Liam Long Story – She’s Not Afraid Anything by
Enjoy reading and i hope you like it!^^
Pagi yang cerah, sinar matahari telah muncul di depan jendela dengan
bingkai jendela berwarna coklat tua dari kayu jati yang terbilang kokoh.
Pagi ini cerah, secerah wajah laki-laki yang terlihat senang setiap
hari, tapi mungkin,tidak untuk pagi ini._. ya dialah Liam Payne, dia
seorang Petinju, ehm.. bukan petinju yang terkenal melainkan dia seorang
pemain olahraga tinju yang bermain di salah satu cabang olahraga tinju
disekolahnya, tepatnya, kita biasa menyebut kegiatan disekolah dengan
sebutan ekskul, ya Liam ikut ekskul tinju sejak duduk di kelas 1 SMA.
Sebenarnya, mamanya Liam sama sekali tidak menunjukan dukungannya akan
kegiatan yang Liam ikuti disekolah selama 2th ini, namun ayahnya Liam
sangatlah mendukung apa yang Liam hobi kan, seperti Bertinju, dan
Bernyanyi. Dan dukungan ayahnya lah yang membuat Liam tetap pada ekskul
tersebut, sebenarnya mamanya Liam mau saja mendukung Liam untuk hal itu,
namun mamanya Liam hanya tidak ingin melihat Liam, anak kesayangannya
(alesan mamanya Liam nyebut kesayangannya ya, karena dia anak
satu-satunya. ) babak belur karena, pernah sekitar 1thn yang lalu, saat
Liam mengikuti lomba Tinju untuk pertama kalinya, dia kalah dan wajahnya
ancur, eh gak ancur-ancur banget sih, Cuma ya, ada bekas tonjokan gitu
didaerah wajahnya, terus Liam juga ngalamin patah di jari kelingking
yang kiri, saat itu juga mama Liam mulai ngelarang Liam untuk ngikutin
ekskul itu lebih lanjut. Tapi ternyata Liam secara diam-diam terus
ngikutin ekskul itu tanpa sepengetahuan mamanya. Kalo-kalo pas dia butuh
dana untuk bayaran yang cukup mahal, maka dia bakalan minta bantuan
sama Ayahnya, oiya jadi Ayahnya Liam itu tetep ngedukung Liam dengan
aksi tinjunya^^ makanya Liam berani ikut ekskul itu lebih lanjut, selain
dia hobi tinju, dia juga dapet dukungan dari Ayahnya, walaupun Mamanya
bersikeras ngelarang.
Liam POV
Hari sudah pagi, matahari telah memunculkan sinarnya dan menembus
jendela kamar ku. Pagi ini, rasanya aku terlalu lelah, gara-gara semalam
sampai larut malam aku mengerjakan tugas presentasi, rasanya mataku tak
bisa diajak kompromi, begitu juga dengan tubuhku yang masih terkulai
lemas diatas kasur, aku rasa aku tidak dapat mengikuti pelajaran hari
ini di sekolah, aku harus ijin sama Mom dulu, tapi tubuhku kembali lemas
dan aku masih saja terkapar diatas springbed hitam dengan motif bola
juventus, badanku enggan beranjak dari kasur, yasudah mau tak mau,aku
harus sabar menunggu my Mom mengahmpiriku dan melihat kondisiku dikamar.
*sabar ya bebep Liam* *ditimpuk sendok*.
“Where liam? why he had not yet ready to go to school? whether he was
sick?” Tanya Ayah kepada Mom yang sedang membawakan nampan yang berisi
roti panggang dengan paduan selai mocca dan kacang, serta 3 cangkir kopi
susu.
“I don t know, maybe he was sick, i will look it up in the room.” Jawab
Mom, dan dia menaruh nampan lalu bergegas menaiki tangga ke lantai
2,untuk melihat keadaan ku. Dady hanya mengangguk memberi tanda setuju
sambil menyeruput kopi susu yang masih panas._. akan apa yang ingin
dilakukan mom.*awas daddy nya Liam ntar mulutnya monyong minum kopi
panas-_-V* . Terdengar suara derap kaki diatas lantai kayu-kayu rumah
ku,ya, rumah ku memang di desain dengan tema serba kayu jati, diantara
tetangga2 ku rumah ku lah yang paling mencolok karena model bangunannya.
Lalu, makin lama derap kaki tersebut makin mendekat, aku berpikir bahwa
itu kucingku, tapi aku merasa itu bukan kucing, dan aku berpikir lagi
bahwa itu dad, “Dad, is that you?” lalu, derap kaki itu tidak terdengar
lagi, perasaanku semakin aneh, dan tiba-tiba seperti ada suara derap
kaki yang terburu-buru atau bisa dibilang berlari dan ‘CKLEK!’ Sukses
suara pintu kamarku terbuka dan membuat jantungku melompat! Aku kaget
setengah mati._. ternyata itu Mom.
“Oh my god i think you kidnappers, mom. I’m sorry.” Kataku meminta maaf
sama mom, karena aku pikir dia seorang penculik yang akan menyakiti ku
._. tapi mom malah menghela nafas, seperti nafas kelegaan.
“Noproblem,honey, I just saw your condition, are you alright?” Tanya
mom, seraya menghampiriku dan memegang dahi ku, dia mengelus rambutku
lembut, dan memegang tanganku sambil tersenyum.
“Don’t worry about me, mom, i just tired, i need more sleep.” Kataku,
sambil memegang tangan mom, dan tersenyum. Mom hanya mengangguk dan
menyelimutiku, dia mengecup keningku sambil berkata.
“Make yourself comfortable, beb.” Dan dia pergi keluar kamarku, dan menutup pintu.
“Yeah,mom.” Jawabku dan langsung membenamkan kepalaku kedalam selimut
begitu juga seluruh tubuhku, dan dalam sekejap, aku terlelap.
“Whether liam all right?” tanya dad ketika mom turun dari kamarku dan
duduk didepan dad yang sedang membaca koran. Mom menyeruput kopi susu
yang tadi dia buat, yang sudah tidak panas lagi.
“Yeah, Liam just tired and need more sleep. He said don’t worry about
him.” Kata mom dan mulai memakan roti panggang yang sudah mulai dingin,
karena gak dimakan beberapa menit yang lalu. –“-
Aku terbangun dan kubuka selimut yang menyelimuti tubuhku lembut dan
hangat, aku lirik jam di meja belajarku, jam menunjukan sekitar pukul 2
siang, aku sudah merasa lebih baik dan aku putuskan untuk kebawah,
menemui mom, untuk memberi tahunya bahwa aku baik-baik saja, aku tak mau
membuat dia khawatir.
“Mom, i wake up, look at me, i’m fine.” Kataku seraya memeluk mom dari belakang, dia berbalik dan tersenyum menatapku.
“Good, sounds great,Liam.” Mom merapikan rambutku dan mengelap wajahku
dengan tisu lembut, lalu menarik tanganku, dia mengajakku ke ruang tamu
aku tidak tau ada apa sebenarnya, aku hanya diam. Sampai diruang tamu,
ternyata ada 2 orang wanita, yang 1 sebaya dengan mom, dan yang 1 lagi,
sepertinya sebaya denganku, rambut wanita yang sebaya denganku berwarna
hitam pekat, dan kulitnya pucat, tapi dia terlihat manis, dia juga
tersenyum kearahku, dan senyumnya disertai lesung pipi, yang membuat
senyumannya terlihat ‘perfect’ aku tersenyum juga kearah nya.
“Ini dia, anakku, namanya Liam, gimana? Ganteng kan Vanya?” kata mom
mengenalkan ku ke wanita yg punya senyum perfect itu, aku hanya bergumam
‘’mooommm!!’’ wanita itu ternyata namanya Vanya, dan aku bersalaman
dengan Tante rini
“Eh,Liam udah besar ya, masih ikut tinju? Kalo masih si Vanya juga mau
tuh, katanya dia mau ngerasain tinju itu kayak apa.” Kata mamanya Vanya,
aku hanya tersenyum, lalu giliran Vanya menjabat tanganku, aduh degdeg
an nih._.
“Liam..” Kataku dan dia balas “Vanya.” Lalu Vanya duduk manis,aku pun
juga duduk manis._. kami ngobrol-ngbrol sampe akhirnya mom dan tante
rini, ninggalin aku sama Vanya berdua doang, alesannya mereka mau masak
kue. Aku mencoba membuka topik pembicaraan, tapi aku putusin untuk
ngajak dia kekolam renang dibelakang rumahku.
“Vanya..”
“Iya?”
“Ke kolam renang yuk dibelakang,mau?”
“Oke,”
Aku menggandeng tangannya, beberapa menit, sekitar 30 menit, aku sudah
akrab dengan Vanya, dia ternyata wanita yang asik dan gampang bergaul,
katanya, dia mau pindah ke sini dan jadi tetangga ku, dia juga daftar
disekolah yang sama denganku, aku senang mendengarnya, terlebih dia mau
ikut ekskul tinju dan dia minta aku yang ngajarin dia, karena aku kan
udah jadi senior disana. Dan kabar terbaiknya, mom udah ngijinin aku
untuk lanjut ekskul tinju
######
Liam POV
“Permisi…” Kataku sambil menekan bel yg ada di rumah Vanya. Aku pengen jemput Vanya pergi ke sekolah.
1 menit, 2 menit, 3 menit…… 10 menit! Aku tungguin Vanya, tapi gak ada
respon apapun dari keluarganya. Aku mau berangkat sekolah sendiri aja
deh, pas aku berbalik badan,..
“Liammm!! Aduh maaf ya, kamu udah lama nunggu ya?” Kata Vanya ngagetin aku ._.
“I.. Iya, Vanya.. Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya ku bingung.
Vanya Cuma senyum denger pertanyaanku dan langsung gandeng aku keluar dari pekarangan rumahnya.
Vanya POV
“Mommmm!!!!” Teriakku histeris, gara-gara liat jam udah jam 6.30 , padahal jam 6.50 Liam bakalan jemput aku.
“Ada apa sih Vanya? Pagi-pagi kok teriak-teriak?” Kata Mom, sambil
terheran-heran ngeliat aku buru-buru pake baju rapi dan sepatu.
“Mom lupa? Ini udah jam berapa? Sebentar lagi liam pasti bakalan ke
rumah dan jemput aku!!” kata ku dan mulai merapikan semua buku-buku ke
dalam tas. Mom tersenyum dan mulai melangkah mendekatiku, dia merangkul
ku.
“sayang, kamu lupa? Kamu masih belom boleh pulang, kan nanti siang
pulangnya. Lagian Cuma 5 hari sekali kok.” Bisik mom menasihatiku.
“Gak bisa, mom. Gak bisa gini caranya, aku harus sekolah, biar Liam gak
curiga, biar Liam gak nanya-nanya kenapa aku jarang sekolah..” Jelasku
sama Mom.
“Yaudah, mom siapin mobil. Kamu minum dulu sana.. “ aku gak nurutin
perintah mom, tapi, aku langsung buntutin mom menuju mobil. Mom Cuma
geleng kepala liat sikap aku.
Arrived at my home
MATII AJA DEH AKUU!!! LIAM UDAH ADA DI DEPAN RUMAH!! Daannn… Dia,,, mau
pergi.. Apa mungkin dia nungguinnya udah kelamaan ya? Aduh aku harus
gimana ya? ._.
“Mom.. aku minta, mom matiin mobil sekarang.” Kataku pelan. Mom matiin mobil.
“sekarang, aku minta mom jangan keluar dari mobil ya, aku mau berangkat
sama Liam.. dan terakhir mom jangan pernah bilang sama Liam kenapa aku
tadi dari luar rumah, dan gak ada dirumah..” Aku ngecup kening mom dan
berjalan keluar mobil dengan langkah setenang mungkin. Aku atur ritme
nafasku biar gak keliatan nervous.
“Liammm!! Aduh maaf ya, kamu udah lama nunggu ya?” Kata ku, kayaknya Liam kaget deh._.
“I.. Iya, Vanya.. Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya Liam yg jelas banget dari raut mukanya keliatan bingung.
Ha? Aduh gimana nihh.. hem.. tenang Vanya, kamu bisa.. akhirnya aku
senyum aja deh, biar gak keliatan nervous aku gandeng tangan liam yg
masih bingung keluar dari pekarangan rumah ke sekolah. ;)
Otw school
“Liam.. kok kamu diem aja sih?” Tanyaku yg gak enak hati liat Liam diem terus.
“Eh.. Ya? Ada apa?” Jawab Liam, kayaknya dia lagi ngelamun.
“Kamu ngelamun ya?” selidik ku.
“Enggak kok, btw, udah siap ulangan matematika?” Tanya Liam membuka
topik pembicaraan baru. Eh? Ulangan matematika? Hari ini? Ha? Mati aku!
Aku belum belajar sama sekali._.
“Hem.. Siap dong!! Kan semalem aku belajar sama tante ku.. sampe larut malem malahan..” Dusta ku.
“Ohya? Wah, berarti tadi malem kamu nginep di rumah tante ya? Makanya kamu tadi tiba-tiba ngagetin aku dari luar..” Tebak Liam.
Wah, pas banget nih!! Dalem hatiku._.
“I.. Iya.. Hehe..” Kataku meringis.
######
Liam POV
Gak kerasa banget udah 4 bulan aku sahabatan sama Vanya, mom sama tante
rini juga tambah akrab karena satu kantor. Dan hari-hari ku selama sama
Vanya selalu buat aku bahagia, tapi ada perasaan gelisah yg selalu
menggelayuti ku, perasaan itu muncul sejak kejadian aku pingsan saat
upacara sekolah, aku gak tau perasaan apa itu, tapi perasaan itu aku
yakini adanya, perasaan itu amatlah abstrak, gak bisa di lihat, tapi aku
dapat merasakannya. Setiap detik yg ku lalui tanpa Vanya, perasaan itu
datang, setiap waktu Vanya gak masuk sekolah, perasaan itu mulai
berkembang, seiring berjalannya waktu ku bersama Vanya, perasaan itu
mulai tumbuh, memuncak dan semakin meluap. Aku hampir gak bisa menahan
rasa itu untuk keluar, tapi akhirnya aku bisa menyembunyikannya dan
perlahan mengeluarkannya dengan cara ku sendiri.
Hari ini aku ada latihan Tinju, Vanya hari ini ikut dan dia bakalan jadi
anak baru, karena kemarin-marin latihan tinju diliburin untuk sementara
dan sekarang udah dimulai lagi.
“Vanya..” Panggil ku.
“Iya? Ada apa?” Tanya Vanya sama aku, masih dengan gandengan tangan.
“aku boleh Tanya sesuatu?” kataku masih ragu dengan apa yg mau aku tanyain.
“Iya boleh..” Kata Vanya dengan sedikit berpikir, tapi entah apa yg dipikirkannya, aku gak tau.
“Hem… kenapa kamu jarang masuk sekolah akhir-akhir ini?” Tanyaku dengan hati-hati, aku takut menyinggung perasaannya.
“Hahahaa…” Aku bingung si Vanya di Tanya malah ketawa ._.
“Vanya..?” Tanya ku lagi.
“Eh.. Iya, enggak aku tuh sering banget kesiangan.. soalnya..”
“Soalnya kamu belajar di rumah tante mu terus?” Sela ku, tapi sungguh
aku gak bermaksud nyela penjelasan Vanya, tapi aku bener-bener pengen
ngungkapin apa yg ada dipikiranku sekarang. Vanya keliatan kaget denger
aku ngomong gitu.
“Maaf.. aku gak maksud gitu..” Kataku nyesel.
Vanya POV
HOREEE!! Hari ini aku latihan! Walaupun agak nervous, aku harus bisa!
Hari ini, liam jemput aku, kami jalan kaki ke tempat ekskul tinju itu.
Di perjalanan aku diem, liam juga. Kami gandengan tangan. :3 Aku lagi
mikirin mau buka topik pembicaraan apa biar gak ada suasana kayak baru
kenal gini.
“Vanya..” Tiba-tiba liam manggil aku. Wah, aku gak harus mikirin mau bicarain apa lagi karena liam udah manggil aku duluan. ;)
“Iya? Ada apa?” Tanya ku sama Liam, oiya kami masih gandengan tangan. ;)
“Aku boleh Tanya sesuatu?” Kata Liam yg keliatan ragu. Liam mau nanya?
Aduhh nanya apa ya? Mudah-mudahan gak mengenai ‘kenapa aku jarang masuk
sekolah?’
“Iya boleh..” Kataku sambil harap harap cemas.
“Hem… kenapa kamu jarang masuk sekolah akhir-akhir ini?” Tanya Liam
dengan hati-hati. DUG!! Benerkan pemirsahh!! Liam nanya gitu.
“Hahahaa…” Oke, sekarang aku jadi orang gak jelas, ditanya malah ketawa._.
“Vanya..?” Panggil Liam, yg memberi kode agar aku menjawab pertanyaannya.
“Eh.. Iya, enggak aku tuh sering banget kesiangan.. soalnya..” Jelasku lagi nyari-nyari alesan yg masuk akal. Tapi..
“Soalnya kamu belajar di rumah tante mu terus?” Sela Liam, pas aku mau ngejelasin, aku kaget jawaban liam kayak gitu.
“Maaf.. aku gak maksud gitu..” Lanjutnya minta maaf
sama aku.
“Iya, gpp kali. Iya, aku jarang sekolah gara-gara nginep di rumah tante terus..” Kataku berusaha untuk se relax mungkin.
“Kenapa belajarnya harus sama tante kamu? Kan ada aku di deket kamu,
kenapa gak sama aku aja?” Tanya liam, menuntut minta penjelasan sama
aku. Aduh aku harus jawab apa ya.
“Kalo kamu gak mau jujur sekarang gpp, aku masih nanti jawaban kamu
kok,” Kata Liam sambil senyum dan genggam tanganku lebih erat lagi :3
“Makasi..” Kataku lembut.
Liam POV
Vanya daritadi aku Tanya jawabannya aneh terus. Bikin kepo ._.
“Liam,kira-kira aku bisa gak ya?” tiba-tiba vanya nanya gitu ke aku, aku bingung._.
“Bisa apa Vanya?”
“Ya, itu latihan, aku takut seniornya kan temen kamu, jangan-jangan galak nantinya,” Kata Vanya khawatir,
Aku tersenyum dan ngerangkul vanya,
“Take it easy baby..”
“Kamu manggil aku beb?” Tanya vanya, sambil menghentikan langkahnya dan menatap aku lekat. :3
“Iya.. sayang..” eh aku kelepasan..
Author POV
Biar aku jelasin ya ;) jadi selama beberapa bulan bersahabat dekat
dengan Vanya, si Liam mulai menyukai Vanya, karena suatu kejadian yg
mereka alamin, yaitu pas liam lagi upacara disekolah, liam gak sarapan
dan gak makan dari semalem, eh liam pingsan, pas itu Vanya bawa Liam ke
UKS dan nemenin liam disana. Ternyata Liam gak sadarkan diri sampe bel
pulang sekolah berbunyi. Vanya panik dan menelpon mamanya, dan liam pun
dibawa kerumah sakit. Kata dokter ginjal liam yang satu gak berfungsi,
gara-gara liam sering kecapean ._. jadi ginjalnya harus dipotong agar
gak mempengaruhi kondisinya, tapi liam harus dijaga penuh tentang
kondisinya setelah pemotongan ginjal. Vanya hanya bisa menangis. Setelah
liam dioperasi, Vanya menunggui liam dirumah sakit seminggu lebih, dia
rela ketinggalan pelajaran demi Liam. Mamanya Vanya juga ngijinin vanya
untuk nemenin liam. Liam kagum banget sama vanya, padahal liam berusaha
bikin vanya marah kayak misalnya, liam gak mau makan, liam mecahin
gelas, liam ngeberantakin barang-barang di kamar rumah sakit itu, supaya
Vanya kesel dan pulang, karena liam gak mau ngerepotin vanya. Tapi
vanya tau maksud liam dan dia berusaha untuk sabar dan gak nyerah sampe
liam sembuh vanya tetep stay beside liam ;). Disitulah perasaan liam
mulai berkembang, perasaan cintanya sama Vanya mulai tumbuh, rasa
sayangnya sama Vanya semakin lebih.. lebih.. Sepertinya vanya juga punya
rasa yang sama. Tapi mereka belm pernah saling mengucap cinta. Mereka
hanya menjalani persahabatan.
Liam POV
Aduh.. kelepasan aku bilang sayang, kataku dalam hati sambil membekap
mulutku. Vanya menatapku heran dan langsung berjalan meninggalkan ku,
aku bingung. Apa dia marah aku panggil sayang? Lalu aku buru-buru
menyusulnya. Aku menarik tangannya dan dia menoleh.
“Kamu marah?”
“....”
“Jawab dong Vanya??” Kataku semakin tak sabaran..
“Aku...”
“Aku? Apa vanya? Apa maksud kamu?” Tanyaku yg udah muali kepo banget, takut-takut Vanya marah juga sih.
“Aku seneng malahan kamu panggil sayang..” Kata vanya dengan polosnya, ya ampun.. Aku kira dia marah._.
“Hahahaha..” tawaku meledak.
“Kok malah ketawa Liam._.?” Tanya Vanya sambil cemberut, lucu banget deh :3
“Gak, udah yuk ke tempat latihan ntar kita terlambat lagi ;)” Elak ku,
aku gak mau Vanya nanya lebih lanjut tentang percakapan kita tadi.
“Oke, lets go ”
Kami latihan bareng temen-temen ku, Harry, Zayn, Louis, Niall dll.. gak
nyangka si Vanya cepet banget akrab sama senior disini ^^ aku seneng
kalo dia seneng. Aku ngajarin semua gerakan yang aku tau ke Vanya dan
dia cepet tanggap, dia bilang aku baik hati :D .
*Saat sedang break time_*
Tiba-tiba Zayn menghampiriku..
“Liam, Vanya pacar kamu?”
Aku berpikir sebentar dan geleng, zayn nampak bingung, mungkin karena dia liat keakraban aku sama
vanya kayak pacaran kali ya ._.
“Dia sahabatku....” Jawabku datar
“Tapi.. Aku mencintainya, zayn..” Lirihku
“Kenapa gak nyatain perasaan kamu aja, Tanya deh dia punya perasaan yg sama gak sama kamu?” Nasehat Zayn pada ku.
“Aku gak tau.. harus gimana?” Jawabku pasrah, karena aku tau Vanya gak
bakalan punya rasa lebih buat aku. Lebih dari seorang sahabat? Mana
mungkin!
“Vanya juga cinta sama kamu..” Kata Zayn sambil natap aku.
“Kata siapa?” Tanyaku terkejut!
“Liat aja nih!” Kata zayn mengulurkan sebuah buku berwarna putih dan
sampulnya ditempel foto aku dan vanya yg lagi di menara eiffel liburan
kemarin. Setelah memberikan itu, Zayn bilang dia mau pulang, karena
latihan telah usai. Lalu, Aku buka buku itu dan ternyata itu berisi
tentang kisah Vanya, benar saja dia mencintaiku. Aku bisa menebak dia
mencintaiku lewat sebuah puisi yg ada di belakang buku, yg ditempel
beserta amplop bergambar teddy bear.
Tuhan…
Boleh gak aku mencintai sahabatku sendiri?
Boleh ya?
Tuhan…
Aku pengen hidupku lebih indah dengan adanya seorang kekasih..
Tapi..
Umurku udah gak lama lagi..
Apa mungkin, dia mencintaiku juga?
Tuhan..
Aku takut dia bikin aku patah hati..
Tuhan..
Jangan biarin air mata ini buat kesedihan ya?
Vanya gak mau Liam tau yg sebenernya..
Tentang perasaan Vanya sama Liam,
Juga penyakit Vanya :’)
Vanya gak mau Liam khawatir..
Tuhan..
Jaga rahasia hati ku ya..
Aku tau, Tuhan sayang sama aku…
Makanya aku dikasih penyakit ini,
Aku tau,
Semua yg Tuhan rencanain itu, baik buat aku,
Tuhan..
Biarin aja, Vanya sakit..
Tapi, aku bersyukur..
Hampir di setiap hariku,
Tuhan berikan aku kebahagiaan..
Hanya dengan bersamanya..
Biarpun aku gak bisa memiliki dia seutuhnya,
Aku udah seneng, bisa di dekatnya..
Diperhatiin..
Pokoknya Liam itu baik hati banget, Tuhan.
Tuhan..
Makasi buat segalanya..
Vanya Andlerson
Gak kerasa, aku mulai menitikkan air mata. Ternyata aku salah besar
tentang menebak perasaan seseorang kepadaku. Aku jadi membenci diriku
sendiri karena telah menggantungkan perasaan ku, padahal Vanya juga
menggantungkan perasaannya padaku, aku tau, pasti Vanya sakit hati
banget gara-gara dia kira, aku hanya nganggep dia sebagai sahabat,
padahal nggak!
Aku membolak balik halamannya, aku menemukan sebuah rahasia!! Ini tentang diri Vanya yg sebenarnya, ASTAGA!!!
Tuhan..
Hari ini, aku mau curahin semuanya sama Tuhan lagi,
Hari ini, aku ngejalanin tranfusi darah lagi,..
Tuhan.. Badan ku semakin kurus, aku harap liam gak pernah nyadari itu..
Pembengkakan limpa dalam tubuhku juga mulai bertambah,
Wajahku semakin pucat,
Tapi aku sungguh mensyukuri, bahwa Tuhan, gak ngebiarin liam tau soal ini..
Tuhan.. aku capek harus tranfusi darah selama 10 jam, walau untuk 5 hari sekali..
Tapi, apa yg bisa ku perbuat?
Hanya berdo’a dan berusaha bertahan, dan mensyukuri nikmat yg Tuhan berikan buat aku..
Tuhan.. Kenapa penyakit ini muncul di hidupku?
Di saat aku mulai menyukai kehidupan ku?
Di saat aku merasakan bunga cinta di hatiku berkembang?
Di saat orang sebaik Liam hadir di kehidupanku?
Kenapa Tuhan??
Tuhan..
Aku mencintai Liam..
Tapi aku tau, aku gak pantas buat dia..
Aku tau itu, Tuhan..
Tuhan, kenapa aku gak punya kakak / adik?
Kalo aku punya slaah satu,
Mungkin mereka bisa menyumbangkan sumsum tulang belakangnya untukku..
Tapi kenapa aku harus jadi anak satu-satunya??
Kenapa??
Aku, minta maaf ..
Karena aku sering mengeluh tuhan..
Maafin aku..
Tuhan..
Aku udah pernah janji sama Mom..
Bahwa aku gak akan nyerah..
Aku gak takut apapun itu..
Terutama penyakitku yg mematikan ini..
Semua yg Tuhan berikan buat aku,..
Semua cobaan yg mengerikan,
Aku gak takut itu..
Sama sekali gak takut..
Aku Vanya, Tuhan..
Aku kuat dan gak takut oleh apapun..
Seperti yg di bilang mom sewaktu aku di vonis mengidap penyakit Thalassaemia ;)
Vanya Andlerson
ASTAGA!!! OH MY GOD!! Seburuk itukah aku? Sebodoh itukah aku? Sehingga
tidak mengetahui sahabatku sendiri yg sedang sakit?? Seburuk itukah
keadaannya?? Tuhannn…. Maafkan aku.. ._.
Vanya kenapa kamu gak pernah bilang ini semua sama aku?? Kenapa kamu
anggep ini semua cukup kamu yg rasakan? Vanya aku sahabat mu!! Hargai
aku… Vanya, kenapa kamu tega mendam perasaan itu? Cinta? Aku.. Oh..
baiklah, mungkin aku juga salah, maafin aku Vanya..
“Kamu nemuin itu dimana, Liam?” Kata vanya yg tiba-tiba duduk
disampingku, aku buru-buru hapus air mataku, aku kira dia akan marah
jika aku membaca seluruh isinya, tapi, dia tidak menampakan ekspresi
marah. Melainkan dia menampakkan ekspresi wajah datar saja. Dia
tersenyum.
“Jadi kamu udah tau semuanya?” tanyanya padaku, aku hanya ngangguk.
“Maafin aku liam, aku salah ya cinta sama kamu? Aku juga tadinya gak
bakalan mau kamu tau, tapi buku itu hilang dan pas aku tadi nyari,
tau-tau kamu lagi baca isinya, aku kiira kamu yg ambil, ternyata zayn yg
nemuin buku itu..” Kata Vanya menyesal,
“Vanya, kenapa kamu nyimpen semua ini sendiri?? Kenapa??” Tanya ku,
Vanya Cuma menitikan air mata. Aku menggenggam tangannya erat seerat
mungkin! Seakan aku gak mau kehilangan dia.
“Vanya, kamu harus tau yaa.. beberapa bulan yg lalu, aku jatuh cinta
sama kamu, tapi aku kira kamu gak cinta sama aku, kamu hanya menganggap
aku sahabat, tapi nyatanya, kita punya perasaan yg sama, so.. would you
be my girlfriend?” Kataku langsung to the point setelah selesai
menjelaskan. Vanya hanya diam, aku degdeg an menanti jawabannya..
Tiba-tiba dia melompat dan memelukku,
“Of course, my baby Liam..” Kata vanya sambil memelukku erat..
“Thanks my angel.. mwaah” Kataku mengecup kening Vanya.
Lalu kami memutuskan untuk pulang, aku mampir kerumah Vanya, aku disuruh
tante rini kekamarnya Vanya._. pas aku masuk, ada tulisan gede kayak
poster dan gambarnya aku sama vanya dan disebelahnya ada tulisan “Suatu
saat Liam itu pemilik hatiku.” Aku speechless.. aku mematung, vanya
memelukku dari belakang.
“Aku udah punya poster itu dari pertama kita ngejalanin hubungan sahabat saat pulang dari pantai.. kamu inget?”
Aku tersenyum dan ngejawab.
“Aku inget.. baby..”
Kami saling pelukan..
Dalam hatiku berdo’a untuk Vanya..
Tuhan.. Hati kecilku kagum sama Vanya,
Dia seorang wanita yg hebat! Dia gak pernah takut oleh apa yg di deritanya,
Sekalipun itu mendekati maut!
Tuhan.. Biarlah Vanya merasakan kebahagiaan yg setimpal untuk mengimbangi penderitaannya selama ini..
Ku mohon..
Vanya POV
Tuhan..
Terima kasih, atas segalanya..
Terbalaslah sudah penderitaan ku ini dengan semua yg Tuhan berikan hari ini..
Aku bahagia..
Walau untuk sementara ..
Aku janji,..
Aku tetap jadi Vanya yg kuat..
Vanya yg gak takut oleh apapun..
Meskipun itu maut ;)
-THE END-
Pesan moral yang dapat diambil dari cerita diatas :
1). Belajarlah untuk berbuat baik kepada semua orang . Manfaatkan pula
ilmu yang kita miliki untuk berbuat kebaikan dan berguna untuk orang
banyak. Sebab, dengan berbuat hal yang baik, kita kan menuai hasil yang
baik pula.
2). Kejujuran akan mendatangkan kebaikan.
Maaf ya ceritanya kurang bagus. Terus kalo ada pengetikan kata yang salah, dimaafin ya authornya ;)
Give me your comment!