai aku… Vanya, kenapa kamu tega mendam perasaan itu? Cinta? Aku.. Oh.. baiklah, mungkin aku juga salah, maafin aku Vanya..
“Kamu nemuin itu dimana, Liam?” Kata vanya yg tiba-tiba duduk disampingku, aku buru-buru hapus air mataku, aku kira dia akan marah jika aku membaca seluruh isinya, tapi, dia tidak menampakan ekspresi marah. Melainkan dia menampakkan ekspresi wajah datar saja. Dia tersenyum.
“Jadi kamu udah tau semuanya?” tanyanya padaku, aku hanya ngangguk.
“Maafin aku liam, aku salah ya cinta sama kamu? Aku juga tadinya gak bakalan mau kamu tau, tapi buku itu hilang dan pas aku tadi nyari, tau-tau kamu lagi baca isinya, aku kiira kamu yg ambil, ternyata zayn yg nemuin buku itu..” Kata Vanya menyesal,
“Vanya, kenapa kamu nyimpen semua ini sendiri?? Kenapa??” Tanya ku, Vanya Cuma menitikan air mata. Aku menggenggam tangannya erat seerat mungkin! Seakan aku gak mau kehilangan dia.
“Vanya, kamu harus tau yaa.. beberapa bulan yg lalu, aku jatuh cinta sama kamu, tapi aku kira kamu gak cinta sama aku, kamu hanya menganggap aku sahabat, tapi nyatanya, kita punya perasaan yg sama, so.. would you be my girlfriend?” Kataku langsung to the point setelah selesai menjelaskan. Vanya hanya diam, aku degdeg an menanti jawabannya..
Tiba-tiba dia melompat dan memelukku,
“Of course, my baby Liam..” Kata vanya sambil memelukku erat..
“Thanks my angel.. mwaah” Kataku mengecup kening Vanya.
Lalu kami memutuskan untuk pulang, aku mampir kerumah Vanya, aku disuruh tante rini kekamarnya Vanya._. pas aku masuk, ada tulisan gede kayak poster dan gambarnya aku sama vanya dan disebelahnya ada tulisan “Suatu saat Liam itu pemilik hatiku.” Aku speechless.. aku mematung, vanya memelukku dari belakang.
“Aku udah punya poster itu dari pertama kita ngejalanin hubungan sahabat saat pulang dari pantai.. kamu inget?”
Aku tersenyum dan ngejawab.
“Aku inget.. baby..”
Kami saling pelukan..
Dalam hatiku berdo’a untuk Vanya..
Tuhan.. Hati kecilku kagum sama Vanya,
Dia seorang wanita yg hebat! Dia gak pernah takut oleh apa yg di deritanya,
Sekalipun itu mendekati maut!
Tuhan.. Biarlah Vanya merasakan kebahagiaan yg setimpal untuk mengimbangi penderitaannya selama ini..
Ku mohon..
Vanya POV
Tuhan..
Terima kasih, atas segalanya..
Terbalaslah sudah penderitaan ku ini dengan semua yg Tuhan berikan hari ini..
Aku bahagia..
Walau untuk sementara ..
Aku janji,..
Aku tetap jadi Vanya yg kuat..
Vanya yg gak takut oleh apapun..
Meskipun itu maut ;)
-THE END-
Pesan moral yang dapat diambil dari cerita diatas :
1). Belajarlah untuk berbuat baik kepada semua orang . Manfaatkan pula ilmu yang kita miliki untuk berbuat kebaikan dan berguna untuk orang banyak. Sebab, dengan berbuat hal yang baik, kita kan menuai hasil yang baik pula.
2). Kejujuran akan mendatangkan kebaikan.
Maaf ya ceritanya kurang bagus. Terus kalo ada pengetikan kata yang salah, dimaafin ya authornya ;)
Give me your comment!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar