I'm Taken with Zayn
WRITER WANNABE HERE :)


Senin, 10 Desember 2012

Liam Love Story – She’s Not Afraid Anything by @Nabilla_Cullens

Liam Long Story – She’s Not Afraid Anything by

Enjoy reading and i hope you like it!^^

Pagi yang cerah, sinar matahari telah muncul di depan jendela dengan bingkai jendela berwarna coklat tua dari kayu jati yang terbilang kokoh. Pagi ini cerah, secerah wajah laki-laki yang terlihat senang setiap hari, tapi mungkin,tidak untuk pagi ini._. ya dialah Liam Payne, dia seorang Petinju, ehm.. bukan petinju yang terkenal melainkan dia seorang pemain olahraga tinju yang bermain di salah satu cabang olahraga tinju disekolahnya, tepatnya, kita biasa menyebut kegiatan disekolah dengan sebutan ekskul, ya Liam ikut ekskul tinju sejak duduk di kelas 1 SMA. Sebenarnya, mamanya Liam sama sekali tidak menunjukan dukungannya akan kegiatan yang Liam ikuti disekolah selama 2th ini, namun ayahnya Liam sangatlah mendukung apa yang Liam hobi kan, seperti Bertinju, dan Bernyanyi. Dan dukungan ayahnya lah yang membuat Liam tetap pada ekskul tersebut, sebenarnya mamanya Liam mau saja mendukung Liam untuk hal itu, namun mamanya Liam hanya tidak ingin melihat Liam, anak kesayangannya (alesan mamanya Liam nyebut kesayangannya ya, karena dia anak satu-satunya. ) babak belur karena, pernah sekitar 1thn yang lalu, saat Liam mengikuti lomba Tinju untuk pertama kalinya, dia kalah dan wajahnya ancur, eh gak ancur-ancur banget sih, Cuma ya, ada bekas tonjokan gitu didaerah wajahnya, terus Liam juga ngalamin patah di jari kelingking yang kiri, saat itu juga mama Liam mulai ngelarang Liam untuk ngikutin ekskul itu lebih lanjut. Tapi ternyata Liam secara diam-diam terus ngikutin ekskul itu tanpa sepengetahuan mamanya. Kalo-kalo pas dia butuh dana untuk bayaran yang cukup mahal, maka dia bakalan minta bantuan sama Ayahnya, oiya jadi Ayahnya Liam itu tetep ngedukung Liam dengan aksi tinjunya^^ makanya Liam berani ikut ekskul itu lebih lanjut, selain dia hobi tinju, dia juga dapet dukungan dari Ayahnya, walaupun Mamanya bersikeras ngelarang.


Liam POV

Hari sudah pagi, matahari telah memunculkan sinarnya dan menembus jendela kamar ku. Pagi ini, rasanya aku terlalu lelah, gara-gara semalam sampai larut malam aku mengerjakan tugas presentasi, rasanya mataku tak bisa diajak kompromi, begitu juga dengan tubuhku yang masih terkulai lemas diatas kasur, aku rasa aku tidak dapat mengikuti pelajaran hari ini di sekolah, aku harus ijin sama Mom dulu, tapi tubuhku kembali lemas dan aku masih saja terkapar diatas springbed hitam dengan motif bola juventus, badanku enggan beranjak dari kasur, yasudah mau tak mau,aku harus sabar menunggu my Mom mengahmpiriku dan melihat kondisiku dikamar. *sabar ya bebep Liam* *ditimpuk sendok*.
“Where liam? why he had not yet ready to go to school? whether he was sick?” Tanya Ayah kepada Mom yang sedang membawakan nampan yang berisi roti panggang dengan paduan selai mocca dan kacang, serta 3 cangkir kopi susu.

“I don t know, maybe he was sick, i will look it up in the room.” Jawab Mom, dan dia menaruh nampan lalu bergegas menaiki tangga ke lantai 2,untuk melihat keadaan ku. Dady hanya mengangguk memberi tanda setuju sambil menyeruput kopi susu yang masih panas._. akan apa yang ingin dilakukan mom.*awas daddy nya Liam ntar mulutnya monyong minum kopi panas-_-V* . Terdengar suara derap kaki diatas lantai kayu-kayu rumah ku,ya, rumah ku memang di desain dengan tema serba kayu jati, diantara tetangga2 ku rumah ku lah yang paling mencolok karena model bangunannya. Lalu, makin lama derap kaki tersebut makin mendekat, aku berpikir bahwa itu kucingku, tapi aku merasa itu bukan kucing, dan aku berpikir lagi bahwa itu dad, “Dad, is that you?” lalu, derap kaki itu tidak terdengar lagi, perasaanku semakin aneh, dan tiba-tiba seperti ada suara derap kaki yang terburu-buru atau bisa dibilang berlari dan ‘CKLEK!’ Sukses suara pintu kamarku terbuka dan membuat jantungku melompat! Aku kaget setengah mati._. ternyata itu Mom.

“Oh my god i think you kidnappers, mom. I’m sorry.” Kataku meminta maaf sama mom, karena aku pikir dia seorang penculik yang akan menyakiti ku ._. tapi mom malah menghela nafas, seperti nafas kelegaan.

“Noproblem,honey, I just saw your condition, are you alright?” Tanya mom, seraya menghampiriku dan memegang dahi ku, dia mengelus rambutku lembut, dan memegang tanganku sambil tersenyum.

“Don’t worry about me, mom, i just tired, i need more sleep.” Kataku, sambil memegang tangan mom, dan tersenyum. Mom hanya mengangguk dan menyelimutiku, dia mengecup keningku sambil berkata.

“Make yourself comfortable, beb.” Dan dia pergi keluar kamarku, dan menutup pintu.

“Yeah,mom.” Jawabku dan langsung membenamkan kepalaku kedalam selimut begitu juga seluruh tubuhku, dan dalam sekejap, aku terlelap.

“Whether liam all right?” tanya dad ketika mom turun dari kamarku dan duduk didepan dad yang sedang membaca koran. Mom menyeruput kopi susu yang tadi dia buat, yang sudah tidak panas lagi.

“Yeah, Liam just tired and need more sleep. He said don’t worry about him.” Kata mom dan mulai memakan roti panggang yang sudah mulai dingin, karena gak dimakan beberapa menit yang lalu. –“-

Aku terbangun dan kubuka selimut yang menyelimuti tubuhku lembut dan hangat, aku lirik jam di meja belajarku, jam menunjukan sekitar pukul 2 siang, aku sudah merasa lebih baik dan aku putuskan untuk kebawah, menemui mom, untuk memberi tahunya bahwa aku baik-baik saja, aku tak mau membuat dia khawatir.

“Mom, i wake up, look at me, i’m fine.” Kataku seraya memeluk mom dari belakang, dia berbalik dan tersenyum menatapku.

“Good, sounds great,Liam.” Mom merapikan rambutku dan mengelap wajahku dengan tisu lembut, lalu menarik tanganku, dia mengajakku ke ruang tamu aku tidak tau ada apa sebenarnya, aku hanya diam. Sampai diruang tamu, ternyata ada 2 orang wanita, yang 1 sebaya dengan mom, dan yang 1 lagi, sepertinya sebaya denganku, rambut wanita yang sebaya denganku berwarna hitam pekat, dan kulitnya pucat, tapi dia terlihat manis, dia juga tersenyum kearahku, dan senyumnya disertai lesung pipi, yang membuat senyumannya terlihat ‘perfect’ aku tersenyum juga kearah nya.

“Ini dia, anakku, namanya Liam, gimana? Ganteng kan Vanya?” kata mom mengenalkan ku ke wanita yg punya senyum perfect itu, aku hanya bergumam ‘’mooommm!!’’ wanita itu ternyata namanya Vanya, dan aku bersalaman dengan Tante rini

“Eh,Liam udah besar ya, masih ikut tinju? Kalo masih si Vanya juga mau tuh, katanya dia mau ngerasain tinju itu kayak apa.” Kata mamanya Vanya, aku hanya tersenyum, lalu giliran Vanya menjabat tanganku, aduh degdeg an nih._.

“Liam..” Kataku dan dia balas “Vanya.” Lalu Vanya duduk manis,aku pun juga duduk manis._. kami ngobrol-ngbrol sampe akhirnya mom dan tante rini, ninggalin aku sama Vanya berdua doang, alesannya mereka mau masak kue. Aku mencoba membuka topik pembicaraan, tapi aku putusin untuk ngajak dia kekolam renang dibelakang rumahku.

“Vanya..”

“Iya?”

“Ke kolam renang yuk dibelakang,mau?”

“Oke,”

Aku menggandeng tangannya, beberapa menit, sekitar 30 menit, aku sudah akrab dengan Vanya, dia ternyata wanita yang asik dan gampang bergaul, katanya, dia mau pindah ke sini dan jadi tetangga ku, dia juga daftar disekolah yang sama denganku, aku senang mendengarnya, terlebih dia mau ikut ekskul tinju dan dia minta aku yang ngajarin dia, karena aku kan udah jadi senior disana. Dan kabar terbaiknya, mom udah ngijinin aku untuk lanjut ekskul tinju

                                                                             ######

Liam POV



“Permisi…” Kataku sambil menekan bel yg ada di rumah Vanya. Aku pengen jemput Vanya pergi ke sekolah.
1 menit, 2 menit, 3 menit…… 10 menit! Aku tungguin Vanya, tapi gak ada respon apapun dari keluarganya. Aku mau berangkat sekolah sendiri aja deh, pas aku berbalik badan,..

“Liammm!! Aduh maaf ya, kamu udah lama nunggu ya?” Kata Vanya ngagetin aku ._.

“I.. Iya, Vanya.. Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya ku bingung.
Vanya Cuma senyum denger pertanyaanku dan langsung gandeng aku keluar dari pekarangan rumahnya.

Vanya POV


“Mommmm!!!!” Teriakku histeris, gara-gara liat jam udah jam 6.30 , padahal jam 6.50 Liam bakalan jemput aku.
“Ada apa sih Vanya? Pagi-pagi kok teriak-teriak?” Kata Mom, sambil terheran-heran ngeliat aku buru-buru pake baju rapi dan sepatu.
“Mom lupa? Ini udah jam berapa? Sebentar lagi liam pasti bakalan ke rumah dan jemput aku!!” kata ku dan mulai merapikan semua buku-buku ke dalam tas. Mom tersenyum dan mulai melangkah mendekatiku, dia merangkul ku.

“sayang, kamu lupa? Kamu masih belom boleh pulang, kan nanti siang pulangnya. Lagian Cuma 5 hari sekali kok.” Bisik mom menasihatiku.

“Gak bisa, mom. Gak bisa gini caranya, aku harus sekolah, biar Liam gak curiga, biar Liam gak nanya-nanya kenapa aku jarang sekolah..” Jelasku sama Mom.

“Yaudah, mom siapin mobil. Kamu minum dulu sana.. “ aku gak nurutin perintah mom, tapi, aku langsung buntutin mom menuju mobil. Mom Cuma geleng kepala liat sikap aku.
Arrived at my home
MATII AJA DEH AKUU!!! LIAM UDAH ADA DI DEPAN RUMAH!! Daannn… Dia,,, mau pergi.. Apa mungkin dia nungguinnya udah kelamaan ya? Aduh aku harus gimana ya? ._.

“Mom.. aku minta, mom matiin mobil sekarang.” Kataku pelan. Mom matiin mobil.

“sekarang, aku minta mom jangan keluar dari mobil ya, aku mau berangkat sama Liam.. dan terakhir mom jangan pernah bilang sama Liam kenapa aku tadi dari luar rumah, dan gak ada dirumah..” Aku ngecup kening mom dan berjalan keluar mobil dengan langkah setenang mungkin. Aku atur ritme nafasku biar gak keliatan nervous.

“Liammm!! Aduh maaf ya, kamu udah lama nunggu ya?” Kata ku, kayaknya Liam kaget deh._.

“I.. Iya, Vanya.. Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya Liam yg jelas banget dari raut mukanya keliatan bingung.
Ha? Aduh gimana nihh.. hem.. tenang Vanya, kamu bisa.. akhirnya aku senyum aja deh, biar gak keliatan nervous aku gandeng tangan liam yg masih bingung keluar dari pekarangan rumah ke sekolah. ;)

Otw school


“Liam.. kok kamu diem aja sih?” Tanyaku yg gak enak hati liat Liam diem terus.

“Eh.. Ya? Ada apa?” Jawab Liam, kayaknya dia lagi ngelamun.

“Kamu ngelamun ya?” selidik ku.

“Enggak kok, btw, udah siap ulangan matematika?” Tanya Liam membuka topik pembicaraan baru. Eh? Ulangan matematika? Hari ini? Ha? Mati aku! Aku belum belajar sama sekali._.

“Hem.. Siap dong!! Kan semalem aku belajar sama tante ku.. sampe larut malem malahan..” Dusta ku.

“Ohya? Wah, berarti tadi malem kamu nginep di rumah tante ya? Makanya kamu tadi tiba-tiba ngagetin aku dari luar..” Tebak Liam.
Wah, pas banget nih!! Dalem hatiku._.

“I.. Iya.. Hehe..” Kataku meringis.

                                                             ######

Liam POV


Gak kerasa banget udah 4 bulan aku sahabatan sama Vanya, mom sama tante rini juga tambah akrab karena satu kantor. Dan hari-hari ku selama sama Vanya selalu buat aku bahagia, tapi ada perasaan gelisah yg selalu menggelayuti ku, perasaan itu muncul sejak kejadian aku pingsan saat upacara sekolah, aku gak tau perasaan apa itu, tapi perasaan itu aku yakini adanya, perasaan itu amatlah abstrak, gak bisa di lihat, tapi aku dapat merasakannya. Setiap detik yg ku lalui tanpa Vanya, perasaan itu datang, setiap waktu Vanya gak masuk sekolah, perasaan itu mulai berkembang, seiring berjalannya waktu ku bersama Vanya, perasaan itu mulai tumbuh, memuncak dan semakin meluap. Aku hampir gak bisa menahan rasa itu untuk keluar, tapi akhirnya aku bisa menyembunyikannya dan perlahan mengeluarkannya dengan cara ku sendiri.
Hari ini aku ada latihan Tinju, Vanya hari ini ikut dan dia bakalan jadi anak baru, karena kemarin-marin latihan tinju diliburin untuk sementara dan sekarang udah dimulai lagi.

“Vanya..” Panggil ku.

“Iya? Ada apa?” Tanya Vanya sama aku, masih dengan gandengan tangan.

“aku boleh Tanya sesuatu?” kataku masih ragu dengan apa yg mau aku tanyain.

“Iya boleh..” Kata Vanya dengan sedikit berpikir, tapi entah apa yg dipikirkannya, aku gak tau.

“Hem… kenapa kamu jarang masuk sekolah akhir-akhir ini?” Tanyaku dengan hati-hati, aku takut menyinggung perasaannya.

“Hahahaa…” Aku bingung si Vanya di Tanya malah ketawa ._.

“Vanya..?” Tanya ku lagi.

“Eh.. Iya, enggak aku tuh sering banget kesiangan.. soalnya..”

“Soalnya kamu belajar di rumah tante mu terus?” Sela ku, tapi sungguh aku gak bermaksud nyela penjelasan Vanya, tapi aku bener-bener pengen ngungkapin apa yg ada dipikiranku sekarang. Vanya keliatan kaget denger aku ngomong gitu.

“Maaf.. aku gak maksud gitu..” Kataku nyesel.

Vanya POV


HOREEE!! Hari ini aku latihan! Walaupun agak nervous, aku harus bisa! Hari ini, liam jemput aku, kami jalan kaki ke tempat ekskul tinju itu. Di perjalanan aku diem, liam juga. Kami gandengan tangan. :3 Aku lagi mikirin mau buka topik pembicaraan apa biar gak ada suasana kayak baru kenal gini.

“Vanya..” Tiba-tiba liam manggil aku. Wah, aku gak harus mikirin mau bicarain apa lagi karena liam udah manggil aku duluan. ;)

“Iya? Ada apa?” Tanya ku sama Liam, oiya kami masih gandengan tangan. ;)

“Aku boleh Tanya sesuatu?” Kata Liam yg keliatan ragu. Liam mau nanya? Aduhh nanya apa ya? Mudah-mudahan gak mengenai ‘kenapa aku jarang masuk sekolah?’

“Iya boleh..” Kataku sambil harap harap cemas.

“Hem… kenapa kamu jarang masuk sekolah akhir-akhir ini?” Tanya Liam dengan hati-hati. DUG!! Benerkan pemirsahh!! Liam nanya gitu.

“Hahahaa…” Oke, sekarang aku jadi orang gak jelas, ditanya malah ketawa._.

“Vanya..?” Panggil Liam, yg memberi kode agar aku menjawab pertanyaannya.

“Eh.. Iya, enggak aku tuh sering banget kesiangan.. soalnya..” Jelasku lagi nyari-nyari alesan yg masuk akal. Tapi..

“Soalnya kamu belajar di rumah tante mu terus?” Sela Liam, pas aku mau ngejelasin, aku kaget jawaban liam kayak gitu.

“Maaf.. aku gak maksud gitu..” Lanjutnya minta maaf
sama aku.

“Iya, gpp kali. Iya, aku jarang sekolah gara-gara nginep di rumah tante terus..” Kataku berusaha untuk se relax mungkin.

“Kenapa belajarnya harus sama tante kamu? Kan ada aku di deket kamu, kenapa gak sama aku aja?” Tanya liam, menuntut minta penjelasan sama aku. Aduh aku harus jawab apa ya.

“Kalo kamu gak mau jujur sekarang gpp, aku masih nanti jawaban kamu kok,” Kata Liam sambil senyum dan genggam tanganku lebih erat lagi :3

“Makasi..” Kataku lembut.


Liam POV


Vanya daritadi aku Tanya jawabannya aneh terus. Bikin kepo ._.

“Liam,kira-kira aku bisa gak ya?” tiba-tiba vanya nanya gitu ke aku, aku bingung._.

“Bisa apa Vanya?”

“Ya, itu latihan, aku takut seniornya kan temen kamu, jangan-jangan galak nantinya,” Kata Vanya khawatir,
Aku tersenyum dan ngerangkul vanya,

“Take it easy baby..”

“Kamu manggil aku beb?” Tanya vanya, sambil menghentikan langkahnya dan menatap aku lekat. :3

“Iya.. sayang..” eh aku kelepasan..

Author POV

Biar aku jelasin ya ;) jadi selama beberapa bulan bersahabat dekat dengan Vanya, si Liam mulai menyukai Vanya, karena suatu kejadian yg mereka alamin, yaitu pas liam lagi upacara disekolah, liam gak sarapan dan gak makan dari semalem, eh liam pingsan, pas itu Vanya bawa Liam ke UKS dan nemenin liam disana. Ternyata Liam gak sadarkan diri sampe bel pulang sekolah berbunyi. Vanya panik dan menelpon mamanya, dan liam pun dibawa kerumah sakit. Kata dokter ginjal liam yang satu gak berfungsi, gara-gara liam sering kecapean ._. jadi ginjalnya harus dipotong agar gak mempengaruhi kondisinya, tapi liam harus dijaga penuh tentang kondisinya setelah pemotongan ginjal. Vanya hanya bisa menangis. Setelah liam dioperasi, Vanya menunggui liam dirumah sakit seminggu lebih, dia rela ketinggalan pelajaran demi Liam. Mamanya Vanya juga ngijinin vanya untuk nemenin liam. Liam kagum banget sama vanya, padahal liam berusaha bikin vanya marah kayak misalnya, liam gak mau makan, liam mecahin gelas, liam ngeberantakin barang-barang di kamar rumah sakit itu, supaya Vanya kesel dan pulang, karena liam gak mau ngerepotin vanya. Tapi vanya tau maksud liam dan dia berusaha untuk sabar dan gak nyerah sampe liam sembuh vanya tetep stay beside liam ;). Disitulah perasaan liam mulai berkembang, perasaan cintanya sama Vanya mulai tumbuh, rasa sayangnya sama Vanya semakin lebih.. lebih.. Sepertinya vanya juga punya rasa yang sama. Tapi mereka belm pernah saling mengucap cinta. Mereka hanya menjalani persahabatan.

Liam POV

Aduh.. kelepasan aku bilang sayang, kataku dalam hati sambil membekap mulutku. Vanya menatapku heran dan langsung berjalan meninggalkan ku, aku bingung. Apa dia marah aku panggil sayang? Lalu aku buru-buru menyusulnya. Aku menarik tangannya dan dia menoleh.
“Kamu marah?”

“....”

“Jawab dong Vanya??” Kataku semakin tak sabaran..

“Aku...”

“Aku? Apa vanya? Apa maksud kamu?” Tanyaku yg udah muali kepo banget, takut-takut Vanya marah juga sih.

“Aku seneng malahan kamu panggil sayang..” Kata vanya dengan polosnya, ya ampun.. Aku kira dia marah._.

“Hahahaha..” tawaku meledak.

“Kok malah ketawa Liam._.?” Tanya Vanya sambil cemberut, lucu banget deh :3

“Gak, udah yuk ke tempat latihan ntar kita terlambat lagi ;)” Elak ku, aku gak mau Vanya nanya lebih lanjut tentang percakapan kita tadi.

“Oke, lets go ”

Kami latihan bareng temen-temen ku, Harry, Zayn, Louis, Niall dll.. gak nyangka si Vanya cepet banget akrab sama senior disini ^^ aku seneng kalo dia seneng. Aku ngajarin semua gerakan yang aku tau ke Vanya dan dia cepet tanggap, dia bilang aku baik hati :D .

*Saat sedang break time_*
Tiba-tiba Zayn menghampiriku..

“Liam, Vanya pacar kamu?”
Aku berpikir sebentar dan geleng, zayn nampak bingung, mungkin karena dia liat keakraban aku sama
vanya kayak pacaran kali ya ._.

“Dia sahabatku....” Jawabku datar

“Tapi.. Aku mencintainya, zayn..” Lirihku

“Kenapa gak nyatain perasaan kamu aja, Tanya deh dia punya perasaan yg sama gak sama kamu?” Nasehat Zayn pada ku.

“Aku gak tau.. harus gimana?” Jawabku pasrah, karena aku tau Vanya gak bakalan punya rasa lebih buat aku. Lebih dari seorang sahabat? Mana mungkin!

“Vanya juga cinta sama kamu..” Kata Zayn sambil natap aku.


“Kata siapa?” Tanyaku terkejut!


“Liat aja nih!” Kata zayn mengulurkan sebuah buku berwarna putih dan sampulnya ditempel foto aku dan vanya yg lagi di menara eiffel liburan kemarin. Setelah memberikan itu, Zayn bilang dia mau pulang, karena latihan telah usai. Lalu, Aku buka buku itu dan ternyata itu berisi tentang kisah Vanya, benar saja dia mencintaiku. Aku bisa menebak dia mencintaiku lewat sebuah puisi yg ada di belakang buku, yg ditempel beserta amplop bergambar teddy bear.





Tuhan…
Boleh gak aku mencintai sahabatku sendiri?
Boleh ya?
Tuhan…
Aku pengen hidupku lebih indah dengan adanya seorang kekasih..
Tapi..
Umurku udah gak lama lagi..
Apa mungkin, dia mencintaiku juga?
Tuhan..
Aku takut dia bikin aku patah hati..
Tuhan..
Jangan biarin air mata ini buat kesedihan ya?
Vanya gak mau Liam tau yg sebenernya..
Tentang perasaan Vanya sama Liam,
Juga penyakit Vanya :’)
Vanya gak mau Liam khawatir..
Tuhan..
Jaga rahasia hati ku ya..
Aku tau, Tuhan sayang sama aku…
Makanya aku dikasih penyakit ini,
Aku tau,
Semua yg Tuhan rencanain itu, baik buat aku,
Tuhan..
Biarin aja, Vanya sakit..
Tapi, aku bersyukur..
Hampir di setiap hariku,
Tuhan berikan aku kebahagiaan..
Hanya dengan bersamanya..
Biarpun aku gak bisa memiliki dia seutuhnya,
Aku udah seneng, bisa di dekatnya..
Diperhatiin..
Pokoknya Liam itu baik hati banget, Tuhan.

Tuhan..

Makasi buat segalanya..
Vanya Andlerson



Gak kerasa, aku mulai menitikkan air mata. Ternyata aku salah besar tentang menebak perasaan seseorang kepadaku. Aku jadi membenci diriku sendiri karena telah menggantungkan perasaan ku, padahal Vanya juga menggantungkan perasaannya padaku, aku tau, pasti Vanya sakit hati banget gara-gara dia kira, aku hanya nganggep dia sebagai sahabat, padahal nggak!



Aku membolak balik halamannya, aku menemukan sebuah rahasia!! Ini tentang diri Vanya yg sebenarnya, ASTAGA!!!



Tuhan..
Hari ini, aku mau curahin semuanya sama Tuhan lagi,
Hari ini, aku ngejalanin tranfusi darah lagi,..
Tuhan.. Badan ku semakin kurus, aku harap liam gak pernah nyadari itu..
Pembengkakan limpa dalam tubuhku juga mulai bertambah,
Wajahku semakin pucat,
Tapi aku sungguh mensyukuri, bahwa Tuhan, gak ngebiarin liam tau soal ini..
Tuhan.. aku capek harus tranfusi darah selama 10 jam, walau untuk 5 hari sekali..
Tapi, apa yg bisa ku perbuat?
Hanya berdo’a dan berusaha bertahan, dan mensyukuri nikmat yg Tuhan berikan buat aku..
Tuhan.. Kenapa penyakit ini muncul di hidupku?
Di saat aku mulai menyukai kehidupan ku?
Di saat aku merasakan bunga cinta di hatiku berkembang?
Di saat orang sebaik Liam hadir di kehidupanku?
Kenapa Tuhan??
Tuhan..
Aku mencintai Liam..
Tapi aku tau, aku gak pantas buat dia..
Aku tau itu, Tuhan..
Tuhan, kenapa aku gak punya kakak / adik?
Kalo aku punya slaah satu,
Mungkin mereka bisa menyumbangkan sumsum tulang belakangnya untukku..
Tapi kenapa aku harus jadi anak satu-satunya??
Kenapa??
Aku, minta maaf ..
Karena aku sering mengeluh tuhan..
Maafin aku..
Tuhan..
Aku udah pernah janji sama Mom..
Bahwa aku gak akan nyerah..
Aku gak takut apapun itu..
Terutama penyakitku yg mematikan ini..
Semua yg Tuhan berikan buat aku,..
Semua cobaan yg mengerikan,
Aku gak takut itu..
Sama sekali gak takut..

Aku Vanya, Tuhan..

Aku kuat dan gak takut oleh apapun..
Seperti yg di bilang mom sewaktu aku di vonis mengidap penyakit Thalassaemia ;)

Vanya Andlerson



ASTAGA!!! OH MY GOD!! Seburuk itukah aku? Sebodoh itukah aku? Sehingga tidak mengetahui sahabatku sendiri yg sedang sakit?? Seburuk itukah keadaannya?? Tuhannn…. Maafkan aku.. ._.
Vanya kenapa kamu gak pernah bilang ini semua sama aku?? Kenapa kamu anggep ini semua cukup kamu yg rasakan? Vanya aku sahabat mu!! Hargai aku… Vanya, kenapa kamu tega mendam perasaan itu? Cinta? Aku.. Oh.. baiklah, mungkin aku juga salah, maafin aku Vanya..


“Kamu nemuin itu dimana, Liam?” Kata vanya yg tiba-tiba duduk disampingku, aku buru-buru hapus air mataku, aku kira dia akan marah jika aku membaca seluruh isinya, tapi, dia tidak menampakan ekspresi marah. Melainkan dia menampakkan ekspresi wajah datar saja. Dia tersenyum.

“Jadi kamu udah tau semuanya?” tanyanya padaku, aku hanya ngangguk.

“Maafin aku liam, aku salah ya cinta sama kamu? Aku juga tadinya gak bakalan mau kamu tau, tapi buku itu hilang dan pas aku tadi nyari, tau-tau kamu lagi baca isinya, aku kiira kamu yg ambil, ternyata zayn yg nemuin buku itu..” Kata Vanya menyesal,

“Vanya, kenapa kamu nyimpen semua ini sendiri?? Kenapa??” Tanya ku, Vanya Cuma menitikan air mata. Aku menggenggam tangannya erat seerat mungkin! Seakan aku gak mau kehilangan dia.
“Vanya, kamu harus tau yaa.. beberapa bulan yg lalu, aku jatuh cinta sama kamu, tapi aku kira kamu gak cinta sama aku, kamu hanya menganggap aku sahabat, tapi nyatanya, kita punya perasaan yg sama, so.. would you be my girlfriend?” Kataku langsung to the point setelah selesai menjelaskan. Vanya hanya diam, aku degdeg an menanti jawabannya..


Tiba-tiba dia melompat dan memelukku,

“Of course, my baby Liam..” Kata vanya sambil memelukku erat..

“Thanks my angel.. mwaah” Kataku mengecup kening Vanya.

Lalu kami memutuskan untuk pulang, aku mampir kerumah Vanya, aku disuruh tante rini kekamarnya Vanya._. pas aku masuk, ada tulisan gede kayak poster dan gambarnya aku sama vanya dan disebelahnya ada tulisan “Suatu saat Liam itu pemilik hatiku.” Aku speechless.. aku mematung, vanya memelukku dari belakang.

“Aku udah punya poster itu dari pertama kita ngejalanin hubungan sahabat saat pulang dari pantai.. kamu inget?”
Aku tersenyum dan ngejawab.
“Aku inget.. baby..”
Kami saling pelukan..

Dalam hatiku berdo’a untuk Vanya..
Tuhan.. Hati kecilku kagum sama Vanya,
Dia seorang wanita yg hebat! Dia gak pernah takut oleh apa yg di deritanya,
Sekalipun itu mendekati maut!
Tuhan.. Biarlah Vanya merasakan kebahagiaan yg setimpal untuk mengimbangi penderitaannya selama ini..
Ku mohon..


Vanya POV

Tuhan..
Terima kasih, atas segalanya..
Terbalaslah sudah penderitaan ku ini dengan semua yg Tuhan berikan hari ini..
Aku bahagia..
Walau untuk sementara ..
Aku janji,..
Aku tetap jadi Vanya yg kuat..
Vanya yg gak takut oleh apapun..
Meskipun itu maut ;)


-THE END-




Pesan moral yang dapat diambil dari cerita diatas :
1). Belajarlah untuk berbuat baik kepada semua orang . Manfaatkan pula ilmu yang kita miliki untuk berbuat kebaikan dan berguna untuk orang banyak. Sebab, dengan berbuat hal yang baik, kita kan menuai hasil yang baik pula.


2). Kejujuran akan mendatangkan kebaikan.
Maaf ya ceritanya kurang bagus. Terus kalo ada pengetikan kata yang salah, dimaafin ya authornya ;)
Give me your comment!

Senin, 08 Oktober 2012

HLS Part 1 - Author by @nabilla541


“Morning, tante..” Kataku sembari duduk di meja makan yang super duper besar dengan 16 kursi meja makan, padahal aku hanya tinggal berdua dengan tante Evi, entah kenapa tante Evi lebih memilih membeli prabot rumah tangga yang serba berlebihan, padahal aku hanya tinggal berdua. Apalagi kamarku eum.. bisa dibilang udah seperti sebuah Hotel, serba mewah, tapi aku tidak terlalu menyukai semua ini, karena ini sudah terlalu berlebihan, tapi, bagaimanapun juga aku tidak berhak mengatur tante Evi soal barang-barang yang akan dia beli, karena aku tau, tante Evi seperti ini, karena ingin membuat aku betah dirumah dan bahagia, walau tanpa asal-usul orang tua yang seringkali membuat aku sakit kepala.
“Morning, lekas makan sarapan kamu, nanti kamu terlambat, Del.” Kata tante Evi, sambil berdiri dan mengambilkan aku segelas susu.
“Oke, aku udah selesai, aku berangkat sekolah dulu ya,tante.” Kataku dan mencium tangan tante Evi, lalu memberi salam dan aku berangkat. Aku langsung berjalan keluar rumah, ya perlu kalian tau, rumahku udah kayak istana presiden di Indonesia, mungkin lebih malah, makanya untuk sampai ke pintu luar, aku membutuhkan waktu. Belum lagi aku harus melewati taman depan rumahku, aduh, untung saja aku sudah terbiasa dari kecil, kalau tidak aku bisa pingsan nih. Didepan gerbang rumahku sudah ada bus decker berwarna kuning dengan tulisan hitam ‘Galaxy Senior High School’  , ya, itu bus sekolahku, bus tingkat dua yang sering disebut bus decker sama aku, gak tau deh kalo temen-temen ku bilangnya apa. Aku langsung masuk kedalam bus itu, dan aku duduk dimana saja, akhirnya gak ada bangku yang kosong, semua terisi oleh 1 orang ada yang 2 orang, terpaksa pagi ini aku harus duduk berdua dengan salah satu dari mereka. Akhirnya, aku memilih duduk dengan anak laki-laki kayaknya dia jutek, tapi masa bodoh lah, yang penting gak duduk sama anak-anak perempuan yang centil-centil itu. Saat aku duduk dia natap aku sebentar lalu berpaling, dia nggak nyapa aku sama sekali, aku lihat dia sedang mendengarkan musik rupanya, lewat earphone berwarna coklat bermerek Sony. Aku sih gak ambil pusing, aku baca aja buku drama ku, ya karena hari ini aku ada tes kemampuan berakting, aku memang mengambil kelas drama, jadi aku harus dapatkan nilai yang memuaskan supaya tante Evi senang.
@ GalaxySHS
      Aku lari terburu-buru, ya, aku lupa hari ini aku ada janji sama sahabat ku, Amara, aku janji untuk mengajarinya bermain piano pagi ini, sebelum kelas drama dimulai. Aku berada dilantai dasar, sedangkan TFF ada dilantai 1, ya kalian harus tau TFF itu Time For Fun, disitu semua ada, mau kolam renang,lapangan, ruang musik, internet, wifi, kantin, aula untuk drama juga disitu, pokoknya semua yang untuk hiburan ada disitu. Saking kencengnya lari aku gak bisa berhenti mendadak saat berbelok untuk naik lift, dan aku nabrak, aduh aku nabrak perempuan, dan itu Jesica, senior cheerleaders di Galaxy SHS. Dia sangat ‘Famous’ di Galaxy SHS ini. “Aduh, i’m sorry, i’m really-really sorry,Sist..” Kataku sambil maap-maap sama Jesica, tapi aneh, aneh banget! Biasanya kalo ada yang nabrak mau sengaja atau enggak, dia langsung ngehina orang tersebut, tapi dia sama aku? Malah bantuin beresin buku aku, dia ngasih buku ku setelah selesai membantu membereskannya, aku malah bengong natap dia, dia tersenyum dan bilang.
“Hellooo... any body out there?? Hahah..” Tawanya meledak terlihat gigi nya yang rapi, putih cemerlang dan di behel dengan warna hijau muda.
“Eh,, eum.. thank you, Sist, i’m sorry oke?” Kataku sambil mengambil buku dari uluran tangannya yang mulus sekali. Dia senyum lagi, aduh suatu kebanggaan deh ada Senior yang sangat famous nyapa aku dan senyum sama ku.
“No problem, are you Shidelia?” Katanya sambil berdiri, aku pun ikut berdiri, aku mengulurkan tangan, sebenarnya sih ragu untuk ngulurin tangan ke dia, takut dia ngabaikan. Tapi enggak! Dia nyambut tangan aku!
“Yeah, are you Sist Jesica?” Kataku bertanya balik.
“Of course yes! “ Katanya sambil melepaskan jabatan tangannya sama aku. Dia senyum, aku jugalah.
“Eum.. maaf aku harus pergi, aku ada kelas pagi ini, see you next time!” Katanya dan langsung melenggang pergi. Aku diam aja, yaiyalah, orang aku lagi aneh, kenapa dia bisa ngomong B.Indonesia?? masa iya dia orang Indonesia? Ah, udahlah, eh, aku lupa, AMARA!! Aku langsung lari lagi dan naik lift. Akhirnya sampai dilantai 1, aku keruang musik dan pas masuk ada Amara, dia ngeliat aku, aku senyum.
“You come late,Del..” Katanya sambil menekan tuts-tuts piano, oiya, Amara itu asal Indonesia juga, banyak banget loh mahasiswa dan mahasiswi dari Indonesia disini yang pinter-pinter. 
“Sorry,Mar..” Kataku sambil duduk disebelahnya, dia senyum.
“Yasudah, mari ajari aku.” Katanya memulai memainkan piano dan aku mengajarinya.
‘It’s time to go to class, first time for all classes.’
Jam pertama udah dimulai, aku cepat-cepat membereskan buku dan berjalan ke aula drama, diikuti sama Amara, ya, dia juga mengambil kelas yang sama denganku. Aku sedikit berlari kecil karena takut Mr. Rony datang duluan dibanding aku, heum.. bisa-bisa aku gak dibolehin untuk mengikuti audisi pemilihan peran dalam drama ‘Snow White’ untuk perlombaan tingkat daerah. Saat aku dekat pintu aku melihat diseberang ada Mr. Rony, aku dan Amara langsung buru- buru masuk kedalam aula yang besarnya aduh, gak kebayang deh. Disana udah ramai, ya gak bisa dibilang ramai sih sebenarnya, karena setiap kelas hanya dibatasi 20 orang, karena kalo kebanyakan murid, itu namanya bukan sekolah ternama kalo di Singapura. Mr. Rony pun datang.
“Good morning, students!” sapanya sambil berjalan keatas panggung, ya, diaula ini memang ada panggungnya.
“Good morning, Sher!” Jawab semuanya serempak.
“Oke, today, give me your act and i will give you cast!” kata Mr.Rony mengumumkan, aku jadi dag-dig-dug jikalau tiba giliranku. Nama demi nama terpanggil satu per satu, semakin lama- semakin dekat giliranku untuk berakting diatas panggung. Nama ku berada pada no. Absen ke 17 ya.. karena insial namaku ‘W’ coba aja insial nama ku ‘A’ pasti bisa-bisa aku pertama. Karena dikelas ku yang berinsial ‘A’ hanya Amara Ravellza Swan. Sedangkan yang lainnya, beragam ada yang berinsial ‘B’ eum,, mungkin di Indonesia menurutku jarang siswa/siswi yang berinsial ‘B’ paling banyak ‘A’ dan ‘M’ ‘S’ mungkin ‘R’ juga. Kalo di kelas drama, menurut ku di sini lebih banyak mahasiswa/siswi yang berinsial ‘B’ seperti Berlin Rovan Anderson, Betty Alendro Alfhatz, Billy Jam Campbell, dll. Juga ada yang berinsial ‘E’ Enderson Mark Terx, Evanando James Woart, Elliana Marrie Jenson, dll. Nama ku juga mirip-mirip nama orang bule ya? Iya, soalnya Tante sengaja memberi nama dengan 3 kata yang nama belakangnya tersangkut marga keluarga ku, dan setau aku, di negara barat, nama yang berada ditengah itu nama Ibu dan yang dibelakang adalah nama daripada Ayah/marga Ayah. Tapi tante Evi gak ngasih tau aku, namaku itu terdiri dari nama ayah dan ibu atau bukan, aku juga gak pernah tanya, kayaknya aku udah nganggep tante Evi itu orang tua ku sendiri, walau tanpa seorang ayah.
“Mrs.Madison.” terdengar lantang suara tersebut memanggil nama ku, semua mata tertuju padaku, oh.. sekarang giliranku rupanya, dengan mengumpulkan segenap keberanian aku menuju keatas panggung dan mengangguk tanda bahwa aku sudah siap untuk di tes kemampuan berakting.
“So.. what do you want to casting?”
“All of cast, especially Snow White!” Kataku bersemangat, Mr.Rony mengangguk lalu terdengar bunyi pintu terbuka, aku pun menoleh kearah pintu tersebut tak terkecuali semua teman-temanku, ku lihat, seorang laki-laki dengan rambut curly, dia masuk dan Mr.Rony berdiri, menyambut anak itu.
“I’m sorry Mr.Rony, i come late.” Katanya meminta maaf sama Mr.Rony.
“It’s okay, it’s okay, i forgive you.” Katanya sambil tersenyum ke laki-laki itu. Lalu Mr.Rony berdiri.
“Okay, Attention please, this is Harry Styles, he’s new here, and Harry, Now introduce yourself.”  Kata Mr.Rony, Harry pun mengangguk dan naik keatas panggung.
“Hello,guys! I’m Harry Edward Styles from London, so i’m british. Btw all of you can be friendly with me, i a good friend. I can be your Best friend or more, if you care about me and.. i love peace. Thank’s.” Kata Harry menyudahi perkenalannya, semuanya bertepuk tangan dia tersenyum dan senyumannya disertai lesung pipi. Sepertinya perempuan-perempuan dikelas ku menyukai Harry.
“So, Harry you can be prince in the drama snow white, with one of all students female in this class.” Mr.Rony menjelaskan, Harry terlihat senang karena baru pertama masuk dia langsung dapet peran sebagai pangeran di drama snow white, aku juga kagum sama dia, walau aku gak pernah liat kemampuan beraktingnya.
“So, who first? Who want?” Katanya sambil berdiri menatap anak-anak perempuan satu persatu. :3
“They were all done, only she is !” Kata Mr.Rony menjelaskan, sambil menunjuk diriku, Harry hanya mengangguk. Tapi sejurus kemudian, Harry menatap aku tajam, aduh, aku jadi takut mau akting sama Harry, bener-bener tajam sekali dia natap mataku, seolah dia membenci ku atau apalah, seolah dia pernah dekat denganku lalu membenci ku dan melupakan ku, sejenak ku perhatikan Harry tampak berpikir.
“Okay, are you ready for act with me girl? Ouh, i think, first i asked, what’s your name,girl?” Tanya Harry pada ku sambil tersenyum.
‘Ini orang aneh sekali.’ batinku.
”Of course yes! Eum.. my name’s Shidelia James Madison, call me Delia or Del.”
“Okay, let’s, show acting us to all men.” Kata Harry, aku Cuma mengangguk tanda setuju dan....



Kira-kira gimana ya drama Shidelia sama Harry? apa mereka bakalan jadi pasangan? Tunggu dipart 2 ya guys!!

HLS - "Your Fault, Make Me Falling in Love With You" Prolog by @RealNabilla_


HLS- Your fault, make me falling in love with you.
Prolog :
Hai, nama ku Shidelia James Madison. Panggil saja aku Shidelia atau Dela, aku berasal dari Indonesia, aku anak satu-satunya, tetapi aku tidak tau dimana dan seperti apa orang tua ku. Selama ini, aku tinggal bersama tante Evi di Singapura, tante Evi pun tak pernah bercerita tentang keberadaan orang tua ku, aku sih sebenarnya ingin mengetahuinya, tentu jika kalian menjadi aku, kalian juga ingin tau tentang orang tua kalian kan? Tapi aku selalu mengurungkan niat ku untuk bertanya tentang orang tua ku pada Tante Evi. Selama ini aku sekolah di Galaxy Senior High School. Aku loncat 2 kelas sekaligus dalam tes ini, sebenarnya aku sebagai murid di Galaxy VHS ini,tapi, karena loncat 2 kelas, jadi aku langsung dipindahkan menjadi mahasiswi di Galaxy SHS, Perlu kalian tau, aku ikut tes semacam itu bukan karena aku orang tidak mampu, tapi, tante bilang apa salahnya mencoba beasiswa, akhirnya aku beruntung dan loncat 2 th sekaligus, pada umurku yang 17 tahun ini. Soal kehidupan, awalnya baik-baik saja, tapi setelah suatu kejadian, aku merasakan berbagai penderitaan, aku merasakan bagaimana rasanya di pukul, di tampar, di usir, di hina, semuanya, aku rasakan. Soal kisah cintaku, tidak beruntung, aku merasakan rasanya dikhianati, diberikan harapan palsu, dimainkan, diduakan, aku merasa teraniaya dengan semua ini, sampai aku meninggalkan semuanya, tanpa bekal apapun.

