I'm Taken with Zayn
WRITER WANNABE HERE :)


Senin, 08 Oktober 2012

HLS Part 1 - Author by @nabilla541


“Morning, tante..” Kataku sembari duduk di meja makan yang super duper besar dengan 16 kursi meja makan, padahal aku hanya tinggal berdua dengan tante Evi, entah kenapa tante Evi lebih memilih membeli prabot rumah tangga yang serba berlebihan, padahal aku hanya tinggal berdua. Apalagi kamarku eum.. bisa dibilang udah seperti sebuah Hotel, serba mewah, tapi aku tidak terlalu menyukai semua ini, karena ini sudah terlalu berlebihan, tapi, bagaimanapun juga aku tidak berhak mengatur tante Evi soal barang-barang yang akan dia beli, karena aku tau, tante Evi seperti ini, karena ingin membuat aku betah dirumah dan bahagia, walau tanpa asal-usul orang tua yang seringkali membuat aku sakit kepala.
“Morning, lekas makan sarapan kamu, nanti kamu terlambat, Del.” Kata tante Evi, sambil berdiri dan mengambilkan aku segelas susu.
“Oke, aku udah selesai, aku berangkat sekolah dulu ya,tante.” Kataku dan mencium tangan tante Evi, lalu memberi salam dan aku berangkat. Aku langsung berjalan keluar rumah, ya perlu kalian tau, rumahku udah kayak istana presiden di Indonesia, mungkin lebih malah, makanya untuk sampai ke pintu luar, aku membutuhkan waktu. Belum lagi aku harus melewati taman depan rumahku, aduh, untung saja aku sudah terbiasa dari kecil, kalau tidak aku bisa pingsan nih. Didepan gerbang rumahku sudah ada bus decker berwarna kuning dengan tulisan hitam ‘Galaxy Senior High School’  , ya, itu bus sekolahku, bus tingkat dua yang sering disebut bus decker sama aku, gak tau deh kalo temen-temen ku bilangnya apa. Aku langsung masuk kedalam bus itu, dan aku duduk dimana saja, akhirnya gak ada bangku yang kosong, semua terisi oleh 1 orang ada yang 2 orang, terpaksa pagi ini aku harus duduk berdua dengan salah satu dari mereka. Akhirnya, aku memilih duduk dengan anak laki-laki kayaknya dia jutek, tapi masa bodoh lah, yang penting gak duduk sama anak-anak perempuan yang centil-centil itu. Saat aku duduk dia natap aku sebentar lalu berpaling, dia nggak nyapa aku sama sekali, aku lihat dia sedang mendengarkan musik rupanya, lewat earphone berwarna coklat bermerek Sony. Aku sih gak ambil pusing, aku baca aja buku drama ku, ya karena hari ini aku ada tes kemampuan berakting, aku memang mengambil kelas drama, jadi aku harus dapatkan nilai yang memuaskan supaya tante Evi senang.
@ GalaxySHS
      Aku lari terburu-buru, ya, aku lupa hari ini aku ada janji sama sahabat ku, Amara, aku janji untuk mengajarinya bermain piano pagi ini, sebelum kelas drama dimulai. Aku berada dilantai dasar, sedangkan TFF ada dilantai 1, ya kalian harus tau TFF itu Time For Fun, disitu semua ada, mau kolam renang,lapangan, ruang musik, internet, wifi, kantin, aula untuk drama juga disitu, pokoknya semua yang untuk hiburan ada disitu. Saking kencengnya lari aku gak bisa berhenti mendadak saat berbelok untuk naik lift, dan aku nabrak, aduh aku nabrak perempuan, dan itu Jesica, senior cheerleaders di Galaxy SHS. Dia sangat ‘Famous’ di Galaxy SHS ini. “Aduh, i’m sorry, i’m really-really sorry,Sist..” Kataku sambil maap-maap sama Jesica, tapi aneh, aneh banget! Biasanya kalo ada yang nabrak mau sengaja atau enggak, dia langsung ngehina orang tersebut, tapi dia sama aku? Malah bantuin beresin buku aku, dia ngasih buku ku setelah selesai membantu membereskannya, aku malah bengong natap dia, dia tersenyum dan bilang.
“Hellooo... any body out there?? Hahah..” Tawanya meledak terlihat gigi nya yang rapi, putih cemerlang dan di behel dengan warna hijau muda.
“Eh,, eum.. thank you, Sist, i’m sorry oke?” Kataku sambil mengambil buku dari uluran tangannya yang mulus sekali. Dia senyum lagi, aduh suatu kebanggaan deh ada Senior yang sangat famous nyapa aku dan senyum sama ku.
“No problem, are you Shidelia?” Katanya sambil berdiri, aku pun ikut berdiri, aku mengulurkan tangan, sebenarnya sih ragu untuk ngulurin tangan ke dia, takut dia ngabaikan. Tapi enggak! Dia nyambut tangan aku!
“Yeah, are you Sist Jesica?” Kataku bertanya balik.
“Of course yes! “ Katanya sambil melepaskan jabatan tangannya sama aku. Dia senyum, aku jugalah.
“Eum.. maaf aku harus pergi, aku ada kelas pagi ini, see you next time!” Katanya dan langsung melenggang pergi. Aku diam aja, yaiyalah, orang aku lagi aneh, kenapa dia bisa ngomong B.Indonesia?? masa iya dia orang Indonesia? Ah, udahlah, eh, aku lupa, AMARA!! Aku langsung lari lagi dan naik lift. Akhirnya sampai dilantai 1, aku keruang musik dan pas masuk ada Amara, dia ngeliat aku, aku senyum.
“You come late,Del..” Katanya sambil menekan tuts-tuts piano, oiya, Amara itu asal Indonesia juga, banyak banget loh mahasiswa dan mahasiswi dari Indonesia disini yang pinter-pinter. 
“Sorry,Mar..” Kataku sambil duduk disebelahnya, dia senyum.
“Yasudah, mari ajari aku.” Katanya memulai memainkan piano dan aku mengajarinya.
‘It’s time to go to class, first time for all classes.’
Jam pertama udah dimulai, aku cepat-cepat membereskan buku dan berjalan ke aula drama, diikuti sama Amara, ya, dia juga mengambil kelas yang sama denganku. Aku sedikit berlari kecil karena takut Mr. Rony datang duluan dibanding aku, heum.. bisa-bisa aku gak dibolehin untuk mengikuti audisi pemilihan peran dalam drama ‘Snow White’ untuk perlombaan tingkat daerah. Saat aku dekat pintu aku melihat diseberang ada Mr. Rony, aku dan Amara langsung buru- buru masuk kedalam aula yang besarnya aduh, gak kebayang deh. Disana udah ramai, ya gak bisa dibilang ramai sih sebenarnya, karena setiap kelas hanya dibatasi 20 orang, karena kalo kebanyakan murid, itu namanya bukan sekolah ternama kalo di Singapura. Mr. Rony pun datang.
“Good morning, students!” sapanya sambil berjalan keatas panggung, ya, diaula ini memang ada panggungnya.
“Good morning, Sher!” Jawab semuanya serempak.
“Oke, today, give me your act and i will give you cast!” kata Mr.Rony mengumumkan, aku jadi dag-dig-dug jikalau tiba giliranku. Nama demi nama terpanggil satu per satu, semakin lama- semakin dekat giliranku untuk berakting diatas panggung. Nama ku berada pada no. Absen ke 17 ya.. karena insial namaku ‘W’ coba aja insial nama ku ‘A’ pasti bisa-bisa aku pertama. Karena dikelas ku yang berinsial ‘A’ hanya Amara Ravellza Swan. Sedangkan yang lainnya, beragam ada yang berinsial ‘B’ eum,, mungkin di Indonesia menurutku jarang siswa/siswi yang berinsial ‘B’ paling banyak ‘A’ dan ‘M’ ‘S’ mungkin ‘R’ juga. Kalo di kelas drama, menurut ku di sini lebih banyak mahasiswa/siswi yang berinsial ‘B’ seperti Berlin Rovan Anderson, Betty Alendro Alfhatz, Billy Jam Campbell, dll. Juga ada yang berinsial ‘E’ Enderson Mark Terx, Evanando James Woart, Elliana Marrie Jenson, dll. Nama ku juga mirip-mirip nama orang bule ya? Iya, soalnya Tante sengaja memberi nama dengan 3 kata yang nama belakangnya tersangkut marga keluarga ku, dan setau aku, di negara barat, nama yang berada ditengah itu nama Ibu dan yang dibelakang adalah nama daripada Ayah/marga Ayah. Tapi tante Evi gak ngasih tau aku, namaku itu terdiri dari nama ayah dan ibu atau bukan, aku juga gak pernah tanya, kayaknya aku udah nganggep tante Evi itu orang tua ku sendiri, walau tanpa seorang ayah.
“Mrs.Madison.” terdengar lantang suara tersebut memanggil nama ku, semua mata tertuju padaku, oh.. sekarang giliranku rupanya, dengan mengumpulkan segenap keberanian aku menuju keatas panggung dan mengangguk tanda bahwa aku sudah siap untuk di tes kemampuan berakting.
“So.. what do you want to casting?”
“All of cast, especially Snow White!” Kataku bersemangat, Mr.Rony mengangguk lalu terdengar bunyi pintu terbuka, aku pun menoleh kearah pintu tersebut tak terkecuali semua teman-temanku, ku lihat, seorang laki-laki dengan rambut curly, dia masuk dan Mr.Rony berdiri, menyambut anak itu.
“I’m sorry Mr.Rony, i come late.” Katanya meminta maaf sama Mr.Rony.
“It’s okay, it’s okay, i forgive you.” Katanya sambil tersenyum ke laki-laki itu. Lalu Mr.Rony berdiri.
“Okay, Attention please, this is Harry Styles, he’s new here, and Harry, Now introduce yourself.”  Kata Mr.Rony, Harry pun mengangguk dan naik keatas panggung.
“Hello,guys! I’m Harry Edward Styles from London, so i’m british. Btw all of you can be friendly with me, i a good friend. I can be your Best friend or more, if you care about me and.. i love peace. Thank’s.” Kata Harry menyudahi perkenalannya, semuanya bertepuk tangan dia tersenyum dan senyumannya disertai lesung pipi. Sepertinya perempuan-perempuan dikelas ku menyukai Harry.
“So, Harry you can be prince in the drama snow white, with one of all students female in this class.” Mr.Rony menjelaskan, Harry terlihat senang karena baru pertama masuk dia langsung dapet peran sebagai pangeran di drama snow white, aku juga kagum sama dia, walau aku gak pernah liat kemampuan beraktingnya.
“So, who first? Who want?” Katanya sambil berdiri menatap anak-anak perempuan satu persatu. :3
“They were all done, only she is !” Kata Mr.Rony menjelaskan, sambil menunjuk diriku, Harry hanya mengangguk. Tapi sejurus kemudian, Harry menatap aku tajam, aduh, aku jadi takut mau akting sama Harry, bener-bener tajam sekali dia natap mataku, seolah dia membenci ku atau apalah, seolah dia pernah dekat denganku lalu membenci ku dan melupakan ku, sejenak ku perhatikan Harry tampak berpikir.
“Okay, are you ready for act with me girl? Ouh, i think, first i asked, what’s your name,girl?” Tanya Harry pada ku sambil tersenyum.
‘Ini orang aneh sekali.’ batinku.
”Of course yes! Eum.. my name’s Shidelia James Madison, call me Delia or Del.”
“Okay, let’s, show acting us to all men.” Kata Harry, aku Cuma mengangguk tanda setuju dan....



Kira-kira gimana ya drama Shidelia sama Harry? apa mereka bakalan jadi pasangan? Tunggu dipart 2 ya guys!!

HLS - "Your Fault, Make Me Falling in Love With You" Prolog by @RealNabilla_


HLS- Your fault, make me falling in love with you.
Prolog :
Hai, nama ku Shidelia James Madison. Panggil saja aku Shidelia atau Dela, aku berasal dari Indonesia, aku anak satu-satunya, tetapi aku tidak tau dimana dan seperti apa orang tua ku. Selama ini, aku tinggal bersama tante Evi di Singapura, tante Evi pun tak pernah bercerita tentang keberadaan orang tua ku, aku sih sebenarnya ingin mengetahuinya, tentu jika kalian menjadi aku, kalian juga ingin tau tentang orang tua kalian kan? Tapi aku selalu mengurungkan niat ku untuk bertanya tentang orang tua ku pada Tante Evi. Selama ini aku sekolah di Galaxy Senior High School. Aku loncat 2 kelas sekaligus dalam tes ini, sebenarnya aku sebagai murid di Galaxy VHS ini,tapi, karena loncat 2 kelas, jadi aku langsung dipindahkan menjadi mahasiswi di Galaxy SHS, Perlu kalian tau, aku ikut tes semacam itu bukan karena aku orang tidak mampu, tapi, tante bilang apa salahnya mencoba beasiswa, akhirnya aku beruntung dan loncat 2 th sekaligus, pada umurku yang 17 tahun ini. Soal kehidupan, awalnya baik-baik saja, tapi setelah suatu kejadian, aku merasakan berbagai penderitaan, aku merasakan bagaimana rasanya di pukul, di tampar, di usir, di hina, semuanya, aku rasakan. Soal kisah cintaku, tidak beruntung, aku merasakan rasanya dikhianati, diberikan harapan palsu, dimainkan, diduakan, aku merasa teraniaya dengan semua ini, sampai aku meninggalkan semuanya, tanpa bekal apapun.

