Sejuknya
embun pagi telah terasa, merasuk kedalam paru-paru, keluar dengan lancarnya. Matahari
belum nampak sempurna, angin semilir memainkan ujung-ujung rambutku,
menari-nari diterpa angin. Sepagi ini seorang perempuan yang hanya ku miliki
dikehidupan ini, yang selalu ada untukku, dari aku belum mengerti apa itu
angin, apa itu bumi, sedari aku belum mengenal dunia, dia sudah berada
disamping ku. Bekerja demi menghidupi aku dan dirinya, tak mengenal seberapa
lelah dirinya, tak peduli sesakit apapun tubuhnya, ia tetap bekerja dan terus
bekerja, tak menghiraukan seberapa upah yang ia terima, dalam benak dan
pikirannya hanyalah rezeki yang halal. Tak memperdulikan resiko pekerjaan itu
untuk dirinya. Dia hanya berpikir tentang masa depanku, cita-cita ku, kebahagiaan
ku. Terkadang, akulah yang terlewat tega, aku tak pernah membuatnya bangga
padaku, senang karena prestasiku. Aku hanya menodai jasa murni, tulus dan
ikhlas darinya. Tapi, ia selalu berusaha, bekerja keras demi aku. Jasanya takkan
bisa terbalaskan oleh apapun. Ialah penerang bagiku, ia inspirasiku, ia seorang
yang paling berjasa dikehidupan duniawi ku. Namun, pengakuanku sudah terbilang
terlambat, waktu yang kumiliki dulu, hanya untuk mengecewakannya, marah
padanya, selalu menuntut, tak pernah mensyukuri apa yang telah ia usahakan
untuk diriku, tak berterima kasih atas pengorbanannya selama 18 tahun ini, aku
baru menyadari akan hal itu saat ini, saat ia sudah tak dapat melihat indahnya
surga dunia, teknologi yang maju, raut wajahku saat menginjak usia 18 tahun
untuk beranjak dewasa. Terlambatlah sudah, penyesalanku, semuanya, semua
penyesalanku terhadapnya sudah terlambat. Penyesalanku terhadap Ibu ku sudah
terlambat, ya, dialah Ibu ku, dia Ibu tercinta ku.
31 Desember 2010
Malam
ini aku hanya merutuki diriku, nasibku, aku hanya mengurung diri dikamar yang
lebih layak aku sebut sebagai gubuk kumuh. Disanalah tempatku tidur, tempatku
meratapi nasib burukku, tempatku untuk meluapkan semua amarahku yang tak dapat
ku bendung lagi. Aku marah pada ibu ku, dia mengingkari janjinya pada Ayah.
“Nak, bukalah pintunya, kamu marah sama Ibu? Maafkan Ibu, nak.” Kata seseorang dari balik pintu kamarku, dan aku sudah mengetahuinya, si empunya suara adalah Ibu.
“Aku takkan membuka pintunya, sampai Ibu membelikanku baju dan sepatu baru itu!” Kataku lantang sambil menatap wajahku didepan cermin.
“Ibu mohon, nak. Ibu memang tidak bisa membahagiakan kamu, tapi tolonglah, mengerti keadaan kita. Kamu kan tau sendiri, Ibu bekerja dengan upah yang hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah kamu.” Kata Ibu menjelaskan, Ibu masih tetap dibalik pintu kamarku, ia masih menunggu respon dariku.
“Iya, sejak Ayah tiada, Ibu memang tidak pernah mebuat Laras bahagia. Mlah, Laras merasa tersiksa!” Saat aku menjawab, sepertinya Ibu sudah tidak ada dibalik pintu kamarku. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur saja. Aku terlelap diatas sebuah ranjang dengan kasur lusuh, demikian juga dengan baju ku yang tak kalah lusuhnya dengan kasur yang berumur belasan tahun itu.