Minggu, 07 Oktober 2012

Cerpen - "Ibu Aku Menyesal" by @RealNabilla_

April 2012


                Sejuknya embun pagi telah terasa, merasuk kedalam paru-paru, keluar dengan lancarnya. Matahari belum nampak sempurna, angin semilir memainkan ujung-ujung rambutku, menari-nari diterpa angin. Sepagi ini seorang perempuan yang hanya ku miliki dikehidupan ini, yang selalu ada untukku, dari aku belum mengerti apa itu angin, apa itu bumi, sedari aku belum mengenal dunia, dia sudah berada disamping ku. Bekerja demi menghidupi aku dan dirinya, tak mengenal seberapa lelah dirinya, tak peduli sesakit apapun tubuhnya, ia tetap bekerja dan terus bekerja, tak menghiraukan seberapa upah yang ia terima, dalam benak dan pikirannya hanyalah rezeki yang halal. Tak memperdulikan resiko pekerjaan itu untuk dirinya. Dia hanya berpikir tentang masa depanku, cita-cita ku, kebahagiaan ku. Terkadang, akulah yang terlewat tega, aku tak pernah membuatnya bangga padaku, senang karena prestasiku. Aku hanya menodai jasa murni, tulus dan ikhlas darinya. Tapi, ia selalu berusaha, bekerja keras demi aku. Jasanya takkan bisa terbalaskan oleh apapun. Ialah penerang bagiku, ia inspirasiku, ia seorang yang paling berjasa dikehidupan duniawi ku. Namun, pengakuanku sudah terbilang terlambat, waktu yang kumiliki dulu, hanya untuk mengecewakannya, marah padanya, selalu menuntut, tak pernah mensyukuri apa yang telah ia usahakan untuk diriku, tak berterima kasih atas pengorbanannya selama 18 tahun ini, aku baru menyadari akan hal itu saat ini, saat ia sudah tak dapat melihat indahnya surga dunia, teknologi yang maju, raut wajahku saat menginjak usia 18 tahun untuk beranjak dewasa. Terlambatlah sudah, penyesalanku, semuanya, semua penyesalanku terhadapnya sudah terlambat. Penyesalanku terhadap Ibu ku sudah terlambat, ya, dialah Ibu ku, dia Ibu tercinta ku.
31 Desember 2010
                Malam ini aku hanya merutuki diriku, nasibku, aku hanya mengurung diri dikamar yang lebih layak aku sebut sebagai gubuk kumuh. Disanalah tempatku tidur, tempatku meratapi nasib burukku, tempatku untuk meluapkan semua amarahku yang tak dapat ku bendung lagi. Aku marah pada ibu ku, dia mengingkari janjinya pada Ayah.
“Nak, bukalah pintunya, kamu marah sama Ibu? Maafkan Ibu, nak.” Kata seseorang dari balik pintu kamarku, dan aku sudah mengetahuinya, si empunya suara adalah Ibu.
“Aku takkan membuka pintunya, sampai Ibu membelikanku baju dan sepatu baru itu!” Kataku lantang sambil menatap wajahku didepan cermin.
“Ibu mohon, nak. Ibu memang tidak bisa membahagiakan kamu, tapi tolonglah, mengerti keadaan kita. Kamu kan tau sendiri, Ibu bekerja dengan upah yang hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah kamu.” Kata Ibu menjelaskan, Ibu masih tetap dibalik pintu kamarku, ia masih menunggu respon dariku.
“Iya, sejak Ayah tiada, Ibu memang tidak pernah mebuat Laras bahagia. Mlah, Laras merasa tersiksa!” Saat aku menjawab, sepertinya Ibu sudah tidak ada dibalik pintu kamarku. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur saja. Aku terlelap diatas sebuah ranjang dengan kasur lusuh, demikian juga dengan baju ku yang tak kalah lusuhnya dengan kasur yang berumur belasan tahun itu.
(---0---)
‘Tok-tok-tok’ terdengar ketukan pintu pada alat pendengaranku, namun aku mengacuhkan suara ketukan tersebut, aku tak perduli siapapun yang mengetuk pintu itu, aku tetap mengabaikannya. Lama-kelamaan ketukan tersebut semakin keras dan membuat telingaku berdengung, aku menutup saluran pendengaranku dengan bantal tipis yang sepertinya tak layak untuk disebut sebagai bantal. Dan sekarang aku mendengar samar-samar suara seseorang yang mengundang namaku, sepertinya dengan suara yang terbilang seperti speaker musholla, terdengar remang-remang karena aku menutup telingaku. Akhirnya dengan sangat malas aku membuka pintu, bagaikan berjalan dengan kaki yang terbebqani oleh beban yang sangatlah tak pantas untuk ku pikul. Saat aku membuka pintu, aku baru sadar bahwa si empunya suara tadi adalah seorang laki-laki.
“Ada apa?” Tanayaku dengan nada yang datar. Manik hitamnya menatapku tajam.
“Keterlaluan, Ibu mu sakit dan sekarang dia dirumah sakit!” Kata seorang si empunya suara tadi sambil memarahiku. Aku tidak terkejut.
“Lalu, aku harus apa?” kataku masih tidak perduli, dia menarik tanganku keluar dari kamar.
“Eh berani sekali kau ini!!” Kataku sambil melepasakan genggaman tangannya.
“Kau tak perduli penyakit yang diderita ibumu?” Katanya, aku hanya diam, dia terlihat tidak sabaran melihat aku dan berkata.
“Jawab!!”
“Ya, akub tak mau tau! Karena kau sudah mengetahuinya, paling-paling Ibu hanya sakit biasa.” Kataku dengan santainya,
“Benar-benar kau ini.” Katanya dan berlalu pergi meninggalkan ku. Paman ku sudah pergi dan aku kembali kedalam kamar. Ya, si empunya suara tadi adalah paman ku. Kakak daripada ibu ku, yang berprofesi sebagai petani.
(---0---)
sudah 2 hari Ibu dirumah sakit, dan aku mulai merasa bahwa sakit yang diderita ibu bukanlah sakit biasa. Tapi kata paman andre, hari ini ibu pulang dari rumah sakit. Beberapa hari telah berlalu, kulihat keadaan ibu dirumah ataupun bekerja amat sangat berbeda dari sebelumnya, ibu sering batuk-batuk, mimisan, dan pingsan secara tiba-tiba. Bodohnya, aku tidak pernah menanyakan hal itu pada Ibu. Aku hanya bersikap seolah tidak perduli. Terkadang aku juga masih marah pada Ibu jika ibu tak bisa memenuhi keinginanku.
21 April 2021 { 21.00 }
                Hari demi hari yang selalu kuanggap hari yang buruk, terlewati bersama Ibu ku yang selalu sakit-sakitan. Dia masih bekerja seperti dulu. Aku sudah jarang sekolah, karena permasalahan biaya. Besok adalah hari ulang tahunku, aku meminta uang pada ibu untuk mentraktir teman-teman dekatku, teman-teman yang 1 kubu denganku,
“Bu, pokoknya besok uangnya harus sudah ada!” kataku saat aku dan Ibu sedang makan malam dengan lauk yang sangat sederhana sepiring nasi dan tahu beserta air putih.
“Iya, ibu usahakan ya, nanti.” Kata ibu dan aku melirik ibu sambil berkata.
“Yaudah, gak usah pake diusahakan, bilang aja ibu tak mau memberi uang itu.” Aku mulai marah saat itu.
“Iya, kan kita tidak tau rejeki datangnya kapan.” Kata Ibu lembut padaku.
“Aku benci sama Ibu! Mendingan Laras keluar aja dari gubuk derita ini!” kataku dan pergi keluar rumah, Ibu menyusulku, dan tiba-tiba saja hujan deras mengguyur daerah perkampungan didesa ku. Aku terus berlari dan berlari, tak peduli Ibu engejarku. Saat aku menoleh kebelakang untuk mengatakan sesuatu
(---0---)
21 April 2012 { 21.45 }
                Bau peralatan medis menusuk indera penciumanku, aku mengalami kecelakaan, kaki ku patah dan mata ku tak dapat melihat dunia, hanya gelap dan gelap. Dan sekarang aku diruang operasi. Dokter bilang, ada yang ingin mendonorkan kornea matanya untukku, sungguh mulia orang itu. Beberapa jam aku menjalani operasi hingga akhirnya aku dibawa keruang perawatan. Ibu dan paman Andre ada disana. Ada juga warga sekitar rumahku yang datang, sekedar menjenguk dan memberikan bantuan biaya operasi untuk ku.
(---0---)
21 April 2012 { 24.56 }
                Aku sudah sadar, sekrang dokter akan membuka perban mataku, ya, sebentar lagi aku akan bisa melihat indahnya dunia lagi. Pembukaan perban telah selesai, sekarang perlahan aku membuka kelopak mataku yang terasa lengket. Aku bisa melihat!
“Aku bisa melihat!” Kataku dengan riangnya. Dokter itu melihat pundakku, aku menoleh kearahnya.
“Tidakkah kau ingin tau siapa orang yang rela mengorbankan kornea matanya demi mu?” Tanya dokter itu.
“Tentu saja, dia pastilah orang yang sangat mulia.” Kata ku
“Dialah Ibumu..” Kata dokter itu. Mendengar jawabannya aku terkejut bukan main. Ibu? Dia rela tak dapat melihat dunia demi aku? Ibu ku yang selalu ku kecewakan, ibuku yang selalu ku  maki dengan kata-kata yang tak sepntasnya keluar dari mulutku. Aku menangis, menyesali perbuatanku pada ibu.
“Ibu..” kataku dengan berlinang airmata. Ibu ku memberi seulas senyumnya.
“Ibu, maafkan aku ibu, aku anak yang bodoh! Aku menyesal bu..” Kataku seraya memeluk ibu.
“Jangan bilang kau bodoh, kau anak yang pintar yang pernah ibu miliki. Hanya inilah yang bisa Ibu perbuat, maafkan ibu jika tak pernah membuat kamu bahagia, laras.” Mendengar jawaban ibu, tangisku semakin pecah dalam pelukannya.
“Tidak, Bu, tidak! Ibu adalah orang yang paling mulia, terima kasih,bu. Aku anggap inisebagai hadiah ulang tahun terbaik sepanjang hidupku dari ibu.” Kami saling berpeluk erat.
(---0---)

setelah kejadian tersebut menimpa aku dan ibu ku, aku mulai menyesal dan menyadari betapa mulianya seorang ibu, walaupun penyesalanku terbilang terlambat dan sudah terlanjur, aku akan berusaha membahagiakannya, walau jasanya takkan pernah terbalaskan olehku. Terima kasih Ibu.
I'm Taken with Zayn