Minggu, 07 Oktober 2012

Cerpen - "Ibu Aku Menyesal" by @RealNabilla_

April 2012


                Sejuknya embun pagi telah terasa, merasuk kedalam paru-paru, keluar dengan lancarnya. Matahari belum nampak sempurna, angin semilir memainkan ujung-ujung rambutku, menari-nari diterpa angin. Sepagi ini seorang perempuan yang hanya ku miliki dikehidupan ini, yang selalu ada untukku, dari aku belum mengerti apa itu angin, apa itu bumi, sedari aku belum mengenal dunia, dia sudah berada disamping ku. Bekerja demi menghidupi aku dan dirinya, tak mengenal seberapa lelah dirinya, tak peduli sesakit apapun tubuhnya, ia tetap bekerja dan terus bekerja, tak menghiraukan seberapa upah yang ia terima, dalam benak dan pikirannya hanyalah rezeki yang halal. Tak memperdulikan resiko pekerjaan itu untuk dirinya. Dia hanya berpikir tentang masa depanku, cita-cita ku, kebahagiaan ku. Terkadang, akulah yang terlewat tega, aku tak pernah membuatnya bangga padaku, senang karena prestasiku. Aku hanya menodai jasa murni, tulus dan ikhlas darinya. Tapi, ia selalu berusaha, bekerja keras demi aku. Jasanya takkan bisa terbalaskan oleh apapun. Ialah penerang bagiku, ia inspirasiku, ia seorang yang paling berjasa dikehidupan duniawi ku. Namun, pengakuanku sudah terbilang terlambat, waktu yang kumiliki dulu, hanya untuk mengecewakannya, marah padanya, selalu menuntut, tak pernah mensyukuri apa yang telah ia usahakan untuk diriku, tak berterima kasih atas pengorbanannya selama 18 tahun ini, aku baru menyadari akan hal itu saat ini, saat ia sudah tak dapat melihat indahnya surga dunia, teknologi yang maju, raut wajahku saat menginjak usia 18 tahun untuk beranjak dewasa. Terlambatlah sudah, penyesalanku, semuanya, semua penyesalanku terhadapnya sudah terlambat. Penyesalanku terhadap Ibu ku sudah terlambat, ya, dialah Ibu ku, dia Ibu tercinta ku.
31 Desember 2010
                Malam ini aku hanya merutuki diriku, nasibku, aku hanya mengurung diri dikamar yang lebih layak aku sebut sebagai gubuk kumuh. Disanalah tempatku tidur, tempatku meratapi nasib burukku, tempatku untuk meluapkan semua amarahku yang tak dapat ku bendung lagi. Aku marah pada ibu ku, dia mengingkari janjinya pada Ayah.
“Nak, bukalah pintunya, kamu marah sama Ibu? Maafkan Ibu, nak.” Kata seseorang dari balik pintu kamarku, dan aku sudah mengetahuinya, si empunya suara adalah Ibu.
“Aku takkan membuka pintunya, sampai Ibu membelikanku baju dan sepatu baru itu!” Kataku lantang sambil menatap wajahku didepan cermin.
“Ibu mohon, nak. Ibu memang tidak bisa membahagiakan kamu, tapi tolonglah, mengerti keadaan kita. Kamu kan tau sendiri, Ibu bekerja dengan upah yang hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah kamu.” Kata Ibu menjelaskan, Ibu masih tetap dibalik pintu kamarku, ia masih menunggu respon dariku.
“Iya, sejak Ayah tiada, Ibu memang tidak pernah mebuat Laras bahagia. Mlah, Laras merasa tersiksa!” Saat aku menjawab, sepertinya Ibu sudah tidak ada dibalik pintu kamarku. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur saja. Aku terlelap diatas sebuah ranjang dengan kasur lusuh, demikian juga dengan baju ku yang tak kalah lusuhnya dengan kasur yang berumur belasan tahun itu.
(---0---)
‘Tok-tok-tok’ terdengar ketukan pintu pada alat pendengaranku, namun aku mengacuhkan suara ketukan tersebut, aku tak perduli siapapun yang mengetuk pintu itu, aku tetap mengabaikannya. Lama-kelamaan ketukan tersebut semakin keras dan membuat telingaku berdengung, aku menutup saluran pendengaranku dengan bantal tipis yang sepertinya tak layak untuk disebut sebagai bantal. Dan sekarang aku mendengar samar-samar suara seseorang yang mengundang namaku, sepertinya dengan suara yang terbilang seperti speaker musholla, terdengar remang-remang karena aku menutup telingaku. Akhirnya dengan sangat malas aku membuka pintu, bagaikan berjalan dengan kaki yang terbebqani oleh beban yang sangatlah tak pantas untuk ku pikul. Saat aku membuka pintu, aku baru sadar bahwa si empunya suara tadi adalah seorang laki-laki.
“Ada apa?” Tanayaku dengan nada yang datar. Manik hitamnya menatapku tajam.
“Keterlaluan, Ibu mu sakit dan sekarang dia dirumah sakit!” Kata seorang si empunya suara tadi sambil memarahiku. Aku tidak terkejut.
“Lalu, aku harus apa?” kataku masih tidak perduli, dia menarik tanganku keluar dari kamar.
“Eh berani sekali kau ini!!” Kataku sambil melepasakan genggaman tangannya.
“Kau tak perduli penyakit yang diderita ibumu?” Katanya, aku hanya diam, dia terlihat tidak sabaran melihat aku dan berkata.
“Jawab!!”
“Ya, akub tak mau tau! Karena kau sudah mengetahuinya, paling-paling Ibu hanya sakit biasa.” Kataku dengan santainya,
“Benar-benar kau ini.” Katanya dan berlalu pergi meninggalkan ku. Paman ku sudah pergi dan aku kembali kedalam kamar. Ya, si empunya suara tadi adalah paman ku. Kakak daripada ibu ku, yang berprofesi sebagai petani.
(---0---)
sudah 2 hari Ibu dirumah sakit, dan aku mulai merasa bahwa sakit yang diderita ibu bukanlah sakit biasa. Tapi kata paman andre, hari ini ibu pulang dari rumah sakit. Beberapa hari telah berlalu, kulihat keadaan ibu dirumah ataupun bekerja amat sangat berbeda dari sebelumnya, ibu sering batuk-batuk, mimisan, dan pingsan secara tiba-tiba. Bodohnya, aku tidak pernah menanyakan hal itu pada Ibu. Aku hanya bersikap seolah tidak perduli. Terkadang aku juga masih marah pada Ibu jika ibu tak bisa memenuhi keinginanku.
21 April 2021 { 21.00 }
                Hari demi hari yang selalu kuanggap hari yang buruk, terlewati bersama Ibu ku yang selalu sakit-sakitan. Dia masih bekerja seperti dulu. Aku sudah jarang sekolah, karena permasalahan biaya. Besok adalah hari ulang tahunku, aku meminta uang pada ibu untuk mentraktir teman-teman dekatku, teman-teman yang 1 kubu denganku,
“Bu, pokoknya besok uangnya harus sudah ada!” kataku saat aku dan Ibu sedang makan malam dengan lauk yang sangat sederhana sepiring nasi dan tahu beserta air putih.
“Iya, ibu usahakan ya, nanti.” Kata ibu dan aku melirik ibu sambil berkata.
“Yaudah, gak usah pake diusahakan, bilang aja ibu tak mau memberi uang itu.” Aku mulai marah saat itu.
“Iya, kan kita tidak tau rejeki datangnya kapan.” Kata Ibu lembut padaku.
“Aku benci sama Ibu! Mendingan Laras keluar aja dari gubuk derita ini!” kataku dan pergi keluar rumah, Ibu menyusulku, dan tiba-tiba saja hujan deras mengguyur daerah perkampungan didesa ku. Aku terus berlari dan berlari, tak peduli Ibu engejarku. Saat aku menoleh kebelakang untuk mengatakan sesuatu
(---0---)
21 April 2012 { 21.45 }
                Bau peralatan medis menusuk indera penciumanku, aku mengalami kecelakaan, kaki ku patah dan mata ku tak dapat melihat dunia, hanya gelap dan gelap. Dan sekarang aku diruang operasi. Dokter bilang, ada yang ingin mendonorkan kornea matanya untukku, sungguh mulia orang itu. Beberapa jam aku menjalani operasi hingga akhirnya aku dibawa keruang perawatan. Ibu dan paman Andre ada disana. Ada juga warga sekitar rumahku yang datang, sekedar menjenguk dan memberikan bantuan biaya operasi untuk ku.
(---0---)
21 April 2012 { 24.56 }
                Aku sudah sadar, sekrang dokter akan membuka perban mataku, ya, sebentar lagi aku akan bisa melihat indahnya dunia lagi. Pembukaan perban telah selesai, sekarang perlahan aku membuka kelopak mataku yang terasa lengket. Aku bisa melihat!
“Aku bisa melihat!” Kataku dengan riangnya. Dokter itu melihat pundakku, aku menoleh kearahnya.
“Tidakkah kau ingin tau siapa orang yang rela mengorbankan kornea matanya demi mu?” Tanya dokter itu.
“Tentu saja, dia pastilah orang yang sangat mulia.” Kata ku
“Dialah Ibumu..” Kata dokter itu. Mendengar jawabannya aku terkejut bukan main. Ibu? Dia rela tak dapat melihat dunia demi aku? Ibu ku yang selalu ku kecewakan, ibuku yang selalu ku  maki dengan kata-kata yang tak sepntasnya keluar dari mulutku. Aku menangis, menyesali perbuatanku pada ibu.
“Ibu..” kataku dengan berlinang airmata. Ibu ku memberi seulas senyumnya.
“Ibu, maafkan aku ibu, aku anak yang bodoh! Aku menyesal bu..” Kataku seraya memeluk ibu.
“Jangan bilang kau bodoh, kau anak yang pintar yang pernah ibu miliki. Hanya inilah yang bisa Ibu perbuat, maafkan ibu jika tak pernah membuat kamu bahagia, laras.” Mendengar jawaban ibu, tangisku semakin pecah dalam pelukannya.
“Tidak, Bu, tidak! Ibu adalah orang yang paling mulia, terima kasih,bu. Aku anggap inisebagai hadiah ulang tahun terbaik sepanjang hidupku dari ibu.” Kami saling berpeluk erat.
(---0---)

setelah kejadian tersebut menimpa aku dan ibu ku, aku mulai menyesal dan menyadari betapa mulianya seorang ibu, walaupun penyesalanku terbilang terlambat dan sudah terlanjur, aku akan berusaha membahagiakannya, walau jasanya takkan pernah terbalaskan olehku. Terima kasih Ibu.
I'm Taken with Zayn