“Nak, bukalah pintunya, kamu marah sama Ibu? Maafkan Ibu, nak.” Kata seseorang dari balik pintu kamarku, dan aku sudah mengetahuinya, si empunya suara adalah Ibu.
“Aku takkan membuka pintunya, sampai Ibu membelikanku baju dan sepatu baru itu!” Kataku lantang sambil menatap wajahku didepan cermin.
“Ibu mohon, nak. Ibu memang tidak bisa membahagiakan kamu, tapi tolonglah, mengerti keadaan kita. Kamu kan tau sendiri, Ibu bekerja dengan upah yang hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah kamu.” Kata Ibu menjelaskan, Ibu masih tetap dibalik pintu kamarku, ia masih menunggu respon dariku.
“Iya, sejak Ayah tiada, Ibu memang tidak pernah mebuat Laras bahagia. Mlah, Laras merasa tersiksa!” Saat aku menjawab, sepertinya Ibu sudah tidak ada dibalik pintu kamarku. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur saja. Aku terlelap diatas sebuah ranjang dengan kasur lusuh, demikian juga dengan baju ku yang tak kalah lusuhnya dengan kasur yang berumur belasan tahun itu.
(---0---)
‘Tok-tok-tok’
terdengar ketukan pintu pada alat pendengaranku, namun aku mengacuhkan suara
ketukan tersebut, aku tak perduli siapapun yang mengetuk pintu itu, aku tetap
mengabaikannya. Lama-kelamaan ketukan tersebut semakin keras dan membuat
telingaku berdengung, aku menutup saluran pendengaranku dengan bantal tipis
yang sepertinya tak layak untuk disebut sebagai bantal. Dan sekarang aku
mendengar samar-samar suara seseorang yang mengundang namaku, sepertinya dengan
suara yang terbilang seperti speaker musholla, terdengar remang-remang karena
aku menutup telingaku. Akhirnya dengan sangat malas aku membuka pintu, bagaikan
berjalan dengan kaki yang terbebqani oleh beban yang sangatlah tak pantas untuk
ku pikul. Saat aku membuka pintu, aku baru sadar bahwa si empunya suara tadi
adalah seorang laki-laki.
“Ada apa?” Tanayaku dengan nada yang datar. Manik hitamnya menatapku tajam.
“Keterlaluan, Ibu mu sakit dan sekarang dia dirumah sakit!” Kata seorang si empunya suara tadi sambil memarahiku. Aku tidak terkejut.
“Lalu, aku harus apa?” kataku masih tidak perduli, dia menarik tanganku keluar dari kamar.
“Eh berani sekali kau ini!!” Kataku sambil melepasakan genggaman tangannya.
“Kau tak perduli penyakit yang diderita ibumu?” Katanya, aku hanya diam, dia terlihat tidak sabaran melihat aku dan berkata.
“Jawab!!”
“Ya, akub tak mau tau! Karena kau sudah mengetahuinya, paling-paling Ibu hanya sakit biasa.” Kataku dengan santainya,
“Benar-benar kau ini.” Katanya dan berlalu pergi meninggalkan ku. Paman ku sudah pergi dan aku kembali kedalam kamar. Ya, si empunya suara tadi adalah paman ku. Kakak daripada ibu ku, yang berprofesi sebagai petani.
“Ada apa?” Tanayaku dengan nada yang datar. Manik hitamnya menatapku tajam.
“Keterlaluan, Ibu mu sakit dan sekarang dia dirumah sakit!” Kata seorang si empunya suara tadi sambil memarahiku. Aku tidak terkejut.
“Lalu, aku harus apa?” kataku masih tidak perduli, dia menarik tanganku keluar dari kamar.
“Eh berani sekali kau ini!!” Kataku sambil melepasakan genggaman tangannya.
“Kau tak perduli penyakit yang diderita ibumu?” Katanya, aku hanya diam, dia terlihat tidak sabaran melihat aku dan berkata.
“Jawab!!”
“Ya, akub tak mau tau! Karena kau sudah mengetahuinya, paling-paling Ibu hanya sakit biasa.” Kataku dengan santainya,
“Benar-benar kau ini.” Katanya dan berlalu pergi meninggalkan ku. Paman ku sudah pergi dan aku kembali kedalam kamar. Ya, si empunya suara tadi adalah paman ku. Kakak daripada ibu ku, yang berprofesi sebagai petani.
(---0---)
sudah 2
hari Ibu dirumah sakit, dan aku mulai merasa bahwa sakit yang diderita ibu
bukanlah sakit biasa. Tapi kata paman andre, hari ini ibu pulang dari rumah
sakit. Beberapa hari telah berlalu, kulihat keadaan ibu dirumah ataupun bekerja
amat sangat berbeda dari sebelumnya, ibu sering batuk-batuk, mimisan, dan
pingsan secara tiba-tiba. Bodohnya, aku tidak pernah menanyakan hal itu pada
Ibu. Aku hanya bersikap seolah tidak perduli. Terkadang aku juga masih marah
pada Ibu jika ibu tak bisa memenuhi keinginanku.
21 April 2021 { 21.00 }
Hari demi
hari yang selalu kuanggap hari yang buruk, terlewati bersama Ibu ku yang selalu
sakit-sakitan. Dia masih bekerja seperti dulu. Aku sudah jarang sekolah, karena
permasalahan biaya. Besok adalah hari ulang tahunku, aku meminta uang pada ibu
untuk mentraktir teman-teman dekatku, teman-teman yang 1 kubu denganku,
“Bu, pokoknya besok uangnya harus sudah ada!” kataku saat aku dan Ibu sedang makan malam dengan lauk yang sangat sederhana sepiring nasi dan tahu beserta air putih.
“Iya, ibu usahakan ya, nanti.” Kata ibu dan aku melirik ibu sambil berkata.
“Yaudah, gak usah pake diusahakan, bilang aja ibu tak mau memberi uang itu.” Aku mulai marah saat itu.
“Iya, kan kita tidak tau rejeki datangnya kapan.” Kata Ibu lembut padaku.
“Aku benci sama Ibu! Mendingan Laras keluar aja dari gubuk derita ini!” kataku dan pergi keluar rumah, Ibu menyusulku, dan tiba-tiba saja hujan deras mengguyur daerah perkampungan didesa ku. Aku terus berlari dan berlari, tak peduli Ibu engejarku. Saat aku menoleh kebelakang untuk mengatakan sesuatu
“Bu, pokoknya besok uangnya harus sudah ada!” kataku saat aku dan Ibu sedang makan malam dengan lauk yang sangat sederhana sepiring nasi dan tahu beserta air putih.
“Iya, ibu usahakan ya, nanti.” Kata ibu dan aku melirik ibu sambil berkata.
“Yaudah, gak usah pake diusahakan, bilang aja ibu tak mau memberi uang itu.” Aku mulai marah saat itu.
“Iya, kan kita tidak tau rejeki datangnya kapan.” Kata Ibu lembut padaku.
“Aku benci sama Ibu! Mendingan Laras keluar aja dari gubuk derita ini!” kataku dan pergi keluar rumah, Ibu menyusulku, dan tiba-tiba saja hujan deras mengguyur daerah perkampungan didesa ku. Aku terus berlari dan berlari, tak peduli Ibu engejarku. Saat aku menoleh kebelakang untuk mengatakan sesuatu
(---0---)
21 April 2012 { 21.45 }
Bau peralatan
medis menusuk indera penciumanku, aku mengalami kecelakaan, kaki ku patah dan
mata ku tak dapat melihat dunia, hanya gelap dan gelap. Dan sekarang aku
diruang operasi. Dokter bilang, ada yang ingin mendonorkan kornea matanya
untukku, sungguh mulia orang itu. Beberapa jam aku menjalani operasi hingga
akhirnya aku dibawa keruang perawatan. Ibu dan paman Andre ada disana. Ada juga
warga sekitar rumahku yang datang, sekedar menjenguk dan memberikan bantuan
biaya operasi untuk ku.
(---0---)
21 April 2012 { 24.56 }
Aku sudah
sadar, sekrang dokter akan membuka perban mataku, ya, sebentar lagi aku akan
bisa melihat indahnya dunia lagi. Pembukaan perban telah selesai, sekarang
perlahan aku membuka kelopak mataku yang terasa lengket. Aku bisa melihat!
“Aku bisa melihat!” Kataku dengan riangnya. Dokter itu melihat pundakku, aku menoleh kearahnya.
“Tidakkah kau ingin tau siapa orang yang rela mengorbankan kornea matanya demi mu?” Tanya dokter itu.
“Tentu saja, dia pastilah orang yang sangat mulia.” Kata ku
“Dialah Ibumu..” Kata dokter itu. Mendengar jawabannya aku terkejut bukan main. Ibu? Dia rela tak dapat melihat dunia demi aku? Ibu ku yang selalu ku kecewakan, ibuku yang selalu ku maki dengan kata-kata yang tak sepntasnya keluar dari mulutku. Aku menangis, menyesali perbuatanku pada ibu.
“Ibu..” kataku dengan berlinang airmata. Ibu ku memberi seulas senyumnya.
“Ibu, maafkan aku ibu, aku anak yang bodoh! Aku menyesal bu..” Kataku seraya memeluk ibu.
“Jangan bilang kau bodoh, kau anak yang pintar yang pernah ibu miliki. Hanya inilah yang bisa Ibu perbuat, maafkan ibu jika tak pernah membuat kamu bahagia, laras.” Mendengar jawaban ibu, tangisku semakin pecah dalam pelukannya.
“Tidak, Bu, tidak! Ibu adalah orang yang paling mulia, terima kasih,bu. Aku anggap inisebagai hadiah ulang tahun terbaik sepanjang hidupku dari ibu.” Kami saling berpeluk erat.
“Aku bisa melihat!” Kataku dengan riangnya. Dokter itu melihat pundakku, aku menoleh kearahnya.
“Tidakkah kau ingin tau siapa orang yang rela mengorbankan kornea matanya demi mu?” Tanya dokter itu.
“Tentu saja, dia pastilah orang yang sangat mulia.” Kata ku
“Dialah Ibumu..” Kata dokter itu. Mendengar jawabannya aku terkejut bukan main. Ibu? Dia rela tak dapat melihat dunia demi aku? Ibu ku yang selalu ku kecewakan, ibuku yang selalu ku maki dengan kata-kata yang tak sepntasnya keluar dari mulutku. Aku menangis, menyesali perbuatanku pada ibu.
“Ibu..” kataku dengan berlinang airmata. Ibu ku memberi seulas senyumnya.
“Ibu, maafkan aku ibu, aku anak yang bodoh! Aku menyesal bu..” Kataku seraya memeluk ibu.
“Jangan bilang kau bodoh, kau anak yang pintar yang pernah ibu miliki. Hanya inilah yang bisa Ibu perbuat, maafkan ibu jika tak pernah membuat kamu bahagia, laras.” Mendengar jawaban ibu, tangisku semakin pecah dalam pelukannya.
“Tidak, Bu, tidak! Ibu adalah orang yang paling mulia, terima kasih,bu. Aku anggap inisebagai hadiah ulang tahun terbaik sepanjang hidupku dari ibu.” Kami saling berpeluk erat.
(---0---)
setelah kejadian tersebut menimpa
aku dan ibu ku, aku mulai menyesal dan menyadari betapa mulianya seorang ibu,
walaupun penyesalanku terbilang terlambat dan sudah terlanjur, aku akan
berusaha membahagiakannya, walau jasanya takkan pernah terbalaskan olehku.
Terima kasih Ